JawaPos Radar

Cegah Kekerasan Seksual Anak, Muslimat NU Ajak Keluarga Ajarkan Akhlak

07/05/2018, 14:16 WIB | Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Cegah Kekerasan Seksual Anak, Muslimat NU Ajak Keluarga Ajarkan Akhlak
Salah satu pengurus Muslimat NU, Susianah menyampaikan tren kekerasan seksual anak yang terjadi makin mengkwatirkan orang tua dan keluarga di Indonesia (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - Muslimat NU menyelenggarakan Bahsul Masail Peran Keluarga Dalam Pencegahan Kekerasan Seksual Anak pada 3 Mei 2018 di Gedung Serba Guna Komp DPR RI Jakarta. Kegiatan ini merupakan respon atas tingginya kasus kekerasan seksual anak di masyarakat. Kegiatan ini diikuti oleh 400 Guru PAUD dengan harapan mereka dapat mensosialisasikan hasil kegiatan kepada wali murid dan masyarakat sekitarnya.

Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU Mursyidah Thahir mengatakan, perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) kini bibitnya sudah nampak pada anak-anak dalam berbagai kasus. LGBT awal mulanya dianggap sebagai penyimpangan seksual dan dimasukkan dalam kelompok penyakit jiwa namun pada tahun 1970 di San Fransisco perilaku LGBT dikeluarkan dari daftar Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorder (DSM) dan dianggap sebagai variasi preferensi seks.

Pada saat itu kaum LGBT mulai mengenalkan diri dengan dalih HAM. Selanjutnya ada pengesahan perkawinan sejenis dalam undang-undang di 24 negara. Propaganda LGBT dilakukan di negara Asia diinisiasi oleh kemitraan regional

Keluarga, ujar dia, adalah sekolah pertama. Keluarga harus melindungi anaknya dari perbuatan LGBT.

Salah satu pengurus Muslimat NU, Susianah menyampaikan tren kekerasan seksual anak yang terjadi makin mengkwatirkan orang tua dan keluarga di Indonesia. "Pertama, korbannya banyak anak laki-laki. Dari data kasus yang ada, korban sodomi di banyak tempat, sebagian besar korbannya adalah anak laki-laki," katanya dalam siaran persnya, Senin, (7/5).

Kedua, satu kasus, korbannya banyak. Kasus Babe di Tangerang memakan korban sebanyak 41 orang. Kasus di Aceh, terdapat 26 anak diiming-iming main bareng yang berakhir dengan hubungan sejenis. Kasus di Jombang Jatim, sebanyak 25 anak menjadi korban kebejatan seorang guru. Kasus sodomi di Tapanuli Selatan memakan korban 42 anak.

Susianah menyebutkan data pengaduan yang masuk ke KPAI selama empat tahun terakhir sebanyak 8.470 kasus masuk ranah Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) dan tentu masih banyak kasus yang tidak dilaporkan.

Survei Kemensos 2017 menyebutkan sebanyak 45 persen pelaku dari keluarga bercerai. Sebanyak 41 persen pelaku kekerasan seksual anak karena terdorong oleh pornografi, 10 persen pelakunya mengaku pernah menjadi korban, 33 persen pelaku melakukan karena terdorong ajakan teman. Sedangkan 11 persen pelaku karena pengaruh narkoba dan 10 persen karena pengaruh keluarga.

Dari semua kasus tersebut dibutuhkan upaya pencegahan yang harus melibatkan peran orang tua dan keluarga

(met/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up