alexametrics

Korban dan Pelaku Berasal dari Kesatuan Polisi Militer

Letkol CPM Dono Kuspriyanto Tewas Ditembak
27 Desember 2018, 11:51:20 WIB

JawaPos.com – Aksi koboi jalanan terjadi di Jakarta Selasa malam (25/12). Berupa aksi kejar-kejaran di jalan, disertai tembakan, hingga merenggut korban jiwa seorang perwira menengah TNI-AD.

Korban adalah Letkol CPM Dono Kuspriyanto yang bertugas di satuan Polisi Militer Angkatan Darat (Pomad). Sedangkan pelaku penembakan adalah Serda Jhoni Risdianto, oknum anggota TNI-AU yang bertugas di satuan Polisi Militer Angkatan Udara (Pomau).

Insiden penembakan terjadi di kawasan Jalan Jatinegara Barat, Jakarta Timur. Kronologinya berawal saat mobil dinas korban Toyota Kijang LGX hijau bernopol dinas 2334-34 menyerempet sepeda motor Yamaha N-Max yang disetiri Jhoni. Yamaha N-Max bernopol B 4619 TSA, berstiker Lanud Halim Perdanakusuma, dan berlogo Pomau. Saat kejadian, pelaku maupun korban tidak berseragam dinas.

Korban dan Pelaku Berasal dari Kesatuan Polisi Militer
Kendaraan yang dipakai korban Letkol CPM Dono Kuspriyanto. (Jawa Pos Photo)

Dari keterangan saksi mata, sekitar pukul 22.30, mobil yang dikendarai Dono dari arah Kampung Melayu menuju ke Matraman, Jakarta Timur. Mobil tersebut dikejar Yamaha N-Max yang dikemudikan Jhoni. Selanjutnya, mobil Dono masuk ke jalur Transjakarta dan terjebak karena situasi jalan saat itu sedikit tersendat.

Saksi mata yang berprofesi pedagang itu mendengar suara letusan dari senjata api lebih dari satu kali. “Kalau saya lihat dari jauh pengendara motornya mendekati mobil yang tadi dikejar dan terdengar bunyi tembakan kurang lebih empat kali,” kata saksi mata tersebut.

“Pas mobil itu berhenti, saya dan warga sekitar mencoba melihat, ternyata ada bapak-bapak badannya sudah penuh darah bekas tembakan,” imbuhnya.

Berdasar data yang dihimpun Kodam Jaya, kejadian tersebut berawal dari serempetan mobil dinas yang dikemudikan Dono dengan motor Jhoni. Rupanya Jhoni tidak terima motornya diserempet. Saat itu juga Jhoni mengejar mobil yang dikemudikan Dono.

“Pelaku tidak terima. Dikejarlah mobil korban dan akhirnya dicegat,” kata Kepala Penerangan Kodam Jaya Kolonel (Inf) Kristome Sianturi kemarin (26/12).

Jhoni berusaha meminta pertanggungjawaban Dono atas serempetan tersebut. Namun, Dono tidak turun dari mobil. Jhoni lantas mengeluarkan pistol dan menembakkan ke arah depan mobil yang mengenai kaca depan. “Tembakannya dua kali di bagian depan (mobil),” jelas Kristome.

Namun, tembakan tersebut justru membuat Dono melajukan kendaraannya. Melihat Dono berusaha kabur, Jhoni lantas kembali mengarahkan tembakan ke bagian belakang mobil. Meletus dua kali tembakan. Mengenai kaca bagian bawah sebelah kiri dan pelat nopol yang menembus ke arah kabin mobil.

Rupanya, dua tembakan itu mengenai badan Dono. Seketika itu juga mobil yang dikendarai perwira menengah TNI-AD tersebut terhenti dengan kondisi mesin dan lampu menyala. “Mobil berhenti karena korban mengalami luka tembak pada pelipis dan luka tembak tembus dari punggung ke perut,” tambah Kristome.

Setelah melakukan aksinya, Jhoni melarikan diri dengan menggunakan ojek. Dia meninggalkan sepeda motornya di lokasi kejadian.

Tak sampai satu jam, anggota gabungan Polda Metro Jaya, Polisi Militer Kodam Jaya (Pomdam Jaya), Pomau, dan Inteldam Jaya mulai berdatangan. Mereka datang untuk melakukan olah kejadian perkara sekaligus memindahkan korban ke RS Polri Kramat Jati guna dilakukan visum dan otopsi.

Di TKP, petugas menemukan sembilan butir selongsong peluru dan satu tas berisi handphone milik pelaku serta sejumlah kartu identitas. Setelah melakukan koordinasi dan dibentuk tim gabungan untuk mengejar Jhoni, Rabu (26/12) pukul 04.24 tim gabungan menangkap Jhoni di kawasan Pasar Jengki, Kel Kebon Pala, Kec Makasar, Jakarta Timur.

Kristome mengatakan, saat diamankan, Jhoni disebut masih dalam keadaan mabuk. Jhoni diduga kuat juga dalam kondisi mabuk saat melakukan penembakan. Akibatnya, dia tak bisa mengontrol emosi.

“Pelaku melakukan tindak kriminal murni akibat pengaruh minuman beralkohol,” ujarnya. Bisa jadi, sebelum terserempet mobil Dono, Jhoni diduga baru pulang dari tempat hiburan malam.

