alexametrics

Selama Sepekan, Polri Tetapkan 10 Orang Tersangka Hoaks Aksi 22 Mei

28 Mei 2019, 12:22:06 WIB

JawaPos.com – Direktorat Siber Bareskrim Mabes Polri telah menetapkan 10 orang sebagai tersangka penyebaran berita bohong alias hoaks terkait aksi 22 Mei. Para pelaku terduga penyebar hoaks tersebut menggunakan media sosial (medsos) untuk menyebarkan kabar bohong tersebut.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, 10 orang tersebut diamankan jajaran Polri selama sepekan. Dia mengatakan, penangkapan ini merupakan kerja sama antara Direktorat Siber Bareskrim Mabes Polri dan Polda Metro Jaya.

“Sampai tanggal 21-28 Mei sudah ada 10 kasus hoaks yang saat ini ditangani oleh Direktorat Siber Bareskrim bersama beberapa Polda,” kata Dedi di kantor Kemenkopolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (28/5).

Tersangka pertama yang ditangkap Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri yakni SDA. Ia ditangkap pada 23 Mei 2019 terkait kasus penyebaran berita bohong adanya polisi Tiongkok yang ikut mengamankan jalannya aksi 21 dan 22 Mei. Tak hanya itu, SDA memberikan keterangan bahwa polisi Tiongkok turut menembak para demonstran.

Tersangka kedua yakni ASR yang ditangkap pada 26 Mei 2019. Ia menyebarkan konten di WhatsApp group bahwa ada seorang habaib yang dipersekusi dan dianiaya polisi dengan cara kepala dan dadanya diinjak-injak.

Ketiga, MNA, ditangkap pada 28 Mei 2019 karena menyebarkan konten negatif mengenai pemilu curang. Yang bersangkutan juga menyebarkan video penganiayaan di depan masjid di Tanah Abang, Jakarta Pusat, yang ternyata kejadian dan peristiwanya berbeda.

Tersangka keempat ada HU, ditangkap pada 26 Mei 2019 dengan kasus telah menyebarkan provokasi yang menimbulkan permusuhan atas SARA. Unggahan HU menuliskan keterangan Brimob bermata sipit melakukan sweeping ke masjid-masjid.

RR, tersangka kelima ini ditangkap pada 27 Mei 2019 karena mengunggah konten yang mengancam akan membunuh tokoh nasional. Kemudian tersangka keenam yakni M. Ia ditangkap oleh Polda Jawa Tengah terkait penyebaran informasi yang menimbulkan kebencian dan permusuhan, SARA.

Tersangka hoaks terkait aksi 22 Mei menyebarkan berita bohong mulai dari polisi Tiongkok hingga ancaman kepada tokoh nasional dan pimpinan lembaga survei. (Fedrik Tarigan/Jawa Pos)

Ketujuh, MS, ditangkap oleh Polda Sulawesi Selatan pada 27 Mei 2019 dengan konten menggantung foto tokoh nasional dengan caption “Mudah-mudahan manusia ini cepat mati”.

Tersangka ke delapan yakni DS, ditangkap Polda Jawa Barat 27 Mei 2019 terkait penyebaran berita bohong seorang remaja berusia 14 tahun yang dianiaya oleh polisi.

MA, tersangka ke sembilan ditangkap di Sorong, Papua pada 27 Mei 2019 karena menyebarkan konten negatif berupa foto dan video dengan narasi akan membunuh tokoh nasional.

Tersangka kesepuluh yakni H, ditangkap pada 28 Mei 2019 dengan narasi mengancam tokoh nasional yang menimbulkan ujaran kebencian.

“Dari sepuluh tersangka dari tujuh hari ini menggambarkan bahwa, aksi 21-22 Mei cukup meningkatkan akun-akun yang menyebarkan konten ujaran kebencian, hoaks,” ucap Dedi.

Ia menegaskan, tindakan hukum terhadap pelaku penyebar hoaks merupakan langkah terakhir setelah Polri bersama kementerian dan lembaga memberikan literasi digital kepada masyarakat.

“Penegakan hukum yang dilakukan langkah terakhir, setelah langkah persuasif bersama banyak sekali literasi yang kami sampaikan baik di media sosial maupun di media mainstream,” jelas Dedi.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Muhammad Ridwan

Alur Cerita Berita

Lihat Semua