Tak Hanya Manusia, Kuda pun Dievakuasi dari Gili Trawangan

09/08/2018, 15:13 WIB | Editor: Ilham Safutra
Menara Masjid Al-Ihsan patah akibat gempa 7 SR yang mengguncang Lombok pada Minggu (5/8) (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Dua speedboat menunggu di bibir pantai Gili Trawangan. Lima staf tampak membantu mengangkut berbagai barang.

"Kami tidak tahu sampai kapan (tutup)," ungkap Alicja Zakrzewska dan Tomasz Goralski, pasangan asal Polandia pemilik Scuba Froggy, persewaan alat-alat menyelam, kepada Jawa Pos.

Gempa 7 skala Richter yang mengguncang Lombok pada Minggu malam (5/8) telah memaksa Gili Trawangan, salah satu destinasi wisata paling populer di Nusa Tenggara Barat, mati suri. Ribuan turis, asing maupun lokal, dievakuasi dari sana sejak Senin (6/8).

Menara Masjid Al-Ihsan patah akibat gempa 7 SR yang mengguncang Lombok pada Minggu (5/8) (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

Saking belum pastinya kapan Gili Trawangan dibuka lagi, kuda-kuda ikut dievakuasi. Kuda-kuda itu biasanya dimanfaatkan untuk menarik cidomo yang disewakan untuk wisatawan.

Seperti disaksikan Jawa Pos, yang tersisa di Gili Trawangan sampai kemarin hanyalah puluhan penduduk lokal. Atau yang memiliki aset di pulau tersebut.

Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, hingga Rabu (8/8) pukul 13.00 WIB, jumlah korban meninggal 131 orang. Sementara itu, 1.477 orang lainnya luka berat dan dirawat inap di rumah sakit.

"Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah mengingat ada laporan warga yang menyatakan masih ada korban di antara reruntuhan," kata Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho kemarin.

Sutopo mengatakan, H+3 ini merupakan saat-saat kritis. Sebab, ada korban di bawah reruntuhan yang masih hidup dan harus segera dikeluarkan. Penggunaan alat berat harus ekstrahati-hati agar tidak semakin menimbun korban. "Selain itu, sudah tercium bau jenazah dari beberapa tempat," katanya.

Sementara itu, Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) menawarkan rumah instan sederhana sehat (risha) sebagai solusi atas kebutuhan permukiman yang mendesak di Bali dan NTB pascagempa.

Total harga per rumah Rp 50 juta. Pas dengan jumlah dana stimulan yang akan diberikan pemerintah.

Kapala Pusat Litbang Perumahan dan Permukiman Kementerian PUPR Arief Sabaruddin mengungkapkan bahwa harga Rp 50 juta sudah bisa membangun struktur dan bahan penutup bangunan. Perinciannya, Rp 30 juta untuk struktur dan atap, sisanya Rp 20 juta untuk bahan penutup semipermanen.

"Usia struktur dan atap bisa sampai 50 tahun," ujar Arief kemarin (8/8).

Bahan dindingnya, kata Arief, bisa pakai GRC (glassfiber reinforced cement). Prinsip dasarnya adalah struktur bangunan bisa jadi dulu. Dinding memakai bahan panel yang biasanya bertahan lima tahun.

Struktur risha, selain tahan gempa, kata Arief, juga memiliki kelebihan. Proses membangunnya bisa sangat cepat. Satu unit bisa dikerjakan dalam hitungan sehari dengan tiga pekerja.

Bantuan Pemprov Jatim

Sementara itu, bantuan penanganan pascabencana gempa Lombok juga datang dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim. Selain distribusi logistik dan konsumsi makanan, personel tanggap bencana juga diterjunkan.

Lebih dari sembilan institusi di lingkungan pemprov dan pemkab/pemkot di Jatim terlibat dalam program bantuan tersebut. ''Saat ini seluruh personel maupun logistik yang diterjunkan sudah berada di Lombok,'' kata Gubernur Jatim Soekarwo kemarin.

Untuk bantuan personel, Pemprov Jatim menerjunkan dua tim. Pertama adalah tim Aju yang memantau kebutuhan darurat. Tim tersebut berisi 16 anggota tim kesehatan yang diterjunkan dinas kesehatan (dinkes) serta dua personel badan penanggulangan bencana daerah (BPBD).

Tim kedua yang diterjunkan adalah tim percepatan penanganan darurat bencana. Tim tersebut terdiri atas 30 personel gabungan BPBD Jatim plus BPBD empat kabupaten/kota. Selain itu, ada tim tagana (taruna tanggap bencana) dari tiga daerah.

Pemprov Jatim juga mendistribusikan berbagai logistik yang dibutuhkan. Termasuk, mobil rescue dan truk serbaguna. 

(gil/tau/syn/wan/ris/c10/c5/ttg)

Alur Cerita Berita

Mewujudkan Mitigasi lewat Tata Ruang 09/08/2018, 15:13 WIB
Gempa, Konstruksi, dan Edukasi 09/08/2018, 15:13 WIB
Unhas Kirim Tim Medis ke Lombok 09/08/2018, 15:13 WIB

Berita Terkait

Rekomendasi