Laporan Langsung dari Madinah

Berkunjung ke Masjid Qiblatain yang Punya Dua Kiblat

Jadi Saksi Sejarah, Kiblat Lama Tetap Ditanda

11/09/2018, 13:05 WIB | Editor: Ilham Safutra
Masjid Qiblatain tampak depan. (FIRZAN SYAHRONI/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Salah satu tujuan ziarah jamaah haji selama berada di Madinah adalah Masjid Qiblatain. Wartawan Jawa Pos Firzan Syahroni kemarin mengunjungi masjid yang terletak di Quba, persisnya di atas bukit kecil sebelah utara Harrah Wabrah, Madinah itu.

Suasana Masjid Qiblatain siang itu tampak sepi. Hanya ada belasan jamaah haji asal India yang menunaikan salat duhur. Namun, tak lama lagi rombongan jamaah haji Indonesia tiba. Itu sebabnya, jalan di depan masjid tersebut ditutup oleh polisi Saudi. Tujuannya agar bus rombongan jamaah haji bisa melintas.

Jika dilihat dari arah depan, masjid ini memiliki dua menara kembar. Di dekat tempat wudhu pria terlihat taman yang tertata apik. Toilet dan tempat wudhu tampak selalu bersih. Sebab, petugas kebersihan selalu berkeliling.

Masjid Qiblatain memiliki taman di bagian dalam, dekat dengan tempat wudhu pria. (FIRZAN SYAHRONI/JAWA POS)

Para petugas kebersihan sering menerima tip dari jamaah haji Indonesia. Memang, jamaah haji Indonesia dikenal dermawan. Biasanya, ada saja jamaah yang memberikan tip 1 riyal hingga 5 riyal kepada petugas kebersihan.

Masjid Qiblatain mengalami beberapa kali pemugaran. Namun, ciri khas masjid tetap dipertahankan. Yakni, adanya dua kiblat. Satu kiblat menghadap Masjidilharam. Satunya lagi menghadap Masjidil Aqsa di Palestina.

Tapi, kiblat yang terakhir ini tidak lagi dipakai. Hanya ada penanda khusus yang menggambarkan bahwa kiblat itu pernah dipakai di masa lalu. "Dua kiblat itulah yang menarik. Kita bisa belajar sejarah Islam di masjid ini," ujar Ahmed Noor, jamaah haji asal Pakistan yang ditemui setelah salat duhur di Masjid Qiblatain. 

Dia juga tertarik dengan konstruksi Masjid Qiblatain yang terkesan tradisional. "Sangat berbeda dengan Masjid Nabawi yang konstruksinya berarsitektur modern," katanya.

Di masa lalu, masjid ini bernama Masjid Bani Salamah. Beberapa riwayat mengisahkan, sejarah masjid ini berawal dari kedatangan Nabi Muhammad SAW beserta beberapa sahabat ke Salamah untuk menenangkan Ummu Bishr binti al-Bara yang ditinggal mati keluarganya.

Pada bulan Rajab tahun 2 Hijriyah, Rasulullah salat duhur di Masjid Bani Salamah. Dia mengimami para jamaah. Dua rakaat pertama masih menghadap Baitul Maqdis (nama lain Masjidil Aqsa). Namun, saat itu malaikat Jibril menyampaikan wahyu pemindahan arah kiblat.

Wahyu datang ketika Nabi baru menyelesaikan rakaat kedua. Begitu menerima wahyu, Nabi Muhammad SAW langsung berputar 180 derajat menghadap Masjidil Haram. Hal itu diikuti oleh semua jamaah salat duhur. Sejak itu, Masjid Bani Salamah pun dikenal dengan nama Masjid Qiblatain atau Masjid Dua Kiblat.

oni/jpc/jpk

Berita Terkait

Rekomendasi