JawaPos Radar

Mahfud MD: Indonesia Tikusnya Lebih Besar dari Kucing, Makanya Takut

31/07/2018, 12:16 WIB | Editor: Kuswandi
Mahfud MD
Mantan Ketua MK Mahfud MD (Imam Husein/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Korupsi masih menjadi tinta hitam bagi bangsa Indonesia. Perilaku tikus-tikus berdasi itu disebut-sebut sebagai salah satu penghambat kemajuan negeri ini dan merupakan faktor terkuat pembuat kesangsaraan rakyat.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD sepakat jika musuh terbesar Indonesia di masa sekarang yakni koruptor. Dari sekian banyak permasalahan di negeri ini disebutnya yang paling mendasar adalah korupsi.

"Indonesia itu tantangannya adalah korupsi," ujar Mahfud di Orasi Kebangsaan Vox Point Indonesia di Kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (31/7).

Pernyataan itu dikeluarkan Mahfud karena ia percaya dengan statement Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2012 silam. Kala itu komisi antirasuah itu mengundang ahli ekonomi dari Amerika Serikat untuk menghitung kekayaan Indonesia jika tidak ada korupsi.

"Hasil hitungannya mengejutkan, kalau di Indonesia korupsi di pertambangan saja bisa dihapus dan pertambangan bisa dikelola profesional, maka setiap orang di Indonesia per kepala setiap bulan bisa dapat Rp 20 juta secara gratis," lanjutnya.

Selain pertambangan, sektor pajak Indonesia juga harus menjadi perhatian. Sebab dengan segala potensinya, apabila dikelola dengan baik dan terhindar dari mafia berdasi, maka penerimaan pajak disebut bisa menutup seluruh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tanpa meminjam dana dari pihak luar.

Menurut Mahfud figur-figur yang betul-betul menegakkan hukum seadil-adilnya untuk memberantas korupsi di Indonesia sangat sulit dicari. Sebab kebanyakan mereka yang berteriak melawan korupsi namun mereka juga yang menjadi aktor koruptor.

"Sekarang itu di Indonesia tikusnya lebih besar dari kucingnya, makanya kucing nggak berani sama tikus," tegasnya.

Di sisi lain, mantan Ketua MK itu menyinggung jika di masa sekarang masih ada beberapa kelompok yang mempersoalkan ideologi negara. Sebab dasar bangsa sudah diputuskan bersama oleh para pendiri bangsa dengan sebaik mungkin, sehingga tidak perlu diributkan kembali.

"Kalau mempersoalkan ideologi itu ketinggan zaman, sekarang tuh mempersoalkan korupsi," pungkasnya.

(ce1/sat/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up