alexametrics

Misteri Tiga Menit di Rumah Irjen Ferdy Sambo

27 Juli 2022, 10:24:21 WIB

Teliti Rekaman CCTV, Analisis Durasi Pelecehan hingga Penembakan

JawaPos.com – Ekshumasi jenazah Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat hari ini (27/7) diperkirakan menjadi perhatian banyak pihak. Atensi besar itu sudah tampak dan terasa sejak Jawa Pos mendarat di Jambi kemarin (26/7). Terutama di lokasi Pemakaman Umum Desa Suka Makmur, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi.

Di tempat Brigadir Yosua dikebumikan pada Senin (11/7) lalu itu, keluarga dan kerabat Yosua beberapa hari belakangan berjaga.

Mereka membangun tenda persis di seberang makam putra pasangan Rosti Simanjuntak dan Samuel Hutabarat tersebut. Di tenda itu Pemuda Batak Bersatu (PBB) berjaga siang dan malam. ”Kami (berjaga, Red) 24 jam,” ungkap Roslin Simanjuntak kepada Jawa Pos. Roslin merupakan adik perempuan ibunda Yosua. Dia juga yang mengurus Yosua saat masih balita.

Selama hidupnya, Roslin mengenal Yosua sebagai pribadi yang sangat baik. Dia patuh kepada orang tua. Juga sayang kepada keluarga besarnya. Termasuk kepada Roslin. ”Terakhir ketemu bulan satu (Januari 2022, Red),” imbuhnya. Saat itu Yosua pulang untuk mengantar adik neneknya ke peristirahatan terakhir. Kini, di samping makam tersebut, pemuda yang meninggal dunia pada usia 28 tahun itu dimakamkan. Hari ini makamnya dibongkar.

Oleh Polri, ekshumasi jenazah Yosua dijadwalkan berjalan mulai pukul 07.30. Keluarga berencana datang ke pemakaman tersebut 30 menit lebih awal. ”Kami akan doa bersama dulu. Nanti dipimpin langsung oleh pendeta kami,” jelas Roslin. Keluarga inti Yosua yang terdiri atas ayah, ibu, seorang kakak, dan dua adik dipastikan hadir. Mereka bakal ditemani kerabat dekat dan penasihat hukum keluarga.

Namun, aparat kepolisian mengantisipasi keramaian yang sangat mungkin terjadi. Sebab, masyarakat sekitar diprediksi berdatangan. Saat Jawa Pos tiba di tempat pemakaman Yosua, belum tampak penjagaan ketat. Hanya ada beberapa polisi. Mereka menambah pembatas untuk memastikan tim dokter forensik memiliki ruang yang lebih luas untuk ekshumasi. Mereka juga berkoordinasi dengan Roslin untuk memastikan tidak ada kendaraan keluarga yang dibawa masuk ke dekat pemakaman Yosua.

Di luar kendaraan yang digunakan petugas, hanya ambulans yang boleh masuk sampai mendekati makam Yosua. ”Dari pihak kepolisian sudah bolak-balik menengok. Lihat keadaan dan rumah sakit juga, mereka sudah datang. Rumah duka juga sudah mereka lihat,” imbuh Roslin. Jarak dari makam Yosua ke RSUD Sungai Bahar sekitar 1 kilometer. Sedangkan rumah duka berada di seberang rumah sakit tersebut.

Sesuai dengan permintaan Polri, pihak keluarga sudah menyiapkan lima orang yang akan menggali makam Yosua. Empat orang anggota PBB dan adik laki-laki Yosua. Setelah dikeluarkan dari makam, jenazah Yosua akan diotopsi ulang di RSUD Sungai Bahar. Belum diketahui pasti berapa lama proses otopsi akan berlangsung. Namun, kabar yang diterima pihak keluarga, tim dokter forensik butuh waktu tiga sampai empat jam.

Pihak keluarga Yosua ingin ada perwakilan keluarga yang diperbolehkan melihat proses ekshumasi. ”Kalau boleh dua orang. Tapi, kalau tidak, minimal satu orang ada,” ucap Roslin. Tentu keluarga Yosua tidak memaksa. Itu harapan mereka. Bagaimana prosedurnya, mereka akan mengikuti. ”Yang penting transparan lah. Itu saja permintaan kita kan. Keadilan ditegakkan,” ucapnya. Pihak keluarga ingin peristiwa yang menimpa Yosua diungkap secara terang benderang.

DI-POLICE LINE: Makam Brigadir Yosua di Desa Suka Makmur, Jambi, kemarin (26/7). (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

Rekaman CCTV

Petunjuk baru tampak dari rekaman CCTV Polda Metro Jaya yang beredar di sejumlah awak media. Rekaman yang ada itu pun diambil dari CCTV Umah Saguling III, kediaman Ferdy Sambo yang berjarak tak lebih dari 1 km dari rumah singgah (TKP ditemukannya Yosua dalam kondisi tewas). Ada pula sejumlah CCTV yang diamankan dari rumah-rumah tetangga.

Namun, beberapa rekaman CCTV yang penting ternyata rusak. Misalnya di rumah yang menjadi TKP, pos sekuriti perumahan, dan di rumah petinggi Polres yang bersebelahan dengan TKP.

Dari hasil pengolahan rekaman CCTV yang ada, tampak sejumlah hal yang perlu dianalisis secara ilmiah, yakni waktu eksekusi dan narasi pelecehan yang tampaknya mustahil. Selain itu, ada kejanggalan terkait alibi tes PCR yang diajukan Irjen Ferdy Sambo saat penembakan Yosua terjadi. Menurut hasil penelusuran petugas, diketahui rombongan besar keluarga Sambo datang ke rumah kediaman di Umah Saguling III sekitar pukul 15.30. Sambo datang lebih dulu, baru disusul Putri Chandrawati, istrinya, beberapa saat kemudian.

Dalam rekaman CCTV di Umah Saguling tersebut, terlihat Putri dan Yosua melakukan tes PCR sekitar pukul 15.45. Itu kemudian yang menimbulkan pertanyaan, jika ada fasilitas PCR di rumah, kenapa Sambo memilih tes PCR di luar?

Kemudian, setelah PCR, Putri berangkat ke rumah singgah (yang jadi TKP) menggunakan Toyota Alphard pada pukul 17.09. ”Tapi tidak jelas dengan siapa. Sebab, CCTV di Umah Saguling tidak menunjukkannya,” ucap seorang petugas yang ikut menangani kasus tersebut. Apakah tidak terlihat dari CCTV lain di Umah Saguling atau dari tetangga? ”Nah, itu yang belum diketahui. Apakah memang ada CCTV lain di Umah Saguling,” imbuhnya.

Lalu, sekitar dua menit kemudian, Ferdy Sambo terlihat ikut keluar menggunakan mobil Lexus. Ke mana tujuannya, yang jelas mobil yang ditumpangi Sambo terlihat berada di dekat TKP. Bagaimana Yosua? Tidak jelas keberadaannya. Dia kali terakhir terlihat di CCTV kediaman Sambo pada pukul 15.49 sebelum akhirnya ditemukan tewas tertelungkup dengan sekujur tubuh penuh luka tembak.

Menurut petugas tersebut, kejadiannya mungkin sekitar pukul 17.11. ”Ada beberapa poin yang mengarah ke waktu itu. Dan ini juga belum kesimpulan final, namun kira-kira di waktu itu,” terangnya. Selain itu, rangkaian CCTV dan analisis menyebutkan bahwa waktu kejadian terbunuhnya Yosua hanya sekitar tiga menit. ”Sangat singkat sekali,” ujarnya.

Waktu kejadian yang hanya tiga menit itulah yang bisa dianalisis. Bahwa ini adalah sebuah eksekusi dari sebuah perencanaan dan narasi pelecehan nyaris tidak masuk logika. ”Jika benar analisisnya, tiga menit itu waktu yang sangat singkat. Jika merunut logika narasi pelecehan berujung baku tembak, apakah mungkin terjadi dalam waktu tiga menit?” katanya bernada tanya.

Padahal, waktu tiga menit itu bukan hanya eksekusinya. Tetapi mulai Putri masuk rumah, kemudian masuk kamar, berganti pakaian, lalu tidur. Kemudian, Yosua masuk, melakukan pelecehan, lalu Putri terbangun, berteriak, lantas Bharada E terbangun, berlari, dan terlibat baku tembak dengan Yosua. ”Coba bayangkan. Kira-kira dengan durasi tiga menit bisa terjadi hal sebanyak itu?” cetusnya.

Samuel Hutabarat, ayah Yosua. (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

Editor : Ilham Safutra

Reporter : idr/syn/c9/oni

Saksikan video menarik berikut ini:

Alur Cerita Berita

Lihat Semua