alexametrics

Akibat Investasi BMG, Uang Negara Hilang USD 30 Juta

28 Februari 2019, 15:57:22 WIB

JawaPos.com – Sidang perkara dugaan korupsi investasi Pertamina di Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia kembali digelar. Agenda hari ini majelis hakim menghadirkan Deputi Pendanaan dan Manajemen Risiko Pertamina Evita Maryanti Tagor sebagai saksi.

Dalam kesaksiannya Evita Maryanti Tagor menyatakan, investasi Pertamina di BMG Australia tidak mendapatkan untung alias merugi. Investasi tersebut tidak sesuai rencana.

“Pada awal memang ada hasilkan minyak sedikit. Tapi memang enggak memberikan hasil yang diharapkan sesuai rencana,” kata Evita di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Kamis (28/2).

Menurut Evita, Blok BMG dikelola oleh Roc Oil Company (ROC) Limited Australia. Investasi tersebut diharapkan dapat memperluas sumber minyak mentah, tapi hasil produksinya tidak memenuhi target.

“Lapangan itu menghasilkan minyak pada awal. Kemudian katakankah hasil targetnya 10 tapi nggak pernah dapat 10, tapi cuma 3. (Produksi) ini diharapkan beri keuntungan untuk minyak Indonesia, tapi ternyata minyak itu enggak bisa. Enggak cukup untuk kita bawa ke Indonesia,” teranya.

Frangky Tambuwun salah seorang majelis hakim pun menegaskan investasi PT Pertamina itu tidak menguntungkan. “Berarti ini nggak untung?” tanya Frangky Tambuwun. Pertanyaan itu dijawab dengan diplomatis oleh Evita. Dia berasalan tidak melakukan analisis.

Dalam kesempatan itu juga, Evita menyebut investasi Pertamina ke ROC nilanya mencapai USD 30 juta. Setelah sumber minyak itu berproduksi, ternyata nilainya menguntungkan. Kerja sama dengan ROC pun diberhentikan dan uang USD 30 juta Pertamina tidak kembali. “Dari USD 30 juta ada nggak uang kembali?” tanya Frangky

“Nggak bisa kembali yang mulia. Lapangan juga sudah dikembalikan ke pemerintah Australia,” jelasnya.

Untuk diketahui, dalam perkara ini Karen Galaila Agustiawan didakwa merugikan negara hingga Rp 568 miliar. Dia didakwa bersama dengan saksi Fredrick Siahaan selaku Direktur Keuangan PT Pertamina dan Bayu Kristanto selaku Manager Merger and Akuisisi (MA) PT Pertamina, dan Genades Panjaitan selaku Legal Consul and Conoliance PT Pertamina.

Jaksa mendakwa Karen telah melakukan atau turut serta melakukan perbuatan secara melawan hukum karena mengabaikan prosedur investasi.

Ketentuan atau Pedoman Investasi lainnya, yakni dalam Participating Interest (PI) atas Lapangan atau Blok Basker Manta Gummy (BMG) Australia Tahun 2009, yaitu telah memutuskan melakukan Investasi Participating Interest (PI) di Blok BMG Australia tanpa melakukan pembahasan atau kajian terlebih dahulu.

Selain itu Karen menyutujui Participating Interest (PI) Blok BMG tanpa adanya Due Diligence, serta tanpa adanya analisis Risiko. PI itu ditindaklanjuti dengan penandatanganan Sale Purchase Agreement (SPA) tanpa adanya pesetujuan dari Bagian Legal dan Dewan Komisaris PT Pertamina.

Atas perkara ini Karen didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : Muhammad Ridwan

Akibat Investasi BMG, Uang Negara Hilang USD 30 Juta