alexametrics

Gunakan Sepeda, Veri Sanovri Tempuh 600 Km Demi Mudik ke Palembang

13 Juni 2019, 09:41:06 WIB

JawaPos.com – Berbagai cara ditempuh oleh pemudik untuk berjumpa dengan keluarga di kampung halaman. Potret itu pula yang tampak pada upaya Veri Sanovri, fotografer kantor berita resmi Republik Rakyat Tiongkok Xinhua di Indonesia.

Kecintaannya pada alam, membuat pria kelahiran 1 November 1975 itu terpacu untuk pulang ke kampung halaman dengan cara yang berbeda. Jika orang lain harus berebut tiket mudik dengan berbagai moda transportasi seperti pesawat, bus, dan kereta, Veri tak perlu melakukannya. Di kala isu tiket pesawat mahal, antrean di sejumlah Perusahaan Otobus, hingga penuhnya para pemudik di tiap stasiun, pria yang gemar naik gunung itu justru menikmati perjalanan mudiknya dari Serpong menuju Palembang dengan sepeda.

“Memang salah satunya tiket mahal meski masih Rp 800 ribu sampai 1 jutaan sih ke Palembang. Namun selain itu, saya mudik tahun ini sendirian karena istri enggak bisa ikut mudik. Ada mertua datang ke rumah saya di Serpong, jadi istri harus menemani beliau,” katanya tertawa saat berbincang dengan JawaPos.com, baru-baru ini.

Perjalanan itu ditempuhnya seorang diri sejauh hampir 600 kilometer jauhnya. Veri mengayuh sepedanya selama 4 hari untuk bertemu keluarga di kampung tercinta. Tentu ada suka duka selama perjalanan. Veri punya alasan mengapa dia memilih sepeda untuk mudik.

“Biasanya saya mudik naik mobil setiap tahun, nah tahun ini buat apa naik pesawat karena mudik sendiri. Ngapain juga naik bus. Iseng sajalah naik sepeda menikmati perjalanan,” sambungnya.

Veri mengungkapkan, naik sepeda sudah menjadi bagian dari dirinya selama 2 tahun terakhir. (Facebook)

Suka Duka 4 Hari Perjalanan Serpong-Palembang

Hari Pertama

Ketika itu, H+1 Lebaran, Kamis (6/6), Veri berangkat dari rumahnya di Serpong menuju Palembang. Veri sudah mempersiapkan dan mengecek keamanan sepeda miliknya jenis Surly LHT sebelum mudik.

Peralatan yang dibawa juga lengkap. Mulai perlengkapan tenda atau berkemah, logistik, pakaian, peralatan memasak, dan lainnya. Dia berangkat pukul 05.30 dari Serpong menuju Merak untuk menyebrang laut. Serpong-Merak dengan sepeda ditempuhnya lebih dari 6 jam. Tiba di Merak pukul 14.00, Veri menikmati perjalanannya yang lancar. Sebab saat itu banyak pemudik sudah tiba di kampung halaman.

“Sebelumnya sih rencananya maunya naik sepeda saat balik ke Jakarta biar santai. Sayangnya ekspedisi terlanjur tutup saat saya mau kirim sepeda ke Palembang. Alhasil berangkatnya naik sepeda. Saya memilih Lebaran hari kedua karena jalan pasti sudah lebih lancar. Dan hari pertama Lebaran, saya masih harus masuk kerja liputan memotret suasana salat Idul Fitri,” jelas alumnus Universitas Sriwijaya tersebut.

Tiba di Merak siang hari di kala itu cukup lengang. Hanya butuh waktu 3 jam hingga akhirnya Veri sampai di pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Pukul 17.15 ke luar dari Pelabuhan Bakauheni mendorong Veri masih melanjutkan perjalanannya dengan menggoes sepedanya.

“Saya lanjut goes karena masih sore belum terlalu gelap. Jalan sudah lebih sepi untuk ke arah Kalianda, Lampung. Ketika sudah pukul 19.00, saya memilih istirahat di posko-posko mudik. Saya harus istirahat cukup karena butuh energi untuk menggoes sepeda lagi,” ujarnya.

Veri begitu selektif dalam memilih posko mudik. Dengan berbekal informasi dari para petugas kepolisian, dia mendapatkan beberapa posko mudik yang nyaman. Dia juga berupaya untuk mencari jalur teraman untuk menghindari segala ancaman kriminalitas. Ketika itu dia memilih posko mudik di simpang pintu tol kedua setelah Bakauheni.

“Banyak ngobrol dengan petugas polisi disarankan lebih baik ke sini dan ke situ aja. Malam pertama di perjalanan, saya membuka tenda, memasak, dan beristirahat di sana. Tak lupa selalu laporan ke istri di rumah agar tak khawatir,” ungkapnya tertawa.

Hari Kedua

Hari kedua perjalanannya, tepatnya Jumat (7/6), banyak cerita seru yang dihadapinya. Setelah mengisi energi dan bermalam di posko mudik, Veri berniat melanjutkan perjalanannya. Pukul 08.30 dia berangkat mulai menggoes sepeda lagi. Petugas kepolisian menyarankan jalur-jalur paling aman baginya. Bukan lewat Kalianda tetapi diarahkan ke arah simpang timur, pesisir timur.

