alexametrics

Bacakan Duplik, Pengacara: Ratna Dituntut Lebih Berat dari Koruptor

25 Juni 2019, 14:06:46 WIB

JawaPos.com – Terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong Ratna Sarumpaet kembali menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (25/6). Agenda persidangan kali ini yaitu pembacaan duplik untuk menjawab replik dari Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Pengacara Ratna, Insank Nasruddin dalam draft dupliknya membantah replik JPU. Dia bahkan menyinggung tuntutan kepada Ratna lebih tinggi dibanding koruptor. Belum lagi dengan usia Ratna yang sudah lanjut.

“Di usia yang ke-70 tahun ini terdakwa masih diharuskan menghadapi tuntutan hukum yang sangat berat bahkan lebih berat dari tuntutan seorang pelaku korupsi hanya karena cerita penganiayaan dan pengiriman foto dengan wajah lebam yang disampaikan ke beberapa orang ternyata adalah tidak benar,” kata Insank di persidangan.

Insank menilai kasus kliennnya terlalu dipaksakan, dengan maksud membungkam Ratna sebagai seorang aktivis yang kerap lantang mengkritik pemerintah. Selain itu, dakwaan keonaran juga dianggap tidak terbukti.

“Maka patut diduga kasus ini cenderung dipaksakan sebagai upaya untuk membungkam seorang Ratna Sarumapet yang selalu kritis kepada pemerintah sebagai seorang aktivis demokrasi,” jelasnya.

Insank dalam dupliknya ada 6 poin yang digunakan sebagai amunisi membantah replik JPU. Pertama jaksa dinilai keliru mengartikan makna perbuatan memberitahu dengan menyiarkan. Kemudian kliennya juga tidak pernah menyiarkan kasus penganiayaannya kepada publik.

Dalam pengakuannya Ratna hanya mengarang cerita untuk kepentingan pribadi dan disampaikan kepada beberapa orang kawan dekatnya. Hal itu dianggap tidak relevan atau tidak memenuhi unsur menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong seperti dimaksud pasal 14 Ayat (1) UU tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana.

Poin kedua, tim kuasa hukum menilai replik JPU hanya mengartikan makna keonaran tanpa memberikan bentuk atau contoh keonaran. Arti keonaran yang dimaksud JPU juga hanya berdasarkan pendapat ahli. Namun tidak membandingkan dengan definisi ahli yang diajukan oleh pengacara terdakwa.

Pernyataan JPU yang menyebut penyidik dibolehkan menjadi saksi seperti pada kasus narkoba juga dibantah pihak Ratna. Menurutnya ada perbedaan antara kasus Ratna dan narkoba. Karena pada kasus narkoba penyidik itu yang menyaksikan langsung peristiwa penangkapan, sedangkan kasus Ratna penyidik hanya melakukan pemeriksaan saat kasus sudah berjalan.

“Dengan perkara a quo karena metode atau pola penyidikan perkara narkotika menurut hemat kami pasti sangat berbeda,” jelas Insank.

Atas dasarbitu, tim kuasa hukum meminta Majelis Hakim untuk menolak semua dalil JPU. Mereka berharap kliennya dapat dibebaskan dari tuntutan.

“Mohon kiranya Majelis Hakim Yang Mulia menolak segala dalil yang disampaikan oleh Jaksa Penuntut Umum dan menjatuhkan putusan terhadap Terdakwa Ratna Sarumpaet sesuai dengan amar yang kami sampaikan didalam Nota Pembelaan (Pledoi),” pungkas Insank.

Diketahui, Jaksa Penuntut Umum (JPU) membacakan tuntutan untuk terdakwa kasus dugaan penyebaran berita bohong Ratna Sarumpaet. Dalam surat tuntutan JPU menuntut aktivis kemanusiaan itu dengan pidana 6 tahun kurungan.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Ratna Sarumpaet dengan pidana penjara selama 6 tahun dikurangi selama terdakwa menjalani tahanan dan tetap ditahan,” ujar Jaksa Daroe Tri Sadono dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (28/5).

Jaksa menilai Ratna terbukti sah dan menyakinkan memenuhi unsur pidana Pasal 14 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana. Dengan menyebarkan kebohongan telah dianiaya di Bandung, padahal melakukan operasi plastik.

Adapun pertimbangan memberatkan yakni terdakwa berintelektual sudah berusia lanjut, bahkan seorang tokoh namun tidak berbuat baik dengan membuat keresahan dengan kebohongan. Terdakwa juga dianggap memberikan keterangan berbelit-belit di persidangan. “Meringankan, terdakwa telah meminta maaf,” lanjut Daroe.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Sabik Aji Taufan