JawaPos Radar

Disebut Terima Rp 12 Miliar dari Proyek Bakamla, Fayakhun Irit Bicara

24/01/2018, 13:40 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Fayakhun
Anggota Komisi III DPR Fayakhun Andriadi disebut sempat berebut klaim soal proyek Bakamla dengan politikus PDIP Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi. (JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Dalam sidang Tindak pidana korupsi (Tipikor), Fayakhun Andriadi Anggota DPR yang baru saja ditugaskan ke Komisi III DPR per hari ini, kembali disebut dalam kasus badan keamanan laut (Bakamla). 

Fayakhun disebut-sebut terlibat dalam dugaan kasus korupsi untuk anggaran satelit monitoring atau drone Bakamla ke DPR.

Saat dikonformasi, Fayakhun enggan menanggapi namanya kembali disebut di Pengadilan Tipikor ini. Dia mengaku menyarahkan semuanya kepada pihak penegak hukum.

"Nanti biar itu melalui proses hukum saja," ujar Fayakhun saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (24/1).

Sementara ketika disinggung, dirinya menerima uang Rp 12 miliar terkait pengadaan proyek satelit monitoring di Bakamla, Politikus Partai Golkar itu mendadak mulutnya terkunci dan tidak ingin berkomentar.

"Aku no comment ya," katanya seraya meninggalkan awak media.‎

Sebelumnya, Fayakhun Andriadi disebut sempat berebut klaim dengan politikus PDIP Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi. Mereka masing-masing mengaku yang meloloskan anggaran satelit monitoring (drone) Bakamla di DPR. 

Hal itu diungkap Direktur Utama PT Merial Esa, Fahmi Darmawansyah saat bersaksi dengan terdakwa Kepala Biro Perencanaan dan Organisasi Bakamla, Nofel Hasan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (24/1). 

Semula, Jaksa Penutut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Kiki membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) Fahmi. 

Dalam BAP tersebut, Fahmi mengklaim dia yang menempatkan anggaran drone Bakamla di APBNP 2016. Namun, Fahmi Habsyi selaku staf khusus Kepala Bakamla juga mengklaim hal serupa. 

Fahmi Dharmawansyah pun membenarkan pernyataan tersebut. "Betul," katanya menjawab pertanyaan Jaksa Kiki. 

Persilisihan itu akhirnya dibawa ke Hotel Fairmont di Kawasan Senayan. “Di Fairmont saya sama Fayakun, Erwin (Managing Director PT Rohde & Schwarz Indonesia, dan Adami (mantan pegawai PT Melati Technofo Indonesia Adami Okta). Klarifikasi perselisihan Fayakhun dan Habsyi. Masih seputar saling klaim," jelas Fahmi.

Dikatakan pula bahwa Fayakhun meminta uang kepadanya terkait proyek tersebut. "Seperti yang saya bilang, Fayakhun saling klaim. Ada dikirim," ungkap Fahmi. 

Uang yang diterima Fayakhun sekitar Rp 12 miliar dengan empat kali pengiriman. "Adami sampaikan sudah dikirim," tukas suami Ineke Koesherawati itu.

Diketahui, Nofel Hasan sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka penerima suap pengadaan proyek satelit monitoring di Bakamla senilai Rp 220 miliar pada Rabu, 12 April 2017. 

Dalam dakwaan Direktur PT Merial Esa, Fahmi Darmawansyah, Nofel disebut menerima SGD 104.500 atau sekitar Rp 989,6 juta. Nofel diduga melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 

(ce1/gwn/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up