alexametrics
Kasus Dana Hibah Koni

Ditanya Keterlibatan Taufik Hidayat, Imam Nahrawi Bungkam

27 November 2019, 21:05:36 WIB

JawaPos.com – Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi bungkam ketika disinggung soal peran mantan atlet bulu tangkis Taufik Hidayat dalam kasus dana hibah Kemenpora pada KONI. Hal ini ditanya awak media usai politiku Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) usai menjalani pemeriksaan di KPK.

Namun, Imam memilih untuk bersalawat ketika memasuki mobil tahanan KPK. “Ini suasana bulan Maulid maka umat Islam harus perbanyak selawat salah satunya salawat asygil,” kata Imam sebelum meninggalkan Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (27/11).

“Setiap manusia akan menghadapi takdirnya dan Allah maha baik takdirnya tak pernah salah jadi itu hikmah di maulid,” sambungnya.

Dia juga sempat memperlihatkan sebuah kertas bergambar tangan dengan bertuliskan ‘Allah Maha Baik Taqdirnya Tak Pernah Salah’ dengan tanggal yang tertera 27 November 2019. Dia pun kemudian berselawat sambil bergegas masuk ke mobil tahanan.

Untuk diketahui, dalam salinan jawaban praperadilan KPK yang diajukan Imam Nahrawi disebutkan beberapa penerimaan uang dari Taufik Hidayat.

Taufik yang beberapa kali diperiksa KPK sebagai saksi juga merupakan Wakil Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) 2016-2017 dan Staf Khusus Menpora Imam Nahrawi di tahun 2017-2018.

Dalam salinan yang diterima Bisnis itu, penerimaan terjadi pada 12 Januari 2017 sebesar Rp800 juta yang diterima melalui Taufik Hidayat untuk penanganan perkara pidana yang sedang dihadapi oleh Syamsul Arifin selaku adik Imam Nahrawi

Kemudian, penerimaan pada akhir 2017 sekitar Rp1 miliar dari Satlak Prima, yang diambil oleh Miftahul Ulum di rumah Taufik Hidayat.

Dalam kasus ini, Imam ditetapkan sebagai tersangka bersama asisten pribadinya, Miftahul Ulum, berdasarkan pengembangan kasus dana hibah Kemenpora ke KONI tahun 2018.

Imam diduga menerima total Rp26,5 miliar dengan rincian Rp14,7 miliar dari suap dana hibah Kemenpora ke KONI, dan penerimaan gratifikasi Rp11,8 miliar dari sejumlah pihak dalam rentang 2016-2018.

Penerimaan Imam Nahrawi diduga merupakan commitment fee atas pengurusan proposal hibah yang diajukan oleh pihak KONI kepada Kemenpora.

Selain itu, penerimaan uang terkait dengan Ketua Dewan Pengarah Satlak Prima dan penerimaan lain yang berhubungan dengan jabatan Imam Nahrawi saat menjadi menpora. Uang tersebut diduga digunakan untuk kepentingan pribadi Menpora dan pihak Iain.

Imam dan Miftahul disangka melanggar pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 12 huruf B atau Pasal 11 UU tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Editor : Bintang Pradewo


Close Ads