JawaPos Radar | Iklan Jitu

Jokowi Beri Remisi ke Pembunuh Wartawan

Tim Advokasi Mendiang Prabangsa: Pemberian Remisi Ancam Kebebasan Pers

24 Januari 2019, 15:40:51 WIB
wartawan
Ilustrasi: Seorang polisi sedang mengamankan jalannya aksi unjuk rasa terkait kasus kekerasan terhadap wartawan (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Ketua tim advokasi AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, Rifqi Hasan menyesali langkah Presiden Joko Widodo yang memberikan remisi perubahan terhadap I Nyoman Susmara, pelaku pembunuhan wartawan Jawa Pos Radar Bali AA Gde Bagus Narendra Prabangsa. Sebab, kini Susmara tidak lagi divonis seumur hidup. 

Susmara mendapat remisi melalui Keputusan Presiden RI Nomor 29 Tahun 2018 Tentang Pemberian Remisi Berupa Perubahan, dari pidana penjara seumur hidup menjadi pidana penjara sementara.

"Sangat menyesalkan remisi itu, karena ini kan adalah hal yang berat untuk kalangan pers," kata Rofiqi Hasan kepada JawaPos.com, Kamis (24/1).

Mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Denpasar ini menuturkan, sikap yang dikeluarkan Jokowi dengan memberikan remisi perubahan kepada pelaku dapat mengancam profesi jurnalis. Sebab ketika 2009, korban Narendra Prabangsa memuat tulisan di Radar Bali mengenai dugaan korupsi di Kabupaten Bangli, Bali.

"Tindakan pelaku dan pemberian remisi itu sesuatu yang sangat mengancam kebebasan pers dan sudah terbukti kan kita tidak tahu apa alasan pemberian remisi ini," sesalnya.

Oleh karenanya, Rofiqi meminta Jokowi dapat terbuka dan memberi alasan kenapa bisa memberikan remisi terhadap pelaku pembunuhan sadis.

"Selama ini kan tidak dijelaskan secara gamblang, enggak ada berita enggak ada ini kok tau-tau diberikan remisi dari Jokowi," tukasnya.

Sebelumnya, keputusan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memberikan remisi perubahan bagi 115 narapidana kasus pembunuhan menuai banyak kecaman. Kecaman terhadap Jokowi itu, yakni menyusul dengan pemberian grasi bagi terpidana seumur hidup kasus pembunuhan berencana wartawan Jawa Pos Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, I Nyoman Susrama.

Dalam surat presiden setebal 40 halaman, itu nama Susrama berada di urutan 94, dengan keterangan perkara pembunuhan berencana yang dilakukan secara bersama-sama, berdasar putusan PN Denpasar Nomor: 1002/Pid.B/2009/PN.DPS/ tanggal 15 Februari 2010 juncto putusan PT Denpasar Nomor 29/PID/2010/PT.DPS tanggal 16 April 2010 juncto putusan Kasasi MA Nomor 1665K/PID/2010 tanggal 24 September 2010. 

“Memberikan remisi berupa perubahan dari pidana penjara seumur hidup menjadi pidana penjara sementara kepada narapidana yang namanya tercantum dalam lampiran keputusan presiden.” Demikian petikan salah satu kalimat yang tertuang dalam surat keputusan presiden.

Editor           : Kuswandi
Reporter      : Muhammad Ridwan

Alur Cerita Berita

Jalan Belakang Dapat Surat Pengampunan 24 Januari 2019, 15:40:51 WIB
Puluhan Jurnalis di Malang Jalan Mundur 24 Januari 2019, 15:40:51 WIB
Yasonna: Bukan Grasi, tapi Remisi Perubahan 24 Januari 2019, 15:40:51 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up