alexametrics
Pemakaman Ani Yudhoyono secara Militer

Flamboyan yang Tetap di Hati

Presiden Jokowi Kutip Puisi SBY
3 Juni 2019, 12:43:17 WIB

JawaPos.com – Keluarga besar Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengantarkan jenazah Ani Yudhoyono ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, tempat peristirahatan terakhirnya, kemarin (2/6).

SBY berjalan pelan di belakang peti jenazah Ani, diikuti anak, menantu, dan keluarga besarnya. Menjelang sore, Presiden Joko Widodo memimpin upacara pemakaman ibu negara ke-6 itu secara militer.

SBY dan keluarga terlihat tabah. Mereka pun mengikuti upacara pemakaman tersebut secara khidmat. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) langsung berdiri ketika jenazah ibunda hendak diturunkan ke liang lahad. Lagu Gugur Bunga mengalun pelan setelah salvo berdesing sebagai tanda penghormatan.

Sebagai putra sulung, Agus menyampaikan ucapan perpisahan untuk almarhumah. “Selamat jalan, Memo. We love you and we will forever miss you,” tutur dia. Pesan itu disampaikan Agus setelah mengungkapkan beberapa memori tentang ibundanya.

Di mata keluarga, Ani merupakan sosok yang tegar. Lahir dari ayah seorang prajurit, menjadi istri prajurit, dan memiliki anak seorang prajurit membuat dia semakin tangguh. Karakter itu, lanjut Agus, ditunjukkan Ani hingga akhir hayat.

Februari lalu, saat mengetahui bahwa dirinya mengidap kanker darah, Ani sempat meneteskan air mata. Namun, dia tabah. “Saya pasrah, tapi saya tidak menyerah,” ucap Agus, menirukan kalimat ibundanya.

Ayah satu anak itu pun menyebutkan bahwa ibundanya merasa sudah mendapat begitu banyak kebaikan dari Allah SWT sehingga bertekad menerima apa pun yang kemudian hadir dalam hidupnya. Termasuk kanker darah yang membuat Ani harus menjalani perawatan berbulan-bulan di National University Hospital (NUH) Singapura.

Sepanjang upacara pemakaman kemarin, SBY duduk bersebelahan dengan mantan Presiden B.J. Habibie. Ketua umum Partai Demokrat itu juga tidak bicara panjang lebar ketika mendapat ucapan dukacita dari pejabat, kerabat, serta masyarakat yang turut mengantarkan Ani ke Kalibata. “Terima kasih, mohon doanya,” ucap dia, membalas ucapan dukacita dari masyarakat. Sebagaimana sang ayah, Ibas yang sejak awal duduk di samping istrinya juga irit bicara.

TURUT BERDUKACITA: Presiden Ke-3 RI Megawati Soekarnoputri menyalami Presiden Ke-6 SBY dan turut berbelasungkawa atas meninggalnya Ani Yudhoyono. (Dery Ridwansa/JawaPos.com)

Pukul 13.24 rangkaian upacara pemakaman secara militer dimulai. Peti jenazah Ani diserahkan secara simbolis dari pihak keluarga kepada pemerintah. Ibas mewakili keluarga. Pihak pemerintah diwakili Bambang Soesatyo.

Dalam sambutannya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bahwa meninggalnya Ani merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. “Kita hadir di sini untuk memberikan penghormatan terakhir,” katanya.

Lewat kesempatan tersebut, Jokowi juga menyinggung jasa-jasa Ani selama ini. Mulai upaya memberantas buta huruf, mengembangkan kerajinan nasional, sampai memberdayakan perempuan dan anak.

Tidak lupa, Jokowi juga menyebutkan bahwa Ani selama ini termasuk perempuan yang aktif dalam beragam program sosial. “Sepanjang hayatnya, mendedikasikan nilai-nilai kemanusiaan,” ungkap dia.

Karena itu, lanjut dia, Ani mendapat Bintang Mahaputra Adipradana. Pria yang pernah menjabat gubernur DKI Jakarta tersebut kembali menyampaikan belasungkawa yang mendalam. Mewakili seluruh rakyat Indonesia.

Jokowi berharap keluarga SBY diberi ketabahan setelah ditinggalkan oleh Ani. Meski tidak panjang dan lengkap, dia mengutip salah satu kata dalam puisi berjudul Flamboyan yang diciptakan oleh SBY pada 2004. “Flamboyan telah pergi, namun akan tetap hidup di hati kita semuanya, rakyat Indonesia yang mencintainya,” kata dia, menutup sambutan dalam upacara pemakaman kemarin.

Selain Jokowi, turut hadir beberapa pejabat teras. Di antaranya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa, KSAL Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, dan KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna. Beberapa menteri pun tampak hadir. Demikian pula mantan presiden dan wakil presiden. Tidak terkecuali Megawati Soekarnoputri.

