alexametrics

Ratapan Keluarga Korban Lion Air: Tolong Pak, Kembalikan Keluarga Kami

6 November 2018, 09:05:23 WIB

JawaPos.com – Haru dan pilu. Tangis dan kecewa. Dua kalimat tersebut menggambarkan suasana pertemuan keluarga korban Lion Air JT 610 kemarin (5/11). Mereka menumpahkan semua kesedihan dan keluhan saat bertatap muka dengan para pejabat yang menangani kasus tersebut.

Para keluarga korban kemarin bertemu dengan Kepala Basarnas Marsekal Madya M. Syaugi.

Selain itu, ada juga Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, Pangarmada I Laksda TNI Yudo Margono, serta Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Brigjen Arthur Tampi di ruang pertemuan Hotel Ibis Cawang, Jakarta.

Ratapan Keluarga Korban Lion Air: Tolong Pak, Kembalikan Keluarga Kami
Pendiri Lion Air Rusdi Kirana (kanan-kiri) didampingi Presiden Direktur Lion Air Edward Sirait dan Managing Director Lion Air Daniel Putut Kuncoro Adi berdiri menghadap keluarga korban. (Miftahulhayat/Jawa Pos)

Hampir semua yang diberi kesempatan bertanya menyampaikan dengan suara tercekat. Beberapa di antara mereka bahkan tak kuasa menahan tangis saat menyebutkan nama anggota keluarga yang menjadi korban. Misalnya, Moch. Bambang Sukandar, 62, asal Pati, Jawa Tengah. Dia kehilangan putranya, Pangky Pradana Sukandar, 29.

“Mohon dengan hormat, Pak. Kiranya penumpang JT 610 ini mohon segera dikembalikan ke kami, Pak. Teridentifikasi. Tolong dengan hormat, sekali lagi,” kata Bambang dengan suara parau. Dia menuturkan, putranya yang bekerja di perusahaan transportasi di Bangka Belitung itu punya putri berusia 4 tahun.

Dia juga meminta penjelasan soal kabar kerusakan pesawat Lion Air yang terjadi pada malam sebelum kecelakaan. Dia menyebutkan, perlu ada penjelasan dan tanggung jawab dari teknisi yang memeriksa pesawat tersebut. “Jangan sampai kejadian ini berlanjuuut terus di Indonesia tercintaku ini,” ujarnya, lantas terisak.

Bambang pulalah yang akhirnya “memaksa” pendiri Lion Air Rusdi Kirana untuk berdiri. Rusdi memang tidak berdiri di atas panggung menghadap keluarga penumpang Lion Air. Rusdi yang menjabat duta besar Indonesia untuk Malaysia itu berdiri di barisan terdepan.

“Saya belum kenal Pak Rusdi Kirana. Mohon dengan hormat untuk berdiri, Pak. Mohon dengan hormat,” ucap Bambang dengan suara pelan.

Dia berharap Kementerian Perhubungan bisa memberikan alternatif penerbangan pagi untuk berbagai tujuan. Sebab, penerbangan dari Jakarta ke Babel saat pagi hanya dilayani Lion Air. “Anak saya kalau berangkat pagi dari Jakarta harus melaksanakan tugas, ndak ada pilihan flight selain Lion yang pagi.”

Keluarga korban yang lain meminta evakuasi korban diutamakan, bukan hanya kotak hitam (black box). Bahkan, ada usul agar penyelam yang mendapat apresiasi bukan penemu kotak hitam, tapi siapa yang paling banyak mengangkat jenazah.

Rata-rata kekecewaan dilontarkan kepada manajemen Lion Air. Misalnya, soal cukup sulitnya komunikasi dalam sepekan masa pencarian korban. Keluhan juga disampaikan untuk identifikasi jenazah yang butuh waktu lama. Selain itu, mereka meminta ada perwakilan keluarga korban yang dilibatkan dalam penyelidikan di KNKT agar investigasi tidak “masuk angin”.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menuturkan, pihaknya berusaha memfasilitasi keinginan keluarga korban untuk masuk tim investigasi. Tapi bukan menjadi investigator. Sebab, KNKT adalah lembaga independen dan langsung bertanggung jawab kepada presiden. “Kami juga berupaya tidak menyalahi aturan,” tegas Soerjanto.

Salah satu bentuk fasilitas itu adalah mengundang perwakilan keluarga penumpang untuk bisa berdiskusi dengan KNKT. Namun, hasil diskusi hanya untuk kalangan terbatas, bukan bahan pengajuan tuntutan. “Jadi, jangan dipakai untuk penuntutan atau masalah hukum yang lain. Kami hanya semata-mata untuk keselamatan,” ujarnya.

Tim penyelidik dari KNKT sudah berhasil mengunduh salah satu kotak hitam yang berisi rekaman data penerbangan (flight data record/FDR) dengan hasil yang bagus. Isinya adalah rekaman 69 jam yang memuat data 19 penerbangan dengan total 1.790 parameter.

