Cerita Sedih dari Dokter Relawan yang Menangani Korban Gempa Lombok

08/08/2018, 19:58 WIB | Editor: Ilham Safutra
Suasana di RSUD Tanjung, NTB yang penuh dengan pasien akibat bencana gempa bumi yang menimpa Lombok, NTB sejak Minggu (5/8). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Warga yang terdampak gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) terus ditangani di sejumlah rumah sakit daerah setempat. Akan tetapi kemampuan rumah sakit cukup terbatas, karena bangunannya ikut diguncang gempa 7 skala richter (SR) pada Minggu (5/8) lalu.

Kekhawatiran dipecahkan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) dengan memastikan ketersediaan obat-obatan. Terutama di RSUD Kecamatan Tanjung, Lombok Utara. ACT memastikan obat di RSUD Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) tersedia dan sangat cukup.

"Obat-obatan sudah banyak dari rumah sakitnya sendiri, obat milik RSUD Tanjung. Jadi kalau obat nggak kurang," kata Siti Nuril, salah satu dokter relawan ACT kepada JawaPos.com Rabu (8/8).

Suasana di RSUD Tanjung, NTB yang penuh dengan pasien akibat bencana gempa bumi yang menimpa Lombok, NTB sejak Minggu (5/8). (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

Siti Nuril bercerita, sejak terjadinya gempa dokter-dokter di RSUD sempat kewalahan menangani pasien yang jumlahnya sangat membludak. Namun setelah tim medis dari ACT tiba pada Senin (6/8) barulah penanganan pasien dapat lebih baik.

"Waktu kami tiba sudah sangat penuh, menumpuk, banyak pasien yang dirujuk dari puskesmas ke RSUD, karena puskesmas pada hancur juga," lanjut Nuril.

Menurut Nuril, rata-rata korban di RSUD adalah pasien yang luka-luka dan patah tulang. Ada juga yang cidera kepala. Namun begitu dia belum bisa memastikan berapa jumlah pasien yang dirawat di RSUD.

Pantauan JawaPos.com di RSUD Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, tidak ada pasien yang dirawat di dalam ruangan. Tenda darurat dibangun di halaman rumah sakit. Di dalam tenda itu semua pasien dirawat ditangani.

Pasien yang dirawat rata-rata mengalami luka parah akibat tertimbun runtuhan bangunan. Anak-anak hingga lansia dirawat di halaman RSUD, menggunakan fasilitas seadanya.

Sementara itu, data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Rabu (8/8), jumlah korban akibat gempa 7 SR di NTB dan Bali sebanyak 131 orang meninggal dunia.

Untuk korban luka dan yang dirawat rumah sakit 1.477 orang, serta mengungsi 156.003 orang. Selain itu terdapat 42.239 unit rumah rusak dan 458 unit sekolah rusak.

Kepala Pusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut, data itu diperkirakan akan terus bertambah, mengingat pendataan belum semuanya selesai dilakukan. "Korban belum semua ditemukan oleh Tim SAR gabungan," sebutnya.

Kabupaten Lombok Utara merupakan daerah paling parah terdampak bencana. Dari 131 orang meninggal akibat gempa, 78 orang di antaranya terdapat di Kabupaten Lombok Utara, Lombok Barat (24), Lombok Timur (19), Kota Mataram (6), Lombok Tengah (2) orang, dan Kota Denpasar (2).

(iml/JPC)

Alur Cerita Berita

Mewujudkan Mitigasi lewat Tata Ruang 08/08/2018, 19:58 WIB
Gempa, Konstruksi, dan Edukasi 08/08/2018, 19:58 WIB
Unhas Kirim Tim Medis ke Lombok 08/08/2018, 19:58 WIB

Berita Terkait

Rekomendasi