JawaPos Radar

Sama-sama Berguyon Bom di Pesawat, Dua Penumpang Diperlakukan Berbeda

Fran Dibui, Henny Dilepas

04/06/2018, 14:45 WIB | Editor: Ilham Safutra
Sama-sama Berguyon Bom di Pesawat, Dua Penumpang Diperlakukan Berbeda
Ilustrasi: Penumpang Pesawat Garuda Indonesia dilepaskan pihak bandara setelah bercanda soal bom di atas pesawat. ()
Share this

JawaPos.com - Ancaman bom di pesawat kembali terjadi. Seorang penumpang Garuda Indonesia jurusan Jakarta-Singapura, Henny Adiaksi, pada Sabtu malam (2/6) menyatakan bahwa dalam kopernya ada bom. Kalimat itu diucapkan di dalam kabin pesawat.

Sayang sikap polisi dan Menteri Perhubungan tekait hal itu bertolak belakang.

Henny yang menumpang pesawat GA822 rencananya pergi ke Singapura bersama orang tua serta adiknya. Orang tuanya akan berobat.

Sama-sama Berguyon Bom di Pesawat, Dua Penumpang Diperlakukan Berbeda
Frantinus Nirigi, penumpang Lion Air, diproses hukum karena bercanda soal bom di Bandara Internasional Supadio Kubu Raya, Senin (28/5) malam (Ocsya Ade CP/Rakyat Kalbar/Jawa Pos Group)

"Saat masuk ke dalam pesawat dan hendak menaikkan barang ke kabin, dia ini bercanda kepada adiknya dengan berkata agar berhati-hati mengangkat barangnya karena ada bom di dalamnya," kata Kapolres Bandara Soekarno-Hatta AKBP Victor Togi Tambunan saat dikonfirmasi kemarin.

Perkataan Henny yang menyebut di dalam barang bawaannya ada bom didengar pramugari. Hal itu langsung disampaikan kepada pilot dan dilaporkan kepada petugas keamanan bandara. Henny pun diamankan. Sementara itu, pesawat tetap terbang ke Singapura sesuai dengan jadwal.

"Jadi, penumpang tersebut berikut tasnya langsung diturunkan dan ditinggal untuk dilakukan pemeriksaan, termasuk juga dilakukan X-ray. Namun, dari pemeriksaan tidak ditemukan adanya bom maupun benda mencurigakan," terang Victor.

Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, Heny dilepaskan kemarin pagi. "Jadi sudah kita pulangkan tadi pagi (kemarin, Red). Dari hasil pemeriksaan kenapa penumpang tersebut bilang bawa bom kepada adiknya itu, keterangannya tidak ada maksud apa-apa dan menyesal," beber Victor.

Pembiaran terhadap candaan Henny itu disayangkan. Sebab, candaan seperti itu termasuk ancaman yang bisa dikenai sanksi penjara satu hingga delapan tahun sesuai dengan UU No 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Pada 28 Mei lalu, Frantinus Nirigi ditahan dan menjadi tersangka karena candaan serupa saat akan terbang dari Pontianak dengan pesawat Lion Air.

Victor berdalih hal itu dilakukan karena tidak ada insiden apa pun akibat candaan Henny. "Di Bandara Soekarno-Hatta ini kan sudah masuk waktu arus mudik Lebaran. Jadi kita harus jaga suasana kondusif, jangan malah sebaliknya. Dan di dalam kasus ini kan juga tidak menimbulkan dampak sedikit pun. Jadwal penerbangan tetap berjalan normal dan tidak ada yang terganggu," ucapnya.

VP Corporate Secretary PT Garuda Indonesia Hengki Herdiandono menyatakan bahwa pihaknya enggan berkomentar lebih jauh. Alasannya, semua prosedur diserahkan ke Polres Bandara Soekarno-Hatta. "Dari Garuda sudah melakukan prosedur safety dan pax," ungkapnya.

Hengki menyatakan, manajemen Garuda Indonesia sudah memercayakan sepenuhnya kepada pihak kepolisian.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berjanji menindak tegas pelaku yang memberikan informasi palsu tentang bom. "Ini merupakan ancaman terhadap keamanan dan keselamatan bagi kita semua. Pelaku candaan bom akan kami tuntut secara hukum," kata Budi.

Bahkan, kemarin, saat melakukan pengecekan angkutan Lebaran di Bandara Soekarno-Hatta, Budi mengatakan bahwa kejadian candaan teror bom yang dilakukan Henny akan betul-betul diusut. "Apa yang terjadi kemarin juga akan kami limpahkan ke pengadilan," ujar Budi.

Sementara itu, anggota Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Alvin Lie menuturkan, penumpang Garuda yang bercanda soal bom itu bukti bahwa masih belum ada penegakan undang-undang secara konsisten. Semestinya penegakan hukum terhadap penumpang itu juga diberlakukan tanpa memandang latar belakang pelaku. "Adil atau tidak tebang pilih," ujar Alvin kepada Jawa Pos kemarin (3/6).

Sebelumnya, Alvin memberikan kritik tajam, yakni ada sembilan kali kejadian orang yang bercanda soal bom di dalam pesawat. Tapi, para pelaku belum pernah sampai dibawa ke meja pengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Biasanya hanya diperiksa, lantas diminta untuk membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan serupa.

"Ada petugas lapangan, entah PPNS (penyidik pegawai negeri sipil) atau Polri, yang tidak paham seriusnya ancaman bom dan mudah masuk angin," ungkap Alvin.

Selain itu, dia meminta agar ada komunikasi yang lebih efektif antara Kementerian Perhubungan dan pejabat atau petugas di lapangan. Dengan demikian, kebijakan dengan pelaksanaan bisa sinkron.

"Kemungkinan PPNS tidak cakap melaksanakan pemeriksaan dan pemberkasan. Tidak efektifnya koordinasi dan kerja sama antara Kemenhub dan Polri," imbuh Alvin. 

(gih/jun/lyn/c19/c10/ang)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up