Alsintan Harus Bisa Tingkatkan Produksi Petani

12/09/2018, 00:54 WIB | Editor: Ilham Safutra
Sekretaris Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Abdul Majid saat mencoba mengoperasikan alsintan. (dok. JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Selama ini petani mengeluhkan produksinya kurang optimal karena terkendala kepemilikan alat yang terbatas. Sejak 2014, pemerintah berupaya menanggulangi keterbatasan itu dengan mendistribuikan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada sejumlah kelompok tani di daerah. Hasilnya produksi pertanian mereka mulai meningkat.

Sekretaris Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Abdul Majid menyebut, pemerintah telah membagikan alsintan pascapanen tidak kurang dari 41.816 unit. Semua itu berupa combine harvester kecil, combine harvester sedang, combine harvester besar, dryer, power threseher, power thresher multiguna, corn sheller, corn combine harvester, dan rice miling unit.

Menurutnya, banyak sekali manfaat penggunaan alsintan ini jika dicermati dengan seksama. Manfaatnya antara lain menambah volume capaian kinerja petani, mempercepat masa kerja, dan meningkatkan produksi pertanian. "Contoh manfaat alsintan itu mengurangi biaya operasional dan mengatasi kekurangan tenaga kerja," sebut Abdul Majid di Jakarta, Selasa (11/9).

Selain itu, alsintan juga mendongkrak nilai gengsi bertani, mengurangi ‘loss’ hasil pertanian, meningkatkan kualitas produksi hasil pertanian, memperbaiki kualitas hasil pertanian, membantu pelaksanaan tanam serempak dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Di samping alsintan pascapanen juga terdapat prapanen. Sejak 2014 hingga 2017 Kementan telah mendistibusikan314.188 unit alsintan prapanen. Semua itu terdiri atas traktor roda dua, traktor roda empat, cultivator, pompa air, transplanter, dan hand sprayer.

Meski sangat banyak manfaatnya, kata Abdul Majid, efektifitas penggunaan alsintan tetap tergantung kepada manusianya. "Pada banyak kasus, alsintan bantuan tersebut penggunaannya kurang efektif dan merata. Alsintan digunakan pada area tertentu," sambungnya. Kondisi itu terjadi karena pengorganisasiannya belum berjalan baik.

Abdul Madjid berpendapat, agar alsinta yang beredar di tengah petani bisa optimal pihaknya akan memberikan pemahaman tentang manajemen atau organisasi yang mengatur penggunaannya. "Alat dan mesin pertanian menjadi optimal tatkala dimanfaatkan secara maksimal," tandasnya.

(iil/jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi