Dalam Pleidoi, Richard Cerita 4 Kali Gagal Tes Bintara dan jadi Sopir

25 Januari 2023, 20:17:01 WIB

JawaPos.com – Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E menceritakan sulitnya saat ingin menjadi anggota Polri. Dia harus berkali-kali mengikuti tes, namun selalu gagal.

“Menjadi anggota Polri khususnya bagian dari keluarga Korps Brimob adalah suatu mimpi dan kebanggaan bagi saya dan keluarga, setelah menjalani empat kali tes Bintara dan terakhir Tamtama,” kata Richard saat membacakan pleidoi dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (25/1).

Richard menuturkan, sepanjang 2016-2019 dirinya bekerja sebagai sopir di sebuah hotel di Manado, Sulawesi Selatan. Selama itu pula dia berusaha mendaftar sebagai anggota polisi dan baru bisa lolos pada tes kelima.

“Saya tahu untuk menjadi anggota Polri tidaklah mudah bagi saya, tetapi saya terus berusaha,” imbuhnya.

Pada 2019, Richard dinyatakan lulus peringkat satu dalam seleksi Tamtama di Polda Sulawesi Selatan. Dia kemudian merantau ke Watu Kosek, Jawa Timur, untuk mengikuti pelatihan berbekal uang tabungan hasil bekerja sebagai sopir di hotel.

“Sebelum saya merantau ke Watu Kosek, saya ingat sebelum saya pergi, di bandara saya berkata ‘Ma saya sudah mau mengikuti pendidikan’. Mama saya, dengan bangga sambil menangis memberi saya semangat dan doa, saya pun menangis menjawab ‘akan menjalankan pendidikan dengan baik agar papa mama bangga’,” ucap Richard.

Diketahui, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut terdakwa Richard Eliezer Pudihuang Lumiu dengan hukuman penjara 12 tahun. Richard dianggap bersalah terlibat dalam kasus pembunuhan berencana kepada Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, dan berperan sebagai eksekutor.

“Menuntut agar Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang mengadili terdakwa Richard Eliezer Pudihuang Lumiu memutuskan; satu menyatakan Richard Eliezer Pudihang Lumiu terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana merampas nyawa seseorang secara bersama-sama sebagaimana Pasal 340 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Richard dengan pidana penjara selama 12 tahun penjara dengan perintah terdakwa tetap ditahan,” kata Jaksa dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (18/1).

Hal-hal yang memberatkan yakni terdakwa merupakan eksekutor yang mengakibatkan hilangnya nyawa korban Nofriansyah Yosua Hutabarat. Perbuatan terdakwa telah menimbulkan duka yang mendalam bagi keluarga korban. Selain itu, perbuatannya menimbulkan keresahan, kegaduhan yang meluas di masyarakat.

Sementara hal-hal yang meringankan, terdakwa merupakan saksi pelaku yang bekerja sama untuk membongkar kejahatan ini. Terdakwa belum pernah dihukum. Terdakwa berlaku sopan dan kooperatif di persidangan. Terdakwa menyesali perbuatannya serta perbuatan terdakwa telah dimaafkan oleh keluarga korban.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Sabik Aji Taufan

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads