alexametrics

KPK Periksa Eks Pejabat Kementerian BUMN Terkait Dugaan Korupsi PTDI

30 Juni 2020, 12:02:47 WIB

JawaPos.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap mantan Deputi Bidang Industri Strategis dan Manufaktur Kementerian BUMN, Irnanda Laksanawan. Dia bakal diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan korupsi penjualan dan pemasaran pesawat di PT Dirgantara Indonesia.

“Irnanda Laksanawan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka BS (Budi Santoso),” kata pelaksana tugas (Plt)
juru bicara KPK, Ali Fikri dikonfirmasi, Selasa (30/6).

Selain Irnanda, KPK juga menjadwalkan pemeriksaan terhadap dua pejabat dan mantan pejabat PT Dirgantara Indonesia, yakni Ade Yuyu Wahyuna selaku Kadiv Business, Development and Marketing PT DI serta Hermawan Hadi, mantan Direktur Keuangan dan Administrasi PT Dirgantara Indonesia.

Selain itu, KPK juga menjadwalkan pemeriksaan terhadap Jannie, mantan Kasir PT Sincere Valindo serta Sugeng Riyadi dan Agus Widaryanto, pihak swasta yang tercatat sebagai karyawan PT Angkasa Mitra Karya, PT Bumiloka Tegar Perkasa dan PT Abadi Sentosa Perkasa. Ketiga perusahaan itu ditunjuk sebagai mitra PT Dirgantara Indonesia dalam penjualan dan pemasaran pesawat. “Mereka juga diperiksa untuk tersangka BS,” jelas Ali.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan dua orang sebagai tersangka. Mereka adalah mantan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso dan mantan Asisten Direktur Utama bidang Bisnis Pemerintah PT Dirgantara Indonesia Irzal Rinaldi Zailani.

Kasus korupsi ini bermula pada awal 2008, saat Budi Santoso dan Irzal Rinaldi Zailani bersama-sama dengan Budi Wuraskito selaku Direktur Aircraft Integration, Budiman Saleh selaku Direktur Aerostructure, serta Arie Wibowo selaku Kepala Divisi Pemasaran dan Penjualan menggelar rapat mengenai kebutuhan dana PT Dirgantara Indonesia untuk mendapatkan pekerjaan di kementerian lainnya.

Dalam rapat itu juga dibahas mengenai biaya entertainment dan uang rapat-rapat yang nilainya tidak dapat dipertanggungjawabkan melalui bagian keuangan.

Budi Santoso mengarahkan agar tetap membuat kontrak kerjasama mitra atau keagenan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut. Namun sebelum dilaksanakan, Budi meminta agar melaporkan terlebih dahulu rencana tersebut kepada pemegang saham yaitu Kementerian BUMN.

Setelah sejumlah pertemuan, disepakati kelanjutan program kerjasama mitra atau keagenan dengan mekanisme penunjukkan langsung. Selain itu, dalam penyusunan anggaran pada rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) PT Dirgantara Indonesia, pembiayaan kerjasama tersebut dititipkan dalam ‘sandi-sandi anggaran’ pada kegiatan penjualan dan pemasaran.

Selanjutnya, Budi Santoso memerintahkan Irzal Rinaldi Zailani dan Arie Wibowo untuk menyiapkan administrasi dan koordinasi proses kerjasama mitra atau keagenan. Irzal pun menghubungi Didi Laksamana untuk menyiapkan perusahaan yang akan dijadikan mitra atau agen.

Kemudian, mulai Juni 2008 hingga 2018, dibuat kontrak kemitraan atau agen antara PT Dirgantara Indonesia yang ditandatangani oleh Direktur Aircraft Integration dengan Direktur PT Angkasa Mitra Karya, PT Bumiloka Tegar Perkasa, PT Abadi Sentosa Perkasa, PT Niaga Putra Bangsa, dan PT Selaras Bangun Usaha.

Atas kontrak kerjasama tersebut, seluruh mitra atau agen tidak pernah melaksanakan pekerjaan berdasarkan kewajiban yang tertera dalam surat perjanjian kerjasama.

PT Dirgantara Indonesia baru mulai membayar nilai kontrak tersebut kepada perusahaan mitra atau agen pada 2011 atau setelah menerima pembayaran dari pihak pemberi pekerjaan. Selama tahun 2011 sampai 2018, jumlah pembayaran yang telah dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia kepada enam perusahaan mitra atau agen tersebut sekitar Rp 205,3 milyar dan USD 8,65 juta, atau sekira Rp 330 miliar.

Atas perbuatannya, Budi Santoso dan Irzal Rinaldi disangkakan melanggar pasal 2 atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Muhammad Ridwan



Close Ads