Dibutuhkan waktu setidaknya dua pekan ke depan untuk memverifikasi dan menganalisis data tersebut. Sementara itu, cockpit voice recorder (CVR) belum ditemukan.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menuturkan, sebelas pesawat Boeing 737 MAX 8 telah diaudit dan dinyatakan laik jalan. Kini pihaknya melanjutkan special audit sejak Sabtu (3/11).

Pemeriksaan khusus awak pesawat itu ditujukan untuk menilai kualifikasi mereka. Selain itu, ada audit kesesuaian standar operasional prosedur yang berlaku di Lion Air. Hasilnya baru diketahui sepekan lagi.

“Butuh waktu lima hari sampai seminggu ke depan untuk disampaikan hal-hal yang bisa menjadi konsumsi publik. Kalau yang lain, akan kami sampaikan ke KNKT,” ujarnya.

Budi menuturkan, ada dugaan kesalahan teknis dan human error berkaitan dengan jatuhnya pesawat Lion Air. Analisis itu akan berpijak pada FDR dan CVR. “Dari situ akan ketahuan apakah itu human error atau technical error,” ujarnya.

Sementara itu, Presiden Direktur Lion Air Edward Sirait menegaskan, pihaknya mengikuti semua pemeriksaan oleh Kemenhub, termasuk ramp check yang sudah berjalan.

Hal itu tidak mengganggu jadwal penerbangan pesawat. “Penjadwalan pesawat normal saja,” katanya.

Sementara itu, kelanjutan pesanan pesawat Boeing 737 MAX 8 belum dibicarakan. Edward meminta menunggu hasil pembicaraan. Tapi, dia mengakui bahwa pesawat Lion memang menyewa. “‘Ya memang pesawat kita leasing,” tuturnya.

Managing Director Lion Air Daniel Putut menuturkan, pihaknya tetap melayani penumpang seperti biasa. Pesawat Boeing 737 MAX 8 yang dinyatakan layak terbang tetap difungsikan. “Masih terbang (sampai sekarang). Karena sudah diaudit Kemenhub,” kata Daniel.

Mengenai audit untuk teknisi, Daniel menyebutkan bahwa ada teknisi Lion Air yang ikut jadi korban. “Ada teknisinya yang ikut di pesawat itu sebetulnya. Jadi, kami sendiri sedih,” jelasnya.

Pencarian Korban

Perpanjangan operasi evakuasi selama tiga hari difokuskan untuk mengangkat jenazah dari perairan Karawang. Hingga tadi malam pukul 20.30, tim berhasil mengangkat 26 kantong jenazah.

“Jadi, total pada hari pertama kami sudah menemukan 164 kantong jenazah,” kata Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Nugroho Budi Wuryanto. Sisa dua hari akan terus difokuskan pada pencarian jasad korban.

Kepala Basarnas Marsekal Madya M. Syaugi memastikan, pihaknya akan menurunkan penyelam-penyelam terlatih untuk terus mengumpulkan dan mengangkat jenazah dari dasar laut. Tercatat, ada 151 penyelam dari berbagai kesatuan mulai Taifib, Denjaka, Kopaska, Basarnas, dan penyelam lain.

“Sampai tadi malam (Minggu malam, Red), karena arus bawah air cukup tenang, kami turunkan penyelam dari pukul 19.00 sampai 04.00,” ungkapnya.

Gara-gara arus yang deras tersebut, robot remotely operated vehicles (ROV) yang diturunkan ke dalam air sempat terbawa arus. Bahkan, jarak pandang terkadang hanya 2-3 meter.

“Kami yakin bisa mengevakuasi seluruh korban. Bapak Ibu… (terhenti 25 detik) setiap hari melihat (terhenti lagi 15 detik) saya di lapangan, di laut (berhenti 17 detik), saya melakukan pencarian ini,” ujar Syaugi saat sesi tanya jawab dengan keluarga korban.

Suaranya tercekat. Dia terlihat mengusap air matanya. Brigjen Arthur Tampi lantas memberikan minum untuk Syaugi. “Saya tidak menyerah. Kami akan all-out,” tegasnya. Para hadirin pun memberikan tepuk tangan untuk Syaugi.

Tabur Bunga dari Dua KRI

Para keluarga penumpang Lion Air register PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 diundang untuk mendatangni lokasi kecelakaan di perairan Karawang. TNI-AL memfasilitasi kegiatan itu dengan dua kapal perang, yakni KRI Banda Aceh-593 dan KRI Banjarmasin-592.

Panglima Komando Armada I Laksda Yudo Margono menuturkan, tabur bunga rencananya dilakukan pagi ini mulai pukul 08.00 hingga siang. Dia juga menjelaskan, acara tabur bunga dari kapal tersebut akan menempuh perjalanan 24 mil dengan lama sekitar 2 jam perjalanan.

“Sesampai di TKP nanti di titik yang ditentukan, kita akan melaksanakan doa bersama dan tabur bunga di laut. Dengan demikian, Bapak Ibu bisa lihat lokasi jatuhnya pesawat tersebut,” katanya. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (jun/tau/c5/oni)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Ratapan Keluarga Korban Lion Air: Tolong Pak, Kembalikan Keluarga Kami