JawaPos Radar

Mantan Wali Kota Batu Hanya Divonis Tiga Tahun

27/04/2018, 14:59 WIB | Editor: Soejatmiko
Mantan Wali Kota Batu Hanya Divonis Tiga Tahun
Eddy Rumpoko saat usai sidang di Pengadilan Tipikor, Surabaya, Jumat (27/4) (dida tenola/jawapos.com)
Share this image

JawaPos.com - Mantan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko divonis tiga tahun penjara. Vonis tersebut lebih ringan daripada tuntutan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yakni hukuman penjara delapan tahun dengan denda Rp 600 juta subsider kurungan tiga bulan.

Pada sidang yang digelar di Pengadilan Tipikor Surabaya, Jumat (27/4), Ketua Majelis Hakim Unggul Warso Mukti juga menjatuhkan denda Rp 300 juta subsider tiga bulan kurungan. Serta mencabut hak politik Eddy selama tiga tahun.

Majelis Hakim menilai bahwa Eddy tidak terbukti melakukan dakwaan primer pasal 12 huruf a UU Tindak Pidana Korupsi yang diajukan Jaksa KPK. Hakim memutuskan bahwa Eddy melakukan pelanggaran pasal 11 UU Tindak Pidana Korupsi.

Pada sidang tersebut, Eddy begitu serius mendengarkan kalimat-kalimat yang disampaikan hakim. Dia juga mendapat dukungan moril karena keluarganya turut hadir dalam persidangan tersebut.

Selepas persidangan, Jaksa KPK Ronald F Worotikan menyatakan akan pikir-pikir dengan vonis tersebut. Pihaknya punya waktu tujuh hari sebelum mengajukan banding. "Kami akan pelajari putusan ini. Kami melihat sebenarnya Pasal 12a masuk. Apa yang dibaca majelis hakim di Pasal 11 sebenarnya faktanya di Pasal 12a," tegas Ronald.

Ronald melanjutkan, pihaknya tetap menghormati keputusan hakim. Kendati begitu, pihaknya tetap akan mengambil langkah ke depan untuk mengajukan banding.

Soal hak politik Eddy yang dicabut, Jaksa KPK sebenarnya meminta hal itu berlangsung selama lima tahun. "Tentu kami akan mengkritisi itu (pencabutan hak politik 3 tahun, Red)," imbuhnya.

Kasus yang menjerat Eddy Rumpuko itu terjadi saat dirinya menjabat sebagai Wali Kota Batu. Dia diduga menerima suap senilai Rp 500 juta dari Direktur PT Dailbana Prima Filipus Djap. Selain itu, Eddy juga disebut menerima mobil Toyota Alphard senilai Rp 1,6 miliar dari Filipus. Suap itu terkait proyek belanja modal dan mesin pengadaan meubelair di Pemkot Batu tahun anggaran 2017 senilai Rp 5,26 miliar.

Eddy sendiri ditangkap saat KPK menggelar operasi tangkap tangan (OTT) pada 16 September 2017. Saat KPK membawanya ke Mapolda Jatim, Eddy sempat menceritakan kronologi OTT itu. Kala itu, dia mengaku tidak tahu apa-apa.

Pada perkara tersebut, petugas KPK juga menangkap Kepala Bagian Unit Layanan Pengadaan Pemkot Batu Edi Setyawan. Edi Setyawan diduga juga menerima fee proyek dari Filipus senilai Rp 100 juta. Filipus sendiri sudah divonis hukuman dua tahun penjara. 

(did/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up