alexametrics

Tidak Konsisten, Atiqah Hasiholan Tertawakan Keterangan Ahli Bahasa

25 April 2019, 18:17:16 WIB

JawaPos.com – Artis Atiqah Hasiholan tertawa saat saksi Ahli Filsafat Bahasa Wahyu Wibowo memberikan keterangan sebagai saksi di sidang lanjutan kasus berita bohong yang dilakukan oleh terdakwa Ratna Sarumpaet di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (25/4). Pasalnya, keterangan saksi dinilai tidak konsisten oleh Majelis Hakim.

Saat persidangan berlangsung, Atiqah duduk di barisan depan untuk menyaksikan sidang ibunya. Dia tertawa bersama kakaknya Fathom Saulina saat kuasa hukum Ratna meminta penjelasan Wahyu soal keonaran.

Atiqah merasa apa yang dirasakannya juga senada dengan hakim ketua sidang yang sempat menegur Wahyu karena terlihat tidak konsisten. “Saya sama sama hakim. Hakim kan tadi bilang, kok jawabannya kayak enggak konsisten, agak ragu, tidak fokus. Saya juga merasakan itu, sama seperti hakim. Disayangkan ya, ini kan ahli, kita menggantungkan keadilan itu juga dari pendapat ahli ini,” ujarnya saat istirahat sidang.

Atiqah pun berharap supaya saksi yang nantinya datang untuk memberikan keterangan tidak lagi terlihat ragu-ragu dan tertekan.

“Proporsional, jangan ada tekanan. Tadi hakim juga bilang kan, makanya tadi dia juga menegur ahli bahasa. Jangan ada tekanan, proporsional, sesuai dengan keahliannya, melihat ini secara objektif dong. Hakim aja tadi ngeh,” tuturnya.

Para saksi yang dihadirkan dalam sidang lanjutan Ratna Sarumpaet. (Salman Toyibi/ Jawa Pos)

Sebelumnya, Dr Wahyu Wibowo dalam sidang lanjutan kasus penyebaran berita bohong atau hoaks dengan terdakwa Ratna Sarumpaet, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, hari ini.

Pada kesaksiannya, Wahyu menyampaikan, keonaran merupakan keributan. Maksud dari keributan itu, tidak hanya anarkis melainkan juga membuat gaduh atau orang menjadi bertanya-tanya.

“Keonaran hasil dari onar. Onar dari fakta kamus artinya keributan. Dalam arti kekinian, onar itu tidak berarti keributan fisik bisa saja membuat orang gaduh, membuat orang heran, membuat orang bertanya-tanya,” ujar Wahyu.

Menyoal apakah keonaran harus melibatkan masyarakat banyak atau hanya cukup dua pihak, Wahyu menuturkan, dalam konteks filsafat bahasa awalnya bisa hanya dua orang saja. “Dalam konteks filsafat bahasa, dua saja cukup. Tapi selanjutnya harus melibatkan orang lebih banyak,” ungkap Wahyu.

Menurut Wahyu, perdebatan atau silang pendapat di dalam media sosial merupakan bentuk dari keonaran. “Ya (keonaran). Dalam artian semakin tanjam yang memberikan komentar. (Dunia maya) Representasi dunia nyata,” kata Wahyu.

Selain menjelaskan soal keonaran, Wahyu juga mengungkapkan arti dari dari menyiarkan yaitu, menyebarluaskan sesuatu secara umum. Menyiarkan juga berbeda dengan memberitahukan. “Kalau memberitahu menghendaki adanya audiens. Kalau menyiarkan memang kepada audiens (sudah ada audiensnya),” tandasnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Reyn Gloria