alexametrics

RA Ngaku Ngelawan Karena Tak Mau Lagi Jadi Boneka Pemuas Syahwat SAB

29 Desember 2018, 00:01:27 WIB

JawaPos.com – Tenaga Kontrak Asisten Ahli Dewas BPJS-TK berinisial RA mengaku mendapatkan empat kali tindak kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh salah seorang Anggota Dewan Pengawas BPJS-KT berinisial SAB. Pada kali kelimanya, akhirnya korban memilih melawan pelaku pemerkosaan itu.

Usai perlawanan yang diberikan oleh korban, RA mengaku malah dirinya dimarahi oleh SAB dengan alasan tidak bekerja secara profesional di kantor BPJS-KT.

“Pada 28 November 2018, atasan saya itu memarahi saya karena dianggap tidak bekerja profesional. Saya merasa dia marah karena dia tahu saya tidak lagi mau jadi boneka pemuas syahwat dia. Saya memilih tidak akan diam,” ungkap RA, Jumat (28/12).

Di hari yang sama, sambung RA, dia nyaris mendapat kekerasan fisik. SAB berniat melempar gelas ke arah wajah RA. Untungnya pada saat itu, salah seorang teman RA mencegahnya.

“Kekerasan fisik terakhir terjadi 28 November 2018, yang bersangkutan ingin melempar gelas ke muka saya. Lalu sempat dicegah oleh rekan saya yang ada di situ,” ujarnya.

Selain ancaman kekerasan fisik, RA juga mendapat ancaman psikis sehingga membuat RA merasa tidak nyaman yang hampir berujung pada peristiwa ingin bunuh diri. Namun, niatan itu tak jadi dilakukan. Karena dia harus bertahan untuk membongkar kejahatan atasannya suatu saat nanti.

“Saya dapat ancaman psikis, saya dikondisikan supaya tidak nyaman, dibentak, dan dikucilkan oleh semua anggota komite, saya di-blackmail sama SAB,” imbuhnya.

Tak lama setelah mendapatkan perilaku tersebut, RA memberanikan diri membongkar kejahatan seksual yang dilakukan SAB melalui unggahan status aplikasi pesan singkat WhatsApp.

“Saya mulai membeberkan perilaku dia, saya nyebarin screenshot chat-chat WA (WhatsApp) dia selama ini kepada saya melalui status WA saya. Ini tentu saja menggegerkan,” tukasnya.

Dia juga telah melaporkan perilaku bejat pimpinannya itu ke Ketua Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan. Namun, menurutnya ketua Dewan Pengawas malah membela si pelaku.

“Ternyata dewan pengawas justru membela perilaku bejat itu. Hasil rapat dewan pengawas pada 4 Desember justru memutuskan untuk mengeluarkan perjanjian bersama yang isinya mem-PHK saya sejak akhir Desember 2018. Saya menolak menandatangani itu,” tambahnya.

Tak berhenti di situ, dia juga sudah mengirim surat ke Dewan Jaminan Sosial Negara (DJSN) dan mengirim surat ke Presiden Joko Widodo terkait kasus ini.

“Saya membuat persetujuan ini dengan penuh kejujuran. Saya berani mempertanggungjawabkan apa yang saya sampaikan. Saya tidak ingin menang, tapi kejahatan yang dilakukan seseorang yang memilki jabatan sangat tinggi itu tidak boleh dibiarkan,” tegasnya.

“Saya berdoa. Semoga saya adalah perempuan terakhir yang menjadi korban kejahatan seksual di Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan, atau di tempat kerja di mana pun di Indonesia ini,” pungkasnya.

Di tempat yang sama, Ade Armando yang merupakan dosen sekaligus pendamping AR dalam proses ini, mengapresiasi keberanian AR untuk mengungkap dan berbicara di depan publik atas pelecehan seksual yang dialaminya. Menurutnya, kasus-kasus seperti ini sering terhambat karena korban enggan membukanya di ruang publik.

“Pelaku harus diekspos kepada publik. Publik harus tahu ada kejahatan seksual, dan korban dan pelaku adalah ini. Kenapa tidak langsung bertindak sejak perkosaan pertama terjadi, itu adalah sesuatu yang lazim terjadi dalam perkosaan,” jelasnya.

“Begitu orang pertama mengalami perkosaan, dia takut malu dan rendah hati, takut kehilangan pekerjaan, takut bahwa dia justru tidak dipercaya publik,” tutupnya.

Editor : Fersita Felicia Facette

Reporter : (ce1/ipp/JPC)



Close Ads
RA Ngaku Ngelawan Karena Tak Mau Lagi Jadi Boneka Pemuas Syahwat SAB