Saat upacara pemakaman itu, Siti Ruby Aliya Rajasa, menantu SBY, berkali-kali mengelus pundak Ibas, suaminya. Sementara itu, tiga cucu SBY dari pasangan suami istri tersebut silih berganti pindah dari pangkuan kakek, ibu, maupun pamannya. Sedangkan Almira, putri Agus dan Annisa Pohan, serupa kakeknya. Dia cenderung diam sepanjang upacara pemakaman sang nenek.

SBY Ungkap Keinginan Ani

SBY memberi penghormatan terakhir kepada almarhumah istrinya, Ani Yudhoyono di TMP Kalibata, Jakarta, Minggu (2/6). (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Malam sebelumnya di Pendapa Puri Cikeas, SBY menyampaikan beberapa hal sebelum mengantar istri tercintanya ke tempat peristirahatan terakhir. “Saya ingin mengantar anak cucu ke sekolah. Saya ingin fotografi lagi, menemui saudara-saudara saya yang ada di Indonesia dalam suasana yang rileks, bebas dari politik dan kepentingan apa pun,” kata SBY, menirukan ucapan Ani soal harapannya apabila sembuh dari kanker darah.

Harapan itu disampaikan SBY sebelum menyalati jenazah Ani di Pendapa Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, kemarin. Di hadapan ratusan kerabat dan kolega, SBY kembali mengenang detik-detik sebelum Ani mengembuskan napas terakhir di NUH Singapura. Tidak sedikit pelayat yang meneteskan air mata saat mendengar kisah itu. “Ibu Ani selalu meneteskan air mata melihat saudaranya masih ingat dan mendoakan di tengah-tengah perjuangan yang berat untuk melawan blood cancer dengan kategori very very aggressive itu,” tutur SBY yang didampingi kedua anaknya, Agus dan Edhie, serta menantu dan cucu-cucunya.

Suasana kesedihan di pendapa itu membuncah ketika SBY menceritakan momen Ani meneteskan air mata meski berada dalam kondisi deep sleep akibat obat bius. Titik-titik air mata itu tiba-tiba keluar perlahan, seiring suara-suara doa SBY dan anak-anaknya yang dibisikkan ke telinga Ani.

“Karena Ibu Ani sengaja ditidurkan dengan obat bius, secara logika Ibu tidak bisa mendengar,” kenang SBY dengan suara terbata-bata. SBY yang melihat titik air mengalir dari sudut-sudut mata Ani pun ikut menangis. Dia yakin bahwa Ani mendengar doa-doa itu meski dibius.

Saat itu SBY mengambil tisu yang tak jauh dari ranjang istrinya. Namun, air dari matanya terus mengalir dan menetes hingga jatuh ke kening Ani. “Ya Tuhan, inilah persatuan air mata kami, air mata cinta, air mata kasih, dan air mata sayang,” ungkap presiden ke-6 RI itu, tak mampu menyembunyikan kesedihan.

Momen mengharukan tersebut mengantarkan Ani “pulang” dengan damai. Menurut SBY, istrinya mengembuskan napas terakhir dengan begitu tenang. Tanpa guncangan. Setelah mengetahui Ani telah berpulang, SBY mencium kening Ani seraya mengucapkan kata-kata perpisahan terakhir. “Selamat jalan istri tercinta, goodbye, semoga engkau hidup tenang dan bahagia di sisi Allah SWT, Tuhan Yang Mahakuasa,” tutur SBY dengan suara lebih rendah daripada sebelumnya.

Dalam kondisi di puncak kesedihan itu, SBY teringat pesan istrinya yang pasrah dan ikhlas menghadapi penyakit kanker. “Dia (Ani, Red) mengatakan kepada saya, never give up,” imbuh dia.

Selama empat bulan SBY dan keluarga besar Yudhoyono bergantian menjaga Ani di rumah sakit. Selama itu pula petugas medis menyampaikan bahwa Ani adalah sosok yang kuat karena bisa bertahan dalam kondisi kritis.

Setelah menceritakan momen penting tersebut, SBY bersama Agus dan Edhie serta ratusan pelayat yang menyesaki Pendapa Puri Cikeas melaksanakan salat Jenazah. Salat itu diimami wakil presiden terpilih Ma’ruf Amin. Setelah selesai, SBY menuju rumah utama untuk beristirahat dan menerima kunjungan tamu-tamu VIP. Antara lain; Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto; Sinta Nuriyah (istri almarhum Gus Dur); Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin; mantan Menteri Pendidikan Nasional M. Nuh, dan Ketua DPR Bambang Soesatyo.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (syn/tyo/c11/git)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua