JawaPos Radar

Usai Diperiksa, KPK Tahan Politikus Golkar Fayakhun Andriadi

28/03/2018, 18:47 WIB | Editor: Kuswandi
Fayakhun Andriadi
Politikus Golkar Fayakhun Andriadi saat akan dimasukkan ke Rutan, Rabu (28/3) (Fedrik Tarigan/Jawa Pos)
Share this image

JawaPos.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi menahan politikus Fraksi Golkar Fayakhun Andriati (FA) usai menjalani pemeriksaan perdana terkait kasus yang melilitnya.

Saat keluar dari ruang pemeriksaan sekitar pukul 17.25 WIB dengan mengenakan rompi tahanan KPK warna oranye, Fayakhun memilih bungkam saat dicecar berbagai pertanyaan oleh awak media.

Terpisah, terkait penahanan Fayakhun, Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, Fayakhun akan ditahan 20 hari pertama di rutan cabang KPK.

Gedung KPK
Gedung KPK Merah Putih (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

"FA ditahan 20 hari pertama di rutan cabang KPK," ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (28/3).

Pada kasus ini, Fayakhun diduga menerima ‎hadiah atau janji berupa uang setelah memuluskan anggaran proyek Bakamla. Dia mendapatkan imbalan satu persen dari proyek senilai Rp 1,2 triliun atau sebesar Rp 12 miliar.

Selain itu, Fayakhun juga diduga menerima dana suap sebesar USD 300 ribu. Uang tersebut diduga diterima Fayakhun dari proyek pengadaan di Bakamla.

Sejumlah uang yang diterima Fayakhun tersebut berasal dari Direktur Utama Melati Technofo Indonesia (PT MTI), Fahmi Dharmawansyah melalui anak buahnya, M. Adami Okta. Uang tersebut diberikan dalam empat kali tahapan.

‎Selain itu, terdapat juga sejumlah nama anggota DPR yang disebut menerima suap terkait proyek pengadaan alat satelit monitoring (satmon) di Bakamla. Mereka yakni, Politikus PDI Perjuangan, TB. Hasanuddin dan Eva Sundari, Politikus Partai Golkar, Fayakhun Andriadi, serta dua Politikus NasDem, Bertus Merlas dan Donny Priambodo.

Hal tersebut terungkap ketika Direktur PT Melati Technofo Indonesia (PT MTI), Fahmi Darmawansyah bersaksi untuk terdakwa mantan pejabat Bakamla, Nofel Hasan, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dalam kesaksiannya, Fahmi mengakui pernah memberikan uang sebesar Rp 24 miliar atau enam persen dari nilai total proyek alat satmon Bakamla sebesar Rp 400 miliar kepada Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi selaku narasumber Bakamla.

Uang tersebut diduga telah disalurkan Ali Fahmi kepada sejumlah anggota DPR untuk meloloskan anggaran proyek Bakamla ini.‎ Namun, KPK belum dapat mendalami lebih lanjut keterangan dari Ali Fahmi. Sebab, Fahmi hingga hari ini belum diketahui keberadaan. Terkait hal tersebut, dalam berbagai kesempatan para pihak anggota DPR yang dituding menerima duit pelumas proyek di Bakamla telah membantahnya.

(ce1/ipp/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up