Gempa, Konstruksi, dan Edukasi

Oleh KASBANI, Kepala PVMBG

07/08/2018, 17:49 WIB | Editor: Ilham Safutra
Masjid yang roboh akibat gempa yang mengguncang Lombok pada Minggu (5/8). (BNPB)
Share this

JawaPos.com - Lombok kembali diguncang gempa hebat pada Minggu lalu (5/8). Guncangan itu terjadi di jalur gempa yang berada di sisi utara Lombok. Satu jalur gempa lain berada di bagian selatannya. Jalur gempa yang melalui Sumatera, Jawa, Bali, sampai Nusa Tenggara sudah given. Itu pemberian Yang Mahakuasa. Di jalur tersebut, potensi gempa bisa terjadi kapan saja.

Perlu diketahui, di Indonesia hampir setiap hari terjadi gempa. Namun, gempa yang kuat dan memiliki efek merusak hanya terjadi beberapa kali dalam setiap tahun.

Warga melintasi reruntuhan rumah yang hancur akibat diguncang gempa. (Ivan/Lombok Pos/Jawa Pos Group)

Hasil analisis PVMBG menyebutkan, gempa Minggu lalu di Lombok terjadi karena sesar atau patahan aktif jenis sesar naik. Lokasinya berada di zona sesar busur belakang Flores (Flores back arc).

Merujuk peta kondisi geologi Pulau Lombok, datarannya tersusun oleh endapan kuarter. Isinya dominan batuan rombakan gunung api muda yang telah mengalami pelapukan. Batuan tersebut umumnya bersifat belum kompak, mudah lepas, dan urai sehingga memperkuat efek guncangan gempa.

Selain itu, dalam peta kawasan rawan bencana (KRB) gempa bumi NTB, Lombok Utara dan Lombok Timur berada di KRB gempa bumi menengah. Kelompok rawan bencana gempa bumi menengah memiliki potensi intensitas guncangan skala VII-VIII MMI. Guncangan gempa dengan skala VII sampai VIII MMI bisa mengakibatkan kerusakan pada bangunan.

Sebelumnya, gempa sering terjadi di wilayah Banten. Tepatnya di selatan Lebak. Kemudian, kini bergeser ke wilayah Lombok. Pergerakan gempa tersebut tidak memiliki motif. Bukan dari barat menuju timur. Jadi, tidak ada kaitannya langsung antara gempa yang sebelumnya terjadi di Lebak dengan gempa di Lombok saat ini.

Gempa yang merusak dulu berada di Aceh. Kemudian juga terjadi di Mentawai. Kemudian beberapa kali gempa hebat di Jawa. Lalu, sekarang gempa berkekuatan besar terjadi dalam waktu tidak terlalu jauh dan titiknya hanya terpaut beberapa kilometer.

Itu bukan sebuah pola atau motif tertentu. Saya tegaskan lagi, karena mulai Sumatera, Jawa, Bali, sampai Nusa Tenggara berada di jalur gempa, potensi gempa bisa terjadi kapan saja. Selain itu, sampai sekarang teknologi yang mampu memperkirakan kapan terjadinya gempa belum ada.

Nah, karena gempa adalah sebuah bencana alam yang tidak bisa diprediksi, mitigasi bencana menjadi lebih penting. Misalnya, dengan mempertimbangkan konstruksi bangunan. Khususnya ketika membangun gedung-gedung bertingkat, sebaiknya memperhatikan ketahanannya terhadap gempa.

Menurut saya, bangunan vital, strategis, dan mengundang konsentrasi banyak orang sebaiknya memang dibangun dengan kaidah tahan gempa. Saat ini teknologi konstruksi bangunan tahan gempa sudah cukup banyak dan terus berkembang.

Munculnya korban jiwa dalam bencana gempa sejatinya disebabkan tertimpa bangunan atau rumah yang roboh. Selain soal konstruksi bangunan, edukasi yang terkait dengan antisipasi jika terjadi gempa penting untuk terus disosialisasikan kepada masyarakat.

Setelah kejadian gempa Minggu lalu, muncul rekomendasi bagi Pemprov NTB. Rekomendasi itu terkait dengan mitigasi gempa. Saya menekankan, mitigasi itu penting karena bisa mengurangi risiko akibat bencana. 

(*/seperti disarikan wartawan Jawa Pos M. HILMI SETIAWAN/c11/ttg)

Alur Cerita Berita

Mewujudkan Mitigasi lewat Tata Ruang 07/08/2018, 17:49 WIB
Gempa, Konstruksi, dan Edukasi 07/08/2018, 17:49 WIB
Unhas Kirim Tim Medis ke Lombok 07/08/2018, 17:49 WIB

Berita Terkait

Rekomendasi