alexametrics
Gubernur Jatim Bantah Pernyataan Rommy

Khofifah: Rekomendasi dalam Bentuk Apa yang Saya Sampaikan?

24 Maret 2019, 13:59:28 WIB

JawaPos.com – Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa angkat bicara. Dia merespons pernyataan tersangka kasus jual beli jabatan di Kemenag Romahurmuziy yang menyebutnya ikut merekomendasi Haris Hasanuddin agar menjadi Kepala Kanwil Kemenag Jatim.

Orang nomor satu di Jatim itu dengan tegas membantah pengakuan mantan ketua umum PPP itu.

“Silakan tanya ke Mas Rommy (sapaan Romahurmuziy, Red). Karena saya juga kaget. Rekomendasi dalam bentuk apa yang saya sampaikan?” katanya saat berada di Gedung Negara Grahadi kemarin.

Khofifah: Rekomendasi dalam Bentuk Apa yang Saya Sampaikan?
Tersangka kasus suap jual beli jabatan di Kemenag, Romahurmuziy, mantan ketum PPP. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Malah, mantan menteri sosial (Mensos) itu mengaku khawatir ada orang yang mengatasnamakan dirinya. “Makanya, teman-teman sebaiknya tanya sama Mas Rommy. Saya takut ada orang yang mengatasnamakan saya,” katanya.

Khofifah juga blak-blakan soal hubungannya dengan Rommy maupun Haris. Dengan Rommy, misalnya, gubernur perempuan pertama Jatim itu mengaku terakhir bertemu pada 13 Februari lalu, tepatnya saat pelantikan dirinya sebagai gubernur di Istana Negara.

Dalam pertemuan itu, pembicaraan dia dengan Romy juga sangat normatif. “Beliau mengucapkan selamat dan saya nyuwun pangestu (mohon doa restu, Red). Dan saat itu juga banyak teman yang memberikan ucapan selamat,” katanya.

Demikian juga Haris. Meski menyatakan tidak mengenal secara personal, Khofifah mengakui beberapa kali bertemu dengan Haris. Namun, dalam semua pertemuan itu, sama sekali tidak pernah ada pembicaraan soal jabatan.

Dia menceritakan, pertemuan pertama mereka terjadi ketika Haris menjadi Kakanwil Kemenag Surabaya. Keduanya bertemu dalam sebuah pengajian. Setelah itu, Khofifah dua kali bertemu dengan Haris saat baru saja dilantik sebagai gubernur. Salah satunya dalam sebuah rapat kerja. “Lalu, ketemu lagi ketika beliau audiensi di sini (Grahadi, Red),” katanya.

Khofifah juga menerangkan baru mengetahui bahwa Haris adalah menantu H Roziqi, mantan ketua tim suksesnya dalam Pilgub Jatim 2018. Namun, Khofifah memastikan bahwa hal itu sama sekali tidak berkaitan. “Yang namanya open bidding ya open. Anak ya anak, mantu ya mantu. Itu bersifat personal. Kalau tidak memenuhi kualifikasi kan enggak bisa ikut,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Khofifah juga banyak berbicara soal proses seleksi jabatan di berbagai lembaga negara dengan sistem open bidding yang saat ini banyak dilakukan.

Khofifah mengungkapkan, sejak menjadi menteri di era Presiden Ke-4 KH Abdurrahman Wahid hingga Presiden Joko Widodo, dirinya tidak pernah terlibat seluruh tahapan seleksi tersebut. Sebab, tahapan itu adalah sebuah proses alami. “Jadi, kalau saat proses open bidding kementerian, panitia seleksinya siapa, prosesnya seperti apa, saya tidak pada posisi yang punya kepentingan untuk tahu,” katanya.

Komitmen itu pula yang saat ini dia terapkan di lingkungan Pemprov Jatim. “Ibaratnya teman-teman carilah lubang tikus atau lubang semut, apakah ada indikasi proses jual beli jabatan. Bahwa saya ingin pastikan komitmen saya untuk membangun pemerintahan yang bersih, membangun proses rekrutmen tanpa ada ruang orang jual beli jabatan,” katanya.

Dengan nada guyon, Khofifah kembali menegaskan bahwa dirinya tidak pernah terlibat dalam urusan penempatan jabatan di mana pun. “Wajahku iki loh mosok onok wajah nyuap utowo wajah disuap? Deloken ta (Masak wajah saya ini wajah yang bisa menyuap atau wajah yang bisa disuap? Tolong dilihat, Red),” katanya, lantas tersenyum.

Terkait dengan perkembangan kasus jual beli jabatan itu, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengaku belum mendapat update dari tim penyidik yang menangani. Termasuk terkait siapa saja saksi yang akan diperiksa di gedung KPK di Jakarta. “Saya pikir kita tunggu saja (perkembangan dari penyidik, Red),” imbuhnya.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah menambahkan, jadwal pemeriksaan saksi, terutama dari unsur pejabat Kemenag, akan disesuaikan dengan kebutuhan penyidikan. Agenda pemeriksaan itu nanti disampaikan kepada masyarakat. Dengan begitu, publik bisa terus mengawal kasus tersebut. “Karena kasus ini sangat merugikan masyarakat,” ujarnya.

Sebelumnya Komisi Pemberantasan Korupsi menangkap Romy di Surabaya. Romy ditangkap terkait kasus jual beli jabatan di Kemenag. KPK menetapkan tiga tersangka dalam kasus itu. Yakni, Romy, Kakanwil Kemenag Jatim Haris Hasanudin, dan Kepala Kemenag Gresik Muafaq Wirahadi. Dari OTT, KPK juga menyita barang bukti uang puluhan juta rupiah. KPK mengembangkan kasus itu dengan menggeledah kantor Kemenag. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (ris/tyo/c10/c17/git)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads
Khofifah: Rekomendasi dalam Bentuk Apa yang Saya Sampaikan?