Belanja Online, 2 Mahasiswa Indonesia Bobol Kartu Kredit WN Australia

29/08/2018, 17:16 WIB | Editor: Ilham Safutra
Kabareskrim Irjen Pol Areif Sulistyanto menghadirkan tersangka pencurian data nasabah kartu kredit warga negara Australia, di Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (28/8). (FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS)
Share this

JawaPos.com - Kemajuan teknologi bisa dimanfaatkan orang tak bertanggung jawab untuk berbuat kejahatan. Seperti yang dilakukan dua mahasiswa Indonesia. Mereka membobol kartu kredit warga negara (WN) Australia.

Jumlahnya kartu kredit yang dibobol mencapai 4 ribu dari 1.500 warga negeri Kangguru tersebut. Data kartu kredit itu digunakan untuk transaksi barang via online senilai USD 20 ribu atau Rp 290 juta (1 USD = Rp 14.500). Mereka ditangkap polisi Juni lalu dan kasusnya baru dirilis kemarin oleh Kabareskrim Irjen Arief Sulistyanto.

Mahasiwa tersebut adalah Dedek Saputra Caniago dan Aditya Rahman. Keduanya merupakan mahasiswa teknik sipil. Dedek mahasiswa di Bandung. Aditya kuliah di Jogjakarta.

Kabareskrim Irjen Pol Areif Sulistyanto (kanan) dan Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol Albertus Rachmad Wibowo (kedua kanan) menghadirkan tersangka dalam rilis pengungkapan tinda (FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS)

Kabareskrim Irjen Arief Sulistyanto menuturkan, awalnya keduanya mengirim e-mail yang seakan-akan berasal dari berbagai toko online terkenal di Australia. Isi e-mail itu dibuat menggiurkan dengan diskon besar.

"Saat penerima e-mail mencoba membeli secara online, aplikasi SQLi Dumper yang telah disematkan dalam e-mail otomatis berjalan," ujarnya.

Aplikasi tersebut memunculkan halaman PayPal palsu. Saat penerima e-mail memasukkan data kartu kredit itulah, data dikirim kepada kedua pelaku. Hasilnya, kedua pelaku selama dua tahun (2017-2018) menguasai 4 ribu data kartu kredit milik warga negara Australia. "Data-data ini digunakan untuk membeli barang elektronik dari toko online sebenarnya di Australia," tuturnya.

Untuk memuluskan kejahatannya, Dedek dan Aditya mencari mahasiswa Indonesia yang mau dipinjam alamatnya untuk menerima barang yang dibeli dari toko online. Caranya adalah dengan berjualan tiket pesawat murah kepada mahasiswa Indonesia. "Mahasiswa yang diperdaya itu berinisial AS yang sedang belajar di Quensland, Australia," paparnya.

Kasubdit I Dittipid Siber Bareskrim Kombespol Dani Kustoni menuturkan, tiket murah itu juga dibeli dengan data kartu kredit curian tersebut. Mereka memberikan diskon yang lumayan agar pembeli tiket mau dimintai tolong. "Mereka berupaya mencari tiket promo juga yang harganya murah. Ini bagian dari cara mereka memperdaya AS," tuturnya.

Kedua pelaku dan AS tidak pernah bertemu muka. Keduanya hanya berkomunikasi via media sosial. "Sudah banyak barang yang dikirim AS kepada kedua pelaku," paparnya saat ditemui di kantor Dittipid Siber Bareskrim di Cideng, Tanah Abang, Jakarta.

Barang elektronik yang dibeli, antara lain, kamera, komputer, dan handphone. "Ini kami ketahui setelah komunikasi dengan Konjen Indonesia di Sydney," terangnya.

Direktur Dittipid Siber Brigjen Rahmad Wibowo menjelaskan, AS sempat ditangkap polisi Australia. Dia dituduh menjadi kaki tangan dalam pencurian data tersebut. Dia juga telah menjalani sidang di sana.

Arief menambahkan, karena pengungkapan kasus di Bareskrim itu, AS tidak jadi dihukum penjara oleh pengadilan Australia. Dia hanya dikenai denda AUD 500 atau sekitar Rp 5,7 juta. "Ini bukti bahwa penegakan hukum di Indonesia bisa untuk melindungi warga negara Indonesia di luar negeri," terangnya. 

(idr/c6/tom)

Berita Terkait

Rekomendasi