alexametrics

Tiket ke Jakarta Lebih Mahal, Mending Rapat di Singapura Saja

13 Januari 2019, 10:06:59 WIB

JawaPos.com – Kendati masih fluktuatif, harga tiket pesawat ke beberapa destinasi kemarin mulai normal. Namun, masih ada beberapa penerbangan yang bertarif tinggi. Calon penumpang harus benar-benar jeli memilih pesawat, jadwal pemesanan, maupun tanggal keberangkatan.

Jawa Pos kemarin memantau fluktuasi harga tiket pesawat di beberapa situs travel online. Harga tiket untuk beberapa penerbangan ke luar negeri ternyata lebih murah daripada dalam negeri. Rute Papua-Kuala Lumpur dengan transit di Jakarta, misalnya. Penerbangan pada 30 Mei dengan pesawat Garuda Indonesia dibanderol Rp 4,3 juta. Yang menarik, jika memesan tiket Papua-Jakarta saja, harganya lebih mahal, yakni Rp 6 juta. Jika mau lebih murah lagi, bisa pesan tiket Papua-Singapura yang transit di Jakarta. Harga tiketnya hanya Rp 3,9 juta atau selisih Rp 2,1 juta.

Dengan kondisi tersebut, calon penumpang dari Papua yang hendak menuju ibu kota bisa mendapatkan tiket yang lebih murah jika memilih penerbangan ke Kuala Lumpur atau Singapura dengan transit di Jakarta. Setelah tiba di Jakarta, langsung saja keluar dari bandara, tidak perlu mengikuti penerbangan lanjutan.

Tiket ke Jakarta Lebih Mahal, Mending Rapat di Singapura Saja
Harga tiket pesawat tujuan penerbangan domestik membuat penumpang pusing. Terutama bagi mereka yang sering berpergian ke Jakarta atau luar kota. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Kenaikan harga tiket juga dirasakan oleh Fauzia Fatchan, karyawati sebuah perusahaan swasta. Perempuan 46 tahun yang tinggal di Katingan, Kalimantan Tengah, itu sering wira-wiri Palangka Raya-Jakarta untuk urusan kantor. “Saya mulai merasakan kenaikan harga tiket itu setelah jatuhnya Lion Air (29 Oktober 2018, Red),” ungkapnya saat dihubungi Jawa Pos kemarin (12/1).

Fauzia sempat mengecek harga tiket Garuda Indonesia yang mencapai Rp 1,8 juta. Padahal, biasanya hanya Rp 1,2 juta. “Awal Desember lalu saya mau upgrade dari Garuda Indonesia kelas ekonomi ke bisnis, kena Rp 3.600.000. Alasannya, sedang peak season,” ungkapnya.

Dia lantas membandingkannya dengan harga tiket rute Palangka Raya-Singapura yang hanya Rp 2 juta. “Kalau seperti ini terus, lebih baik rapat di Singapura saja daripada Jakarta,” tuturnya. Selain itu, dia kini lebih suka mengadakan rapat melalui Skype atau e-mail daripada terbang ke Jakarta. “Saya juga dapat keluhan dari teman-teman PNS. Kalau di Jawa sih enak, bisa naik kereta api,” tuturnya.

VP Corporate Secretary PT Garuda Indonesia M. Ikhsan Rosan mengatakan, Garuda Indonesia Group mulai memberlakukan harga subkelas moderat atau lebih rendah. “Beberapa rute penerbangan yang sudah mulai menunjukkan demand normal tersebut, antara lain, ke Denpasar, Jogjakarta, dan Surabaya. Pada jam-jam tertentu telah memberlakukan harga lebih rendah,” ujarnya.

Bahkan, ada potongan harga yang mencapai 50 persen. Dia mengakui, memang belum semua rute stabil. “Harga tiket penerbangan pada jam tertentu pada rute-rute tersebut variatif, dari harga terendah hingga tertinggi,” ungkapnya.

Mengenai tarif ke Jakarta yang lebih mahal daripada ke luar negeri, Ikhsan mengatakan, ada beberapa penyebab. Antara lain, penerbangan langsung (direct) dan transit akan memengaruhi harga. Apalagi jika transitnya lama, pasti murah. Faktor lain adalah promo. Mungkin masih ada promo ke Kuala Lumpur. Selain itu, Garuda Indonesia masih menerapkan tarif batas atas. “Namun, untuk kepastiannya, saya masih akan konfirmasi dengan bagian terkait,” ucapnya.

Ikhsan menambahkan, penerapan harga mengacu pada supply dan demand. Hal tersebut perlu dilakukan oleh maskapai untuk memaksimalkan tingkat isian pesawat. Dihitung pula biaya selama penerbangan.

Pada bagian lain, kemarin Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menegaskan, kenaikan tarif pesawat masih wajar karena tidak melebihi batas atas. Dia membenarkan, selama ini maskapai melakukan perang tarif untuk memikat konsumen. “Begitu ada yang menaikkan harga, semua ikut naik,” kata Budi. Dia juga menegaskan, setiap tahun ada evaluasi harga tiket. Sempat ada usulan untuk menaikkan tarif batas atas tahun ini. Namun, dia memilih untuk tidak mengambil opsi itu.

“Kita harus take and give. Kondisi airline juga harus dilindungi,” tutur pria asli Palembang tersebut. Dia menyatakan, jika maskapai penerbangan terus melakukan perang harga, bisa dipastikan tidak akan bertahan. Hal tersebut sudah terjadi di beberapa negara. “Saya mengimbau kepada masyarakat supaya memberikan toleransi. Maskapai juga jangan menaikkan (harga, Red) tiket terlalu tinggi,” imbuhnya.

Menurut Budi, salah satu inovasi yang bisa dilakukan untuk menutupi biaya operasional maskapai adalah memberlakukan tarif bagasi. “Barang itu kan menertibkan diri saja. Berapa kilo. Kalau mau kirim banyak, silakan. Tapi, ada cost,” tuturnya. Dia menjelaskan, untuk perjalanan satu jam, idealnya satu penumpang dikenai biaya Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta. “Kalau Jakarta-Jogja itu Rp 450 ribu, ya murah,” ungkapnya.

Avtur Bukan Pemicu Utama

Avtur menjadi salah satu penentu kenaikan harga tiket pesawat. Dalam Peraturan Menteri Perhubungan 14/2016 disebutkan, jika harga avtur lebih dari Rp 9.729 selama tiga bulan berturut-turut, harus ada evaluasi harga tiket.

Namun, pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmi Radhi menjelaskan, harga tiket pesawat naik bukan karena avtur. Menurut dia, naik turunnya harga tiket pesawat kali ini dipengaruhi permintaan (demand) penumpang. Dia menerangkan, struktur harga avtur dipengaruhi harga minyak dunia. Saat ini harga minyak dunia sekitar USD 50 per barel. “Mestinya harga avtur juga turun,” ungkapnya.

Korelasi harga avtur dengan harga tiket tidak signifikan. Dalam penentuan harga avtur, pemerintah tidak bisa berbuat banyak karena penetapan harganya ditentukan mekanisme pasar. “Harga tiket lebih dipengaruhi supply and demand penumpang. Saat peak season harga tiket pasti naik.” 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (agf/nis/lyn/c11/c9/oni)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Tiket ke Jakarta Lebih Mahal, Mending Rapat di Singapura Saja