alexametrics

Pengacara Sunda Empire Sebut Perbedaan Versi Sejarah Hal Lumrah

30 Juni 2020, 16:20:59 WIB

JawaPos.com–Tim pengacara para terdakwa kasus hoaks Sunda Empire menyatakan klaim perbedaan versi sejarah merupakan hal yang lumrah terjadi dalam dunia keilmuan. Hal itu disampaikan saat sidang pembacaan eksepsi di Pengadilan Negeri Bandung pada Selasa (30/6).

Pengacara terdakwa Sunda Empire Misbahul Huda menilai, hal tersebut seharusnya tidak dijadikan sebagai tindakan pemidanaan, melainkan harus diselesaikan dengan pendekatan dialog dan musyawarah. ”Dalam kasus ini, pendekatan yang lebih jelas dan tepat justru bukan pendekatan represif atau pemidanaan, melainkan pendekatan dialog, musyawarah, dan debat akademis. Di situlah baik para pegiat Sunda Empire maupun tokoh atau akademisi bisa saling beragumentasi mengenai klaim sejarahnya masing-masing berdasarkan bukti-bukti yang ada,” kata Misbahul seperti dilansir dari Antara.

Apabila para tokoh Sunda Empire tidak bisa membuktikan kebenarannya, lanjut dia, tidak harus ditindak melalui jalur pidana. Seharusnya mereka dibina dengan pemahaman sejarah yang telah terbukti kebenarannya. ”Dengan demikian, prinsip restoratif justice yang saat ini terus diupayakan dalam pembaharuan hukum pidana di Indonesia dapat terpenuhi,” ujar Misbahul Huda.

Di sisi lain, menurut dia, kasus yang berawal dari klaim sejarah itu masuk pada domain ilmu sejarah yang merupakan salah satu bagian dari ilmu sosial dan potensi ketidakpastiannya lebih besar dari pada ilmu hukum. Lalu dari klaim sejarah itu, para terdakwa dituduh menyebarkan informasi bohong. Tuduhan itu didukung pula dengan hasil pemeriksaan terhadap ahli sejarah, akademisi, budayawan dan saksi-saksi lain yang memberikan keterangan yang berbeda dengan keterangan klaim Sunda Empire.

”Dalam kajian sejarah, cukup banyak peristiwa yang memiliki versi sejarah yang saling berbeda satu sama lain dan itu adalah hal yang lumrah,” ucap Misbahul Huda.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat mendakwa tiga petinggi kekaisaran fiktif Sunda Empire telah menyebarkan berita bohong atau hoaks yang menerbitkan keonaran di tengah masyarakat. Tiga petinggi itu yakni, Nasri Banks sebagai perdana menteri, Raden Ratnaningrum sebagai kaisar, dan Ki Ageng Ranggasasana sebagai sekretaris jenderal. Selain membuat keonaran, jaksa juga mendakwa mereka telah merusak keharmonisan masyarakat Sunda.

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Latu Ratri Mubyarsah

Reporter : Antara



Close Ads