Meski dilatari insiden serempetan dan pelaku yang di bawah pengaruh alkohol, petugas akan mendalami kemungkinan adanya motif lain. Kristome menyebutkan, pemeriksaan mendalam terus dilakukan kepada pelaku yang ditahan di Puspom AU Lanud Halim.

“Untuk motif dan lain-lainnya masih dalam pengembangan mengingat kondisi pelaku yang masih mabuk saat dimintai keterangan,” terangnya.

Sementara itu, Kasubdispenum Mabes TNI-AU Letkol Sus M. Yuris membantah spekulasi adanya motif pribadi di luar serempetan dalam insiden penembakan tersebut. Termasuk adanya hubungan kekerabatan antara korban dan pelaku. Yuris menegaskan, dari pemeriksaan ponsel milik Jhoni dan Dono, tidak ada pesan atau panggilan yang menuju ke korban maupun pelaku.

Sementara itu, Polda Metro Jaya bersama Polisi Militer (Pom) TNI menangkap pelaku penembakan Letkol Dono, yakni Serda Jhoni yang diketahui merupakan anggota TNI-AU, pada Selasa malam (25/12). Beberapa jam setelah ditangkap, Jhoni langsung ditetapkan sebagai tersangka.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombespol Argo Yuwono menyatakan, penangkapan pelaku penembakan hingga menewaskan korban itu berhasil berkat motor Yamaha N-Max hitam bernopol B 4619 TSA yang ditinggal Jhoni di tempat kejadian. “Iya, dari sepeda motor yang ditinggal pelaku, kami lakukan penyelidikan dan pengejaran. Akhirnya kami amankan tersangka,” katanya.

Dari keterangan para saksi, sepeda motor tersebut berstiker TNI. Anggota tim gabungan selanjutnya berhasil mendeteksi keberadaan pelaku yang ditangkap di kawasan Pasar Jengki, beberapa jam setelahnya.

Argo juga membeberkan, dari keterangan saksi di tempat kejadian, terdengar empat kali bunyi senjata api. Hingga saat ini polisi masih menyelidiki jenis senjata yang digunakan pelaku penembakan itu. Kasus tersebut, kata Argo, masih ditangani Pom TNI. Sementara itu, Jhoni ditahan di Pusat Polisi Militer TNI-AU di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Sementara itu, jenazah Letkol Dono dimakamkan di Taman Makam Bahagia Dreded, Kecamatan Bogor Selatan, kemarin. Selain pihak keluarga dan tetangga, tampak puluhan anggota TNI dan Polri berseragam lengkap turut mengantar jenazah ke peristirahatan terakhir.

Adik kandung Dono, Dikyo Suswanto, mengaku kaget mendengar almarhum kakaknya tewas ditembak. Musababnya, sebelum kejadian nahas itu, dia selalu bersama-sama almarhum sejak pukul 15.00 hingga 18.00.

“Kepulangan almarhum pun karena harus kembali ke Jakarta. Dia buru-buru pamit karena ingin pulang ke Jakarta. Tapi, sebelum ke sana, dia mampir ke rumah kawannya di Bogor,” ujarnya kepada Radar Bogor (Jawa Pos Group) seusai prosesi pemakaman kemarin.

Informasi meninggalnya anak ketiga di antara lima bersaudara itu, kata Dikyo, diperoleh dari anggota Denpom Bogor yang datang ke rumah sekitar pukul 02.00. Dari informasi tersebut, dia mengetahui bahwa kakaknya meninggal pada pukul 23.25 Selasa dan jenazah telah dibawa ke RS Polri untuk diotopsi. “Tidak ada bahasa yang aneh-aneh saat sama saya, apalagi firasat, itu tidak ada,” terangnya.

Meski pihak keluarga sudah menganggap kejadian tersebut sebagai musibah, Dikyo menegaskan bahwa aturan hukum harus tetap dijalankan. Dia berharap kasus yang merenggut nyawa kakak yang tinggal semata wayangnya itu bisa segera terungkap. Apalagi, dia yakin pelaku tidak hanya sendiri.

“Mudah-mudahan dibuka selebar-lebarnya untuk diungkap. Siapa yang berbuat harus bertanggung jawab. Saya yakin tidak hanya satu orang. Mungkin ada beberapa orang karena saat kejadian yang saya dengar ada dua kendaraan roda dua,” bebernya.

Sementara itu, Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Darat (Danpuspomad) Mayjen TNI Rudi Yulianto menegaskan, untuk mengungkap kasus yang terjadi pada prajuritnya, tidak dibutuhkan waktu lama. Diprediksi satu pekan saja. “Tidak lama. Satu minggu juga harus selesai karena kan sudah mengarah kepada siapa perbuatan itu,” ungkapnya.

Namun, jenderal bintang dua itu menyerahkan sepenuhnya kepada Pomau yang menangani. Tetapi, pihaknya akan membantu kebutuhan yang diperlukan dalam proses penyidikan.

“Saya tidak bisa menentukan apakah sanksi itu harus bagaimana. Tunggu nanti hasil proses penyidikan bagaimana, bisa saja (dipecat), bisa juga tidak,” pungkasnya. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (wib/bry/gal/c9/agm)



Close Ads
Korban dan Pelaku Berasal dari Kesatuan Polisi Militer