alexametrics
Terpidana Pembunuhan Wartawan Jawa Pos

Yasonna: Bukan Grasi, tapi Remisi Perubahan

24 Januari 2019, 12:30:02 WIB

JawaPos.com – Pemerintah akhirnya memberikan keterangan tentang perubahan status hukuman I Nyoman Susrama dari pidana seumur hidup menjadi pidana 20 tahun. Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly menyebutkan, yang diberikan pemerintah adalah remisi perubahan, bukan grasi.

Yasonna menyatakan, kebijakan itu sudah sesuai dengan ketentuan. Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 174 Tahun 1999 menyebutkan bahwa terpidana seumur hidup berhak mendapat remisi perubahan dengan izin presiden melalui keppres. “Pertimbangannya, dia hampir sepuluh tahun. Sekarang sudah sepuluh tahun di penjara,” ujarnya di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, kemarin (23/1).

Selain itu, lanjut Yasonna, selama menjalani masa hukuman, Susrama mengikuti program serta berkelakuan baik. Hal itu didasarkan pada penilaian tim pengawas lapas.

Yasonna: Bukan Grasi, tapi Remisi Perubahan
I Nyoman Susrama, terpidana pembunuhan berencana terhadap wartawan Jawa Pos Radar Bali Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa. (Jawa Pos Photo)

Yasonna membantah anggapan bahwa remisi tersebut membuat Susrama bisa menghirup udara bebas dengan cepat. Sebab, pidana 20 tahun tidak termasuk 10 tahun yang sudah dijalani. “Kalau dia sudah 10 tahun, tambah 20 tahun, jadi 30 tahun. Umurnya sekarang sudah hampir 60 tahun,” imbuhnya.

Sebagaimana diberitakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan “ampunan” kepada I Nyoman Susrama, napi kasus pembunuhan berencana terhadap wartawan Jawa Pos Radar Bali Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa. Hal tersebut membuat Jokowi mendapat kecaman dari kalangan wartawan dan penggiat pers di tanah air.

Sebab, kasus pembunuhan pada 11 Februari 2009 itu terbilang sadis. Prabangsa dihabisi secara keji oleh orang suruhan Susrama. Kedua tangan Prabangsa diikat, kepalanya dihantam balok, lalu tubuhnya dibuang ke laut. Jenazah Prabangsa kemudian ditemukan di Pantai Bias Tugel, Desa Padangbai, Karangasem, Bali.

Saat dikonfirmasi, Yasonna yang juga politikus PDIP menilai kecaman sebagai hal biasa dalam berdemokrasi. Yang penting, kata dia, faktanya Susrama sudah berubah dan memenuhi syarat mendapat remisi. “Orang tidak dikasih remisi, enggak muat itu lapas kalau semua dihukum, enggak pernah dikasih remisi,” dalihnya.

Sementara itu, pengamat pemasyarakatan Leopold Sudaryono menegaskan, pemberian remisi berupa perubahan dari pidana penjara seumur hidup menjadi penjara sementara merupakan bentuk grasi yang diberikan presiden untuk Susrama. “Grasi memang dituangkan dalam keppres,” ujarnya kepada Jawa Pos.

Leopold merujuk Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 yang menyebutkan bentuk-bentuk pemberian grasi. Antara lain peringanan atau perubahan jenis pidana, pengurangan jumlah pidana, dan penghapusan pelaksanaan pidana. Bentuk-bentuk grasi itu diatur dalam pasal 4. “Perubahan jenis pidana dari penjara seumur hidup menjadi penjara 20 tahun adalah salah satu bentuk grasi,” terang kandidat doktor kriminologi di Australian National University tersebut.

Soal pedoman Menkum ham Yasonna Laoly yang menyebut keppres perubahan pidana untuk Susrama sebagai bentuk remisi, Leopold tidak sependapat. Menurut dia, kebijakan mengubah bentuk pidana napi yang tertuang dalam keppres tetap termasuk jenis grasi. Sebab, yang meneken keppres adalah presiden. “Kalau remisi, baik itu umum, khusus, maupun tambahan, baru diberikan menteri dan dituangkan dalam keputusan menteri,” tegasnya. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (far/tyo/c9/oni)

Yasonna: Bukan Grasi, tapi Remisi Perubahan