Banyak orang yang ditemuinya sepanjang perjalanan untuk memberikan berbagai informasi penting. Siang hari bertepatan salat Jumat, Veri menumpang mandi di masjid. Ketika hari sudah semakin gelap, dia memilih untuk beristirahat lagi mencari posko mudik. Namun akhirnya ia memilih tidur di kantor polantas malam itu. Tempatnya nyaman sehingga tidak pelru mendirikan tenda. Mencari makan pun mudah.

“Disarankan petugas polisi menginapnya di Simpang Randu, masih daerah Lampung, sepanjang 150 kilometer. Mengapa menginap di situ? Karena medan Sumatera berbeda dengan Jawa yang lebih banyak pemukiman. Setelah itu kalau saya lanjutkan, sudah mulai masuk hutan dan perkebunan. Daerah rawan,” tutur Veri.

Hari Ketiga

Melihat matahari sudah mulai bersinar di hari ketiga perjalanannya, Sabtu (8/6), Veri mulai melanjutkan petualangannya lagi. Dia berangkat pukul 07.30 hingga menuju daerah Mesuji Lampung. Veri menggoes sepedanya dan tak terasa sudah pukul 18.00. Dia memilih untuk singgah di posko mudik dekat pintu tol fungsional yang dioperasikan selama arus mudik Lebaran. Pintu tol tersebut dioperasikan dengan sistem buka tutup. Veri berbekal informasi dari para pengendara di jalan, bahwa posko mudik itu paling nyaman. Sebab setelah itu, tak ada posko lainnya sebab sudah masuk daerah rawan.

“Saya selalu tanya posko mudik terakhir yang enak buat menginap di mana. Sebab kalau saya lanjutkan, sudah akan masuk Mesuji Lampung itu daerah rawan. Saya berusaha menghindar dan antisipasi saja ya,” turunya.

Ia pun tak lupa bertanya apakah boleh mendirikan tenda saat di posko mudik. Suasana mudik malam itu dikatakan cukup ramai.

“Saya terbangun dini hari, banyak pemudik dan antrean mobil. Suara anak-anak bermain. Ternyata banyak pemudik yang menunggu sistem buka tutup tol, ternyata seru banget ramai kan. Lalu saya lanjut tidur,” sambungnya.

Hari Keempat

Hari terakhir perjalanannya, Minggu (9/6), Veri langsung bersemangat karena sudah semakin dekat dengan kampung halaman. Dia mengecek jarak tempuh sekitar 170 kilometer lagi untuk bisa sampai ke rumahnya di Sekip Ujung, Palembang. Saat itu Veri menggoes lebih pagi, pukul 06.15.

Semula, Veri tak bercerita dengan keluarganya bahwa dia akan mudik dengan sepeda. Veri mengatakannya ketika sudah naik kapal menuju Bakauheni. Tentunya keluarga terkejut.

“Saya enggak bilang mau naik sepeda. Saya bilang lihat nanti. Ketika keluarga tanya kok belum sampai, barulah saya potret sepeda saat naik kapal. Keluarga kaget wah naik sepeda. Sampai di kampung halaman hari keempat saat jam Magrib, saya langsung bau keringat. Mandi selama perjalanan saya menumpang di rumah warga yang ada sumurnya,” tutur Veri tertawa.

Mengejar Pempek dan Martabak HAR

Bagi yang terinspirasi dengan perjalanan Veri, ternyata itu semua juga dipicu oleh motivasi unik. Di kala semua orang menunggu lezatnya ketupat Lebaran, berbeda dengan Veri. Dia bersemangat pulang kampung dengan sepeda, bukan hanya ingin bertemu keluarga. Akan tetapi sudah menggoda imajinasinya sejak berangkat dari Serpong untuk mengejar pempek khas Palembang dan martabak HAR.

“Saya enggak mikirin ketupat, yang saya kejar itu dan pertama kali wajib harus beli adalah pempek dan martabak HAR. Itu paling enak di Palembang. Martabak HAR itu enak dengan cita rasa kari mirip masakan Timur Tengah. Wah pokoknya semangatnya ingin membeli makanan itu, pulang juga wajib beli oleh-oleh untuk istri,” katanya bersemangat.

Veri merasa, naik sepeda sudah menjadi bagian dari dirinya selama 2 tahun terakhir. Dia juga pernah memiliki perjalanan jarak tempuh yang cukup jauh dengan sepeda. Pada April 2019, dia dan teman-temannya juga pernah melakukan perjalanan dengan sepeda dari Jogjakarta ke Serpong. Sebelum melakukan perjalanan, Veri merasa tak perlu memeriksakan kesehatannya. Dia hanya cukup menikmati perjalanannya dengan suka cita.

“Saya enggak periksa kesehatan ini itu, yang penting saya enjoy perjalanan saya. Di Palembang selama 2 hari, saya kemudian mengirim sepeda lewat ekspedisi. Dan saya pulang ke Serpong naik bus tiba di Jakarta Rabu (12/6) dini hari. Hikmah perjalanan saya, saya jadi banyak menambah teman selama perjalanan dan banya story cerita seru yang menjadi inspirasi untuk saya suatu hari nanti mencari lokasi untuk foto,” tutupnya.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani