JawaPos Radar

Aphelion Tidak Ada Kaitannya dengan Suhu Dingin di Indonesia

07/07/2018, 08:53 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Aphelion Tidak Ada Kaitannya dengan Suhu Dingin di Indonesia
Kawasan Pegunungan Dieng sempat terjadi hujan es. (Istimewa for JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memantau penurunan suhu di beberapa wilayah Indonesia. Bahkan menariknya, banyak masyarakat yang mengkaitkan hal tersebut dengan fenomena Aphelion.

Dari pengamatan BMKG 1-5 Juli 2018, suhu udara kurang dari 15 derajat Celcius tercatat di beberapa wilayah yang seluruhnya memang berada di dataran tinggi atau kaki gunung seperti Ruteng (NTT), Wamena (Papua), dan Tretes (Pasuruan).

Menurut Deputi Bidang Meteorologi, Mulyono R Prabowo menerangkan, fenomena Aphelion ini adalah fenomena astronomis yang terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli. Sementara, pada waktu yang sama, umumnya wilayah Indonesia sedang dalam periode musim kemarau.

Aphelion Tidak Ada Kaitannya dengan Suhu Dingin di Indonesia
Suhu dingin melanda Malang, Jawa Timur. (Tika Hapsari/ JawaPos.com)

"Sebenarnya hal inilah yang menyebabkan seolah Aphelion memiliki dampak yang ekstrem terhadap penurunan suhu di Indonesia," tutur Mulyono dalam keterangan tertulisnya, Jumat (6/7)

Padahal, Mulyono menyampaikan penurunan suhu lebih dominan disebabkan dalam beberapa hari terakhir di wilayah Indonesia, khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT kandungan uap di atmosfer cukup sedikit. Hal ini terlihat dari tutupan awan yang tidak signifikan selama beberapa hari terakhir.

"Ini yang menyebabkan suhu udara di Indonesia saat malam hari di musim kemarau relatif lebih rendah dibandingkan saat musim hujan atau peralihan," tuturnya.

Selain itu, pada Juli ini Australia berada dalam periode musim dingin dan sifat dari massa udara di sana dingin dan kering. Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia semakin signifikan. Sehingga berimplikasi terhadap penurunan suhu udara yang signifikan pada malam hari di Jawa, Bali, NTB, dan NTT.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Klimatologi Herizal menyampaikan, fenomena suhu dingin malam hari dan embun beku di lereng Pegunungan Dieng lebih disebabkan kondisi meteorologis dan musim kemarau yang saat ini tengah berlangsung.

Pada saat puncak kemarau, lanjut Heri, memang umumnya suhu udara lebih dingin dan permukaan bumi lebih kering. Pada kondisi demikian, panas matahari akan lebih banyak terbuang dan hilang ke angkasa.

"Itu yang menyebabkan suhu udara musim kemarau lebih dingin daripada suhu udara musim hujan. Selain itu kandungan air di dalam tanah menipis dan uap air di udara pun sangat sedikit jumlahnya yang dibuktikan dengan rendahnya kelembaban udara," terangnya.

Menurutnya, beberapa tempat yang berada di ketinggian, seperti pegunungan, diindikasikan akan berpeluang untuk mengalami kondisi udara permukaan kurang dari titik beku 0°C, disebabkan molekul udara di daerah pegunungan lebih renggang dari pada dataran rendah.

"Ya karena hal tersebut bisa sangat cepat mengalami pendinginan, lebih lebih pada saat cuaca cerah tidak tertutup awan atau hujan," tambahnya.

Menurutnya, uap air akan mengalami kondensasi pada malam hari yang kemudian mengembun. Air embun yang menempel di pucuk daun atau rumput akan segera membeku, ini disebabkan suhu udara yang bisa mencapai minus atau nol derajat.

"Di Indonesia, beberapa tempat pernah dilaporkan mengalami fenomena ini yaitu daerah dataran tinggi Dieng, Gunung Semeru, dan Pegunungan Jayawijaya, Papua," tandasnya.

Kesimpulan di atas menunjukkan fenomena Aphelion tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penurunan suhu di Indonesia. BMKG mengimbau agar masyarakat tidak khawatir terhadap informasi yang menyatakan akan terjadi penurunan suhu ekstrem akibat dari Aphelion.

(ce1/rgm/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up