alexametrics
Korban Pertama yang Diketahui Identitasnya

Kabar Teridentifikasinya Jenazah Cintya 15 Menit setelah Istighotsah

Tim DVI Terkendala Kecilnya Potongan Tubuh
1 November 2018, 09:35:50 WIB

JawaPos.com – Istighotsah itu sengaja diadakan keluarga untuk mendoakan Jannatun Cintya Dewi. Agar salah seorang korban jatuhnya pesawat Lion Air tersebut dapat segera ditemukan. Dalam kondisi hidup atau sudah meninggal.

Dan, tadi malam, sekitar pukul 20.00 WIB, 15 menit setelah istighotsah yang dihelat sejak Selasa lalu (30/10) itu berakhir, kepastian akhirnya datang.

Cintya jadi korban pertama jatuhnya Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 yang jenazahnya bisa diidentifikasi.

Kabar Teridentifikasinya Jenazah Cintya 15 Menit setelah Istighotsah
Almarhumah Jannatun Cintya Dewi semasa hidup. Jannatun adalah korban Lion Air JT 610 yang pertama teridentifikasi oleh Tim DVI Polri. (Repro Jawa Pos Photo)

“Jenazah dibawa ke rumah duka besok (hari ini, Red). Berangkat dari Jakarta pukul 05.00,” tutur Kapolsek Sukodono, Sidoarjo, AKP Sumono kepada Jawa Pos.

Keluarga staf Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) itu langsung menyiapkan keperluan pemakaman. Jenazah perempuan 24 tahun tersebut rencananya dimakamkan di kampung halaman di Dusun Prumpon, Desa Suruh, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Hingga tadi malam tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri memang menghadapi tantangan berat dalam mengidentifikasi jenazah korban kecelakaan pesawat Lion Air. Sebab, potongan tubuh korban yang didapat kian kecil.

Pencocokan posmortem dari 87 bagian tubuh korban dengan antemortem berupa tanda-tanda medis dari keluarga hanya berhasil mengidentifikasikan Cintya. Akhirnya, DVI hanya bergantung pada tes DNA untuk menentukan identitas korban lain. Yang ditargetkan bisa diketahui hasilnya dalam delapan hari.

Kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati Kombespol Musyafak menuturkan, sampai kemarin (31/10), data antemortem atau data identitas korban dari keluarga yang telah masuk sebanyak 191 data. Satu keluarga bisa memasukkan lebih dari satu data antemortem.

“Namun, untuk data antemortem berupa tanda medis seperti struktur gigi, sidik jari, dan sebagainya, kami mohon keluarga melengkapi,” ujarnya di Jakarta kemarin.

Data antemortem berupa tanda medis tersebut coba dicocokkan dengan posmortem atau data yang diambil dari jenazah korban. Hasilnya berupa pengidentifikasian Cintya.

“Jenazah dapat diidentifikasi karena ditemukan bagian tubuh yang masih baik,” tuturnya.

Sementara itu, Kapusinafis Polri Brigjen Hudi Suryanto menjelaskan bahwa jenazah korban mampu diidentifikasi karena ditemukan tangan bagian kanan yang masih menyambung dengan bagian dada hingga perut. Lalu, kondisi sidik jari yang masih baik. “Maka, kami scan sidik jari bagian telunjuk yang relatif baik hingga keluar identitasnya,” jelasnya.

Bagaimana dengan identifikasi korban lainnya? Kapudokkes Polri Brigjen Arthur Tampi menjelaskan bahwa data antemortem para korban lain kurang kuat. Karena itu, tim DVI memutuskan menunda menyimpulkan identitas mereka.

“Dalam proses pencocokan atau rekonsiliasi ini terjadi pembicaraan yang ketat,” paparnya.

Salah satu contohnya, terdapat data berupa tato dari pihak keluarga. Namun, tidak bisa dicocokkan dengan jenazah korban. Bahkan, untuk menentukan identitas korban yang masih anak dan bayi juga kurang meyakinkan.

Sebab, ada sebagian tim DVI yang tidak setuju dalam menentukan usia korban berdasar rontgen untuk mengetahui pertumbuhan tulang. “Untuk itu, kami putuskan menunggu hasil tes DNA,” ujarnya.

Dari 189 keluarga penumpang dan kru pesawat, baru diambil 147 sampel DNA. Artinya, setidaknya masih kurang 41 sampal DNA dari keluarga. Bahkan, bisa lebih karena untuk satu korban bisa jadi membutuhkan beberapa sampel. Atau malah yang melapor dari keluarga ada lebih dari satu.

“Kami mohon agar secepatnya dilengkapi,” terangnya. Apakah kondisi jenazah yang rusak itu bisa menentukan penyebab kematian? Dia menjelaskan bahwa Polri akan memberikan masukan kepada KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) dari hasil identifikasi jenazah korban. Dengan begitu, investigasi untuk mengetahui proses kecelakaan bisa lebih cepat. “Tapi, bukan kami yang berwenang menjelaskan soal kecelakaan,” ujarnya.

Polri tidak hanya mengerahkan tim DVI, tapi juga tim psikologi. Mereka bertugas menyembuhkan trauma keluarga korban. Dari upaya tersebut, keluhan paling menonjol dari keluarga soal identitas korban.

Arthur menjelaskan, keluarga korban merasakan kesedihan yang makin dalam akibat munculnya nama, bahkan kartu identitas korban kecelakaan pesawat, di media sosial dan media massa. “Keluarga minta foto KTP jangan diulang-ulang ditayangkan, bikin sakit hati. Kami minta semua memahaminya,” tuturnya.

Kemarin Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman Djohan ikut memberikan semangat kepada keluarga korban kecelakaan pesawat di ruang trauma healing RS Polri. Setidaknya 128 warga Bangka Belitung menjadi korban dalam kejadiaan nahas itu.

“Kami menerima keluhan yang sama, bagian tubuh korban, barang-barang KTP, foto, jangan dimunculkan terus. Ini sangat berpengaruh,” tuturnya saat ditemui di RS Polri kemarin.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (idr/lyn/edi/far/lyn/wan/c10/c9/ttg/agm)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Kabar Teridentifikasinya Jenazah Cintya 15 Menit setelah Istighotsah