Bacakan Pleidoi, Eliezer: Saya Diperalat, Dibohongi, dan Disia-siakan

25 Januari 2023, 20:37:35 WIB

JawaPos.com – Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu alias Bharada E tak pernah menyangka bahwa pengabdiannya kepada Ferdy Sambo adalah awal kehancurannya sebagai anggota Polri. Berbagai tugas telah dijalankan oleh Richard sejak lulus Tamtama pada 2019.

Mulai dari Satgas Tinombala, pengamanan Pilkada di Papua Barat, menjadi tim penyelamatan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182, hingga akhirnya pada 30 November 2021 dipanggil ke Mako Brimob karena terpilih menjadi driver Ferdy Sambo yang saat itu menjabat menjadi Kadiv Propam.

“Saya dipilih menjadi ajudan yang di mana tugas saya menjaga dan mengawal atasan. Di usia saya ini, tidak pernah terpikirkan, ternyata oleh atasan di mana saya bekerja memberikan pengabdian, kepada seorang Jenderal berpangkat bintang dua yang sangat saya percaya dan hormati, di mana saya yang hanya seorang prajurit rendah berpangkat Bharada yang harus mematuhi perkataan dan perintahnya, ternyata saya diperalat, dibohongi, dan disia-siakan, bahkan kejujuran yang saya sampaikan tidak dihargai malahan saya dimusuhi,” kata Richard saat membacakan pleidoi dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (25/1).

“Begitu hancurnya perasaan saya dan goyahnya mental saya, sangat tidak menyangka akan mengalami peristiwa menyakitkan seperti ini dalam hidup saya namun saya berusaha tegar,” imbuhnya.

Richard mengatakan, selama ini dia diajarkan dalam kesatuan untuk tak pernah berkhianat, korbankan jiwa raga untuk Negara, hanya berserah pada kehendak Tuhan. Baginya, ikrar dan janji setia terhadap Negara dan pimpinan akan terus terpatri dalam hati. Atas apa yang terjadi saat ini menjadi pembelajaran penting bagi kehidupan Richard.

“Izinkanlah saya mengutip satu ayat Alkitab yang orang tua saya selalu ingatkan kepada saya saat kami sedang sedih dan lemah yang menjadi kekuatan saya. Mazmur 34:19 sebab Tuhan dekat dengan orang yang patah hatinya, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya, saya yakin kesetiaan saya ini bernilai di mata Tuhan,” tegas Richard.

Diketahui, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut terdakwa Richard Eliezer Pudihuang Lumiu dengan hukuman penjara 12 tahun. Richard dianggap bersalah terlibat dalam kasus pembunuhan berencana kepada Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, dan berperan sebagai eksekutor.

“Menuntut agar Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang mengadili terdakwa Richard Eliezer Pudihuang Lumiu memutuskan; satu menyatakan Richard Eliezer Pudihang Lumiu terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana merampas nyawa seseorang secara bersama-sama sebagaimana Pasal 340 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Richard dengan pidana penjara selama 12 tahun penjara dengan perintah terdakwa tetap ditahan,” kata Jaksa dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (18/1).

Hal-hal yang memberatkan yakni erdakwa merupakan eksekutor yang mengakibatkan hilangnya nyawa korban Nofriansyah Yosua Hutabarat. Perbuatan terdakwa telah menimbulkan duka yang mendalam bagi keluarga korban. Selain itu, perbuatannya menimbulkan keresahan, kegaduhan yang meluas di masyarakat.

Sementara hal-hal yang meringankan, terdakwa merupakan saksi pelaku yang bekerja sama untuk membongkar kejahatan ini. Terdakwa belum pernah dihukum. Terdakwa berlaku sopan dan kooperatif di persidangan. Terdakwa menyesali perbuatannya serta perbuatan terdakwa telah dimaafkan oleh keluarga korban.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Sabik Aji Taufan

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads