alexametrics

Perusuh 22 Mei Disuruh Bunuh 4 Pejabat Negara dan 1 Peneliti Survei

27 Mei 2019, 16:06:08 WIB

JawaPos.com – Polri kembali mengungkap fakta hukum terhadap peristiwa kerusuham 22 Mei 2019. Terbaru mereka mengamankan 6 tersangka yang diduga merencanakan pembunuhan kepada 4 pejabat negara dan 1 peneliti survei saat aksi massa berlangsung.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol M Iqbal mengatakan, tersangka sudah melakukan pengamatan kepada target terkait aktifitas sehari-harinya. Beruntung keempat pejabat ini selamat dari upaya percobaan pembunuhan.

“Mereka (tersangka) mencari momentum yang tepat. Tetapi walau sudah digambar, mapping video dan jam kantornya, alhamdulillah Tuhan beri kekuatan pada petugas kami sehingga konsep preventif strike berhasil,” kata Iqbal di kantor Kemenko Polhukam Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (27/4).

Enam tersangka yang diduga merencanakan pembunuhan ini pun sudah diamankan petugas. Mereka ditangkap di tempat dan waktu berbeda. Para tersangka itu berinisial HK, AZ, IR, TJ, AD dan AF. Salah satunya merupakan perempuan.

Polisi berjaga saat aksi kerusuhan dengan massa di depan kantor Bawaslu RI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (22/5/2019).FOTO: MIFTAHUL HAYAT/JAWA POS

HK ditangkap pada Selasa (21/5) sekira pukul 11.30 WIB di Hotel Megaria Cikini. AZ ditangkap pada hari yang sama sekira pukul 13.00 WIB di bandara di Soekarno Hatta, Tangerang. IR ditangkap di pos Peruri, Jalan Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. TJ ditangkap Jumat (24/5) sekira pukul 08.00 WIB di halaman sebuah minimarker di Sentul, Bogor. AD juga ditangkap 24 Mei sekira pukul 08.00 WIB di kawasan Swasembada, Jakarta Utara. Dan AF ditangkap pada hari yang sama di Jalan MH Thamrin Jakarta.

Iqbal menyebut peran tersangka yang ditangkap berbeda-beda. HK dan AZ misalnya, berperan sebagai pencari senjata api, mencari eksekutor dan menjadi penembak itu sendiri.

Kemudian, tersangka IR berperan sebagai eksekutor. Tersangka TJ berperan sebagai eksekutor dan menguasai senjata api rakitan laras panjang serta pendek. Tersangka AD merupakan penjual 3 pucuk senjata api rakitan, laras panjang dan laras pendek. Kemudian, tersangka AF yang berjenis kelamin perempuan adalah pemilik dan penjual senjata api jenis revolver taurus ke tersangka HK.

“Settingnya (rencana penembakan) bahwa negara ini akan goyang. Tapi Allah Insya Allah akan tetap sayang kepada NKRI Sehingga kami diberi jalan untuk diberi upaya pengungkapan ini,” jelasnya.

Massa aksi bentrok dengan polisi di depan kantor Bawaslu RI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (22/5/2019).FOTO: MIFTAHUL HAYAT/JAWA POS

Dua tersangka yakni TJ dan AD juga dalam pemeriksaan urinnya terbukti menggunakam narkoba. Yaitu jenis ampethamin dan metaphetamin.

Selain menargetkan 4 pejabat negara, kelompok ini juga mendapat perintah untuk membunuh salah satu pimpinan lembaga survei. Namun, Iqbal enggan membuka identitas peneliti tersebut. Dalam menjalankan misi ini, tersangka sudah mendapat uang sebesar Rp 5 juta.

“Terdapat juga perintah lain melalui tersangka HZ untuk membunuh seorang pimpinan suatu lembaga swasta, lembaga survei dan tersangka tersebut sudah beberapa kali mensurvei rumah tokoh tersebut untuk mengeksekusi,” tegasnya. Namun untuk upaya ini berhasil digagalkan.

Di sisi lain, mantan Wakapolda Jawa Timur itu belum bisa membeberkan motif tersangka dalam upaya pembunuhan 4 pejabat negara dan 1 pimpinan lembaga survei. Saat ini penyidik masih berupaya menggali keterangan lebih mendalam dari para tersangka. “Nanti dulu kalau motif belakangan,” pungkas Iqbal.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian ssat menunjukan senjata api berjenis M4 di kantor Kemenkopolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (22/5). (ridwan)

Dari para tersangka juga turut diamankan sejumlah barang bukti seperti dari tersangka HK ada sepucuk pistol taurus kaliber 38. Dua box peluru kaliber 38 jumlah 93 butir. Dari tersangka AZ sepucuk pistol kaliber 52, dan 5 butir peluru.dari tersangka TJ sebuah senpi laras panjang rakitan kaliber 22, dan senpi laras pendek rakitan kaliber 22. Adapula sebuah rompi antipeluru bertuliskan polisi.

Akibat perbuatannya, para tersangka diduga melalukan pidana kepemilikan senjata api ilegal sebagaimana yang dimaksud pasal 1 undang-undang darurat nomor 12 tahun 1951 tentang senjata api dengan hukuman maksimal seumur hidup atau selama lamanya 20 tahun penjara.
Ata 20 tahun penjara.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Sabik Aji Taufan



Close Ads