alexametrics

Sok Jakarte

Oleh Remy Sylado, Munsyi, Sastrawan
7 November 2018, 10:55:52 WIB

JawaPos.com – Sekitar 13 tahun silam, mantan Ketua Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Prof Dr Amran Halim berkata dengan nada jengkel bahwa film-film Indonesia, terutama sinetron yang ditayangkan di sejumlah brodkas TV, dengan dialog-dialog yang dibangun lewat bahasa “sok Jakarte”, punya andil besar dalam merusak bahasa baku yang baik dan benar.

Sekarang keadaannya makin tidak keruan. Kebetulan, bulan ini saya duduk sebagai juri kritik film yang diselenggarakan Pusbang Perfilman Kemendikbud. Lebih dari 100 kritik yang diperlombakan ditulis dengan bahasa centang perenang, bercampur aduk antara kalimat bahasa Inggris yang dipadu dengan solek “sok Jakarte”.

Dalam sidang juri yang dilangsungkan di lantai 18 Gedung C Kemendikbud, lahir simpai bahwa bahasa rusak itu adalah “gaya milenial anak-anak Jakarta Selatan”. Mereka mengira, dengan bahasa amburadul, mereka menunjukkan kelas sosial yang berbeda dengan yang lain-lain.

Awalnya pada 1932 ketika Bachtiar Effendy menggarap cerita Nyai Dasima karya G. Francis yang ditulis pada 1896 dengan dialog bahasa Betawi. Kemudian lebih diketatkan bahasa Betawi-nya pada 1965 oleh SM Ardan. Maka, prayojana yang hendak dicapai di situ adalah pendekatan realisme: bagaimana memberikan gambaran asasi akan suatu peristiwa dramatis yang mewakili realitas masyarakatnya lengkap dengan citra budaya lokalnya.

Namun, setelah itu tren “sok Jakarte”, yang antara lain diperciri dengan partikel-partikel “sih-dong-deh”, malah menjadi kegenitan khas dalam banyak film Indonesia yang keruan memberikan pengaruh latah dalam bahasa tutur manusia Indonesia kiwari di seluruh negeri.

Kebanyakan di antara mereka yang “sok Jakarte” -dimulai dari mereka yang merasa diri muda- memang termasuk orang-orang yang dalam istilah Bung Karno pada 1959 adalah golongan yang tidak kuat kepribadiannya.

Saya masygul ketika datang ke Bonbin di Bitung, kota pelabuhan di Minahasa, dan disambut oleh seorang perempuan ginuk-ginuk dengan bahasa “sok Jakarte”. Saya datang ke Bonbin itu pada menjelang petang.

Maka, kata perempuan itu, “Sebenernya sih kita udeh tutup. Tapi kagak ape-ape deh kalo niatnye cuman kepengen liat doang tarsius.” Kami pun masuk. Lantas, ketika kami berada di kandang tarsius, perempuan itu berkata, “Nyang ini sukanya ngumpet di pojok. Dia kagak boleh disatuin sama nyang laen, supaya kagak berantem.”

Apa boleh buat, gaya “sok Jakarte” sudah melanda di mana-mana. Dan saya lihat, gejala itu kuat sekali di Minahasa, di kota kecil Bitung, di mana kelompok-kelompok seni serius antara teater dan sastra digerakkan di sekolah-sekolah dalam rangka pengajaran bahasa Indonesia. Perbandingannya dengan kota-kota lain, seperti taroklah Solo, Bandung, Jogja, dan Jakarta, sangatlah terbatas sehingga keadaannya bagai katak dalam tempurung.

Delapan tahun silam, ketika diselenggarakan festival teater rakyat di Taman Mini, dan kebetulan saya pun menjadi juri di situ, saya menangkan rombongan dari Bali sebagai juara pertama, kemudian rombongan dari Jogjakarta juara kedua, dan rombongan dari Jambi juara ketiga.

Mereka benar-benar mencitrai model teater rakyat yang mewakili tamadun daerahnya, bahasa lokal, serta kesimpulan hakiki kepribadian yang utuh. Sementara itu, dalam festival sebelumnya, yang juri-jurinya antara lain Niniek L. Karim dan Franki Raden, rombongan dari Bitung sungguh menyedihkan: Mereka memainkan drama dengan bahasa “sok Jakarte” -seperti si ginuk-ginuk di Bonbin itu- meniru sinetron-sinetron tolol, bebal, sementung.

Yang menggelikan adalah banyak orang, termasuk pengarang dalam karya sastranya, terjangkit kegatalan “sok Jakarte” melalui partikel-partikel khas Betawi antara sih-dong-deh yang salah tempat.

Kita membaca itu dalam, misalnya, karya sastra Y.B. Mangunwijaya yang memenangkan sastra SEA Write, Burung-Burung Manyar, diterbitkan 1981. Di halaman pertama dan halaman kedua kita baca partikel sih-dong-deh yang tidak pas, tidak laras, tidak plastis. Jelas sekali tersimpul bahwa Romo Mangunwijaya tidak hidup dengan bahasa Betawi.

Seandainya dia lebur dalam budaya pop, seperti umumnya remaja-remaja kota biasa menempelkan kuping di radio-radio swasta untuk menjagai perkembangan lagu-lagu baru, niscaya dia akan terbiasa dengan leluri mereka bertutur dengan partikel-partikel sih-dong-deh. Dengan begitu, dia pun tidak menjadi orang asing yang wagu dalam bahasa ”sok Jakarte” tersebut.

Akhirnya, Prof Dr Amran Halim masih ada, semestinya kita harus bilang kepadanya bahwa bukan bahasa Betawi dari gejala ”sok Jakarte” itu yang membikin pusing pelajar bahasa Indonesia baku. Yang kacau adalah gejala nginggris.

Kalau Puan-Puan dan Tuan-Tuan datang ke Jakarta sekarang, Anda akan seharkat dengan satelkok yang jika dismes akan dinyatakan oleh wasit “masuk” atau “keluar”. Soalnya, banyak gedung di Jakarta yang kegilaan nginggris, memasang tulisan di gerbang masuk “in” dan di gerbang keluar “out”. Sampai hari ini pemilik gedung tidak pernah tahu bahwa itu keliru dan seharusnya yang benar adalah “entrance” dan “exit”. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*)

Copy Editor :

Sok Jakarte