alexametrics

Harun Masiku Masih Buron, Ketua KPK: Tinggal Tunggu Waktunya Saja

27 Januari 2020, 16:24:03 WIB

JawaPos.com – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri mengatakan, pihaknya masih mencari Harun Masiku. Ada tiga daerah yang diduga tempat persembunyian politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu.

Harun Masiku sudah berada di Jakarta pada 7 Januari 2020. Namun belum diketahui keberadaanya sampai dengan hari ini.

“Saya sampaikan anggota kita sudah bekerja dan mencari kurang lebih dari tiga lokasi yang dimungkinkan, itu ada di daerah Indonesia timur, dan di daerah Sumatera sudah dilakukan,” ujar Firli di Gedung DPR, Jakarta, Senin (27/1).

Firli juga mengatakan, pihaknya sudah meminta bantuan Polri untuk mencari keberadaan mantan politikus Partai Demokrat tersebut. Sehingga ia berharap dalam waktu dekat Harun Masiku bisa ditemukan.

‎Menurut Firli, KPK sudah sekuat tenaga melakukan pencarian terhadap Harun Masiku. Bahkan di tempat istri dan kerabatnya juga telah KPK datangi. Namun belum ada titik terang keberadaan Harun Masiku.

“Makanya saya katakan kalau anda tahu di mana tempatnya kasih tahu saya, segera saya tangkap,” katanya.

Firli juga menegaskan, kepada pihak-pihak yang dengan sengaja menyembuyikan Harun Masiku akan ia tangkap. Hal itu karena telah menghalang-halangi KPK dalam pengungkapan kasus dugaan suap pergantian antar-waktu (PAW) Anggota DPR tersebut.

“Kalau ada yang menyembunyikan kita tangkap juga yang menyembunyikan. Karena itu adalah melakukan menghambat menghalang halangi penyidikan,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, Firli yakin KPK ataupun Polri pada akhirnya nanti akan bisa menangkap Harun Masiku. Sehingga saat ini tinggal menunggu waktunya saja Harun Masiku ditangkap oleh petugas.

‎”Saya memiliki keyakinan saudara Harun Masiku itu akan tertangkap, tinggal tunggu waktunya saja,” tuturnya.

Sebelumnya, Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Ronny Sompie mengatakan, Harun Masiku telah berada di Indonesia sejak Selasa (7/1) lalu.

Harun yang merupakan buronan lembaga antirasuah itu melintas masuk ke Jakarta melalui Bandara Soekarno Hatta menggunakan pesawat Batik Air.

“Saya telah memerintahkan kepada Kepala Kantor Imigrasi Kelas 1 Khusus Bandara Soeta dan Direktur Sistem Informasi dan Teknologi Keimigrasan Ditjen Imigrasi untuk melakukan pendalaman terhadap adanya delay time dalam pemrosesan data perlintasan di Terminal 2 F Bandara Soeta, ketika Harun Masiku melintas masuk,” kata Ronny Sompie.

Ronny juga menyampaikan, pihaknya akan segera memberikan penjelasan mengapa terjadi keterlambatan informasi terkait pulangnya Harun ke tanah air. Namun, dia memastikan pihaknya juga telah menindaklanjuti pencegahan keluar negeri atas dasar perintah pimpinan KPK.

Diketahui, dalam kasus PAW ini, KPK menetapkan empat orang sebagai tersangka. Mereka yakni Komisioner KPU Wahyu Setiawan, Agustiani Tio Fridelina selaku mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu sekaligus orang kepercayaan Wahyu, Harun Masiku selaku caleg DPR RI fraksi PDIP dan Saeful.

KPK juga menduga Wahyu bersama Agustiani Tio Fridelina diduga menerima suap dari Harun dan Saeful. Suap dengan total Rp 900 juta itu diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR RI menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia pada Maret 2019 lalu.

Atas perbuatannya, Wahyu dan Agustiani Tio yang ditetapkan sebagai tersangka penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 Ayat (1) huruf a atau Pasal 12 Ayat (1) huruf b atau Pasal 11 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara itu, Harun dan Saeful yang ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap disangkakan dengan Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 5 Ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : Gunawan Wibisono


Close Ads