alexametrics

Jabatan Irjen Ferdy Sambo sebagai Kasatgasus Polri Disorot

29 Juli 2022, 15:12:28 WIB

22 Hari Bekerja, Polisi Belum Berhasil Ungkap Misteri Penembakan Brigadir Yosua

JawaPos.com – Hari ini (29/7) tepat 22 hari Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat tewas. Namun, hingga kini, kasus penembakan di rumah Kadivpropam (nonaktif) Irjen Pol Ferdy Sambo itu belum juga terungkap. Bagaimana sebenarnya kronologi penembakan, apa motifnya, dan siapa tersangkanya belum juga jelas.

Yang pasti, hingga saat ini, satu kejadian penembakan itu masih ditangani dua pihak.

Pertama, kasus dugaan pembunuhan berencana yang ditangani tim khusus (timsus) bentukan Kapolri Jenderal Listyo Sigit. Kasus itu berdasar laporan tim kuasa hukum keluarga Brigadir Yosua.

Kedua, kasus dugaan pelecehan yang diusut Polda Metro Jaya. Untuk yang satu ini, pelapornya adalah Bharada E.

Tim kuasa hukum keluarga Brigadir Yosua, M. Febrian, mengakui penanganan kasus itu terasa kurang cepat. Meski begitu, penyelidikan dan penyidikan timsus sudah berjalan. ”Kini posisinya menunggu hasil ekshumasi. Meninggal karena apa, lukanya diakibatkan senjata apa,” terangnya.

Kuasa hukum melihat bahwa Polri dalam penyelidikan dan penyidikan bersikap hati-hati. Namun, akan ada saatnya kuasa hukum dan keluarga Brigadir Yosua mempertanyakan siapa tersangka dalam kasus dugaan pembunuhan berencana tersebut. ”Karena kasusnya sudah naik status ke penyidikan,” jelasnya.

Terkait dengan hasil ekshumasi yang baru keluar 4–8 pekan mendatang, Febrian menyatakan bahwa kuasa hukum menghormati kinerja tim forensik. ”Ada sampel yang harus diteliti di Jakarta juga,” paparnya.

Di sisi lain, Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Keamanan yang terdiri atas 14 civil society organization (CSO) mempertanyakan posisi Irjen Pol Ferdy Sambo yang masih aktif mengampu jabatan di Polri. Dalam Surat Perintah Kapolri Nomor Sprin/1583/VII/HUK.6.6/2022, Sambo diketahui tercatat sebagai kepala satuan tugas khusus (Kasatgasus) Polri sejak 1 Juli hingga 31 Desember mendatang.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid yang masuk koalisi CSO tersebut menjelaskan, jabatan Sambo yang diteken langsung oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit itu terbilang masih baru. Sepengetahuannya, surat perintah itu masih berlaku. Posisi Sambo belum dinonaktifkan dari jabatan tersebut.

”Kadivpropam (nonaktif) masih tercatat sebagai kepala satgas khusus yang dibentuk Kapolri,” kata Usman dalam konferensi pers kemarin (28/7). ”Dalam hal ini, kami mempertanyakan apakah penonaktifan Ferdy Sambo sebagai Kadivpropam juga diikuti penonaktifan sebagai kepala satgas khusus itu,” lanjut mantan koordinator Kontras tersebut.

Posisi Sambo yang masih aktif sebagai Kasatgasus, kata Usman, berpotensi memunculkan konflik kepentingan dalam pengusutan kasus tewasnya Brigadir Yosua. Sebab, satgasus itu beranggota perwira tinggi, menengah, bintara, hingga tamtama polisi. Apalagi, ada sebagian yang terlibat dalam pengusutan kasus Yosua hingga penyelidikan kasus dugaan pelecehan seksual istri Sambo.

Masyarakat sipil khawatir jabatan Sambo tersebut memengaruhi proses pengusutan kematian Yosua. Bahkan, yang paling buruk, penanganan kasus yang masih di tahap penyidikan tersebut terancam tidak bisa berjalan efektif. ”Karena dengan jabatan itu, dia (Sambo, Red) sangat mungkin memengaruhi proses pengusutan (kematian Yosua, Red),” ujar Usman.

Rumah Bharada E Kosong

Hingga kemarin, sosok Bharada E belum terungkap dengan jelas. Beredar kabar bahwa Bharada E yang bernama lengkap Richard Eliezer Pudihang Lumiu merupakan anggota Polri asal Sulawesi Utara (Sulut). Tim Manado Post kemarin mencari jejak rumah Bharada E di Manado.

Informasinya, Bharada E tinggal di lokasi perumahan di pinggiran Kota Manado. Penelusuran terus dilakukan. Dari hasil tanya-tanya, akhirnya didapat informasi bahwa Bharada E tinggal di Kelurahan Mapanget Barat, Kecamatan Mapanget, Manado. Penelusuran mengerucut ke salah satu perumahan yang terletak tak jauh dari Bandara Internasional Sam Ratulangi, Manado. Namun, mendapatkan informasi tentang keberadaan rumah Bharada E tidak mudah.

Beberapa warga yang dikonfirmasi di perumahan tersebut enggan memberikan informasi. ’’Kurang tahu di mana,’’ kata warga di beberapa lokasi berbeda saat ditanya mengenai rumah keluarga Bharada E.

Akhirnya, dari sumber tepercaya, diperoleh informasi akurat tentang rumah keluarga Bharada E. ’’Jadi, orang tuanya (Bharada E) memang tinggal di sini. Mama dan papanya yang tinggal di sini karena memang kan rumah (keluarga) mereka di sini. Namun, dia (Bharada E) semenjak tugas, sudah tidak di sini, sudah (tinggal) di Jakarta,’’ jelasnya.

Rumah keluarga Bharada E berada di lokasi perumahan yang terbilang sepi. Akses jalan yang rusak menyulitkan kendaraan untuk masuk. Rumah itu berada di blok paling sudut dari perumahan tersebut. Keadaan rumah tampak kosong. Sepi dan sunyi. Tertera jelas nama keluarga Pudihang Lumiu di atas kusen pintu.

Di depan rumah terdapat pagar besi setinggi sekitar 2 meter yang tertutup rapat. Digembok menggunakan rantai.

Terlihat beberapa kursi plastik dan kursi kayu di teras yang disusun ke arah meja tamu berbentuk bundar. Tapi, lampu di teras dalam keadaan mati. Hanya ada beberapa pot tanaman yang dipajang. Di sisi paling dalam teras, ada beberapa barang yang ditumpuk. Tapi, rak sepatu di depan pintu kosong. Ada juga sampah yang berserakan di teras, terlihat sudah beberapa hari tidak dibersihkan.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : idr/tyo/rez/c19/c7/oni

Saksikan video menarik berikut ini:

Alur Cerita Berita

Lihat Semua