alexametrics

Dua Pengedit Video Kapolri ‘Masyarakat Boleh Ditembak’ Ditangkap

31 Mei 2019, 13:10:06 WIB

JawaPos.com – Dua pengedit video hoaks atau berita bohong  Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto ditangkap aparat kepolisian. Para pelaku mengaku iseng dengan menyebarkan berita hoaks lewat akun Facebooknya.

KaroPenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan dua pelaku itu berinisial FA, 20, dan AH, 24. Keduanya mengedit video Kapolri dan Panglima TNI saat melakukan inspeksi pasukan pengamanan Pemilihan Presiden 2019. Keduanya memelintir dan memotong kalimat yang ada.

“Oleh pelaku video tersebut di edit hanya pada pernyataan ‘masyarakat boleh ga ditembak?’ dan pada caption akun Facebook tersebut tersangka FA mengatakan ‘Maksudnya apa ya masyarakat boleh di tembak?” kata Dedi saat dikonfirmasi wartawan, Jumat (31/5).

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo. (Dok. JawaPos.com)

Berdasarkan pengakuan tersangka pada polisi, mereka melakukan hal ini karena termotivasi sering mendengar isi ceramah dari Pentolan FPI, Rizieq Shihab di channel Youtube yang berisikan kebencian terhadap pemerintah dan aparat keamanan negara.

“Tersangka mengaku termotivasi untuk melakukan perbuatan tersebut karena tersangka sering mendengar dan menonton ceramah Ust HRS melalui media sosial Youtube sehingga tersangka tidak suka dengan pemerintahan sekarang ini,” katanya lagi.

Adapun potongan video Kapolri saat menginspeksi pasukan itu telah diedit. Hasilnya, Kapolri seolah memberi perintah untuk menembak masyarakat.

“Masyarakat boleh nggak ditembak?” tanya Tito kepada pasukannya dalam video yang diedit tersebut.

“Siap boleh jenderal!” jawab pasukan yang ditanya.

Dalam unggahannya, FA turut memberi keterangan “Maksudnya apa ya masyarakat boleh ditembak?”.

Padahal dalam video asli, Tito dengan lantang bertanya mengenai tindakan yang harus diambil saat ada massa aksi yang membawa senjata dan mengancam masyarakat, “Saya mau tanya, kalau di lapangan tiba-tiba ada orang bawa parang mau membunuh masyatakat, boleh nggak ditembak?” tanya Tito di video asli.

Atas perbuatannya itu, tersangka dijerat Pasal 51 Jo Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan/atau Pasal 45 ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) dan/atau 14 ayat (1) dan (2) dan/atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan / atau denda Paling banyak Rp12 miliar.

Editor : Bintang Pradewo



Close Ads