alexametrics

Satgas BLBI Sita Hotel dan Lapangan Golf

Total Senilai Rp 2 Triliun
23 Juni 2022, 11:27:12 WIB

JawaPos.com – Satuan Tugas Penanganan Hak Tagih Negara Dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (Satgas BLBI) terus mengejar aset-aset para debitur dan obligor. Kali ini, sasaran mereka adalah Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kemarin (22/6) tim menyita aset milik obligor BLBI. Yakni, PT Bank Asia Pacific (Bank Aspac) yang di belakangnya ada nama Setiawan Harjono dan Hendrawan Haryono. Total nilai aset itu mencapai Rp 2 triliun.

Melalui penyitaan aset tersebut, Satgas BLBI menggenapkan pengembalian dana BLBI menjadi Rp 22,6 triliun. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mohammad Mahfud MD yang hadir dalam penyitaan aset tersebut menyampaikan, pemerintah melalui Satgas BLBI tidak akan ragu bertindak tegas. Karena itu, dia kembali mengingatkan supaya para debitur dan obligor tidak terus-menerus berusaha menghindar. ”Kepada semua obligor dan debitur supaya betul-betul kooperatif. Jangan main kucing-kucingan, mengalihkan aset, mencuci uang,” tegas Mahfud.

Mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu menyatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk terus mengikuti aliran uang para debitur dan obligor. Tidak hanya itu, Mahfud menyebutkan bahwa pihaknya juga bekerja sama dengan Komisi Tindak Pidana Pencucian Uang. ”Kalau terjadi tindak pidana pencucian uang sesudah penyitaan maupun sebelum penyitaan, kami tidak akan main-main,” jelas dia.

Dalam penyitaan aset kemarin, Satgas BLBI mengambil alih sejumlah tanah dan bangunan yang berdiri atas nama beberapa perusahaan. Yakni, PT Bogor Raya Estatindo dengan lahan seluas 89,01 hektare berikut lapangan golf dan fasilitasnya. Selain itu, ada dua bangunan hotel yang terletak di wilayah Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. ”Perkiraan awal nilai aset yang disita kurang lebih Rp 2 triliun,” imbuh Mahfud.

Selain menambah nilai pengembalian dana BLBI menjadi Rp 22,6 triliun, penyitaan itu menambah perolehan lahan dari penyitaan seluas 22.334.833 meter persegi.

Sebelum penyitaan, sambung Mahfud, Satgas BLBI berusaha menagih pengembalian dana kepada Setiawan Harjono dan Hendrawan Haryono. Namun, upaya tersebut gagal. Karena itu, Satgas BLBI menyita aset yang mereka miliki. ”Satgas BLBI melalui panitia urusan piutang negara melakukan penyitaan atas kewajiban PT Bank Aspac,” jelas dia.

Meski telah disita, kegiatan operasional hotel maupun klub golf pada aset tersebut tidak berubah. Manajemen dan karyawan yang bekerja di sana masih boleh melanjutkan aktivitas.

Satgas BLBI memastikan tidak akan berhenti bekerja. Itu perlu dilakukan lantaran target pengembalian dana BLBI sebesar Rp 110 triliun. Satgas akan terus mengupayakan pengembalian hak tagih negara melalui serangkaian upaya. Mulai pemblokiran, penyitaan, hingga penjualan aset-aset debitur dan obligor yang merupakan barang jaminan maupun harta kekayaan lainnya. ”Seperti saya katakan tadi, kami tidak lagi mau berdebat. Karena dulu (pengembalian dana BLBI) selalu tertunda-tunda,” tegas pejabat asal Madura tersebut.

Ketua Satgas BLBI Rionald Silaban menambahkan, masih ada beberapa aset yang akan disita oleh timnya. Lokasi penyitaan juga masih berada di wilayah Kabupaten Bogor. Meski demikian, fokusnya kemarin adalah aset milik PT Bank Aspac. Dia mengungkapkan, Satgas BLBI mengizinkan manajemen dan karyawan tetap bekerja lantaran mereka memahami ada kegiatan ekonomi yang berlangsung di sana. ”Seperti yang disampaikan Pak Menko tadi, (operasionalnya) itu dalam pengawasan Satgas BLBI,” jelas Rionald.

Sementara itu, Kepala Bareskrim Polri Komjen Agus Andrianto yang hadir dalam penyitaan tersebut menyatakan, Polri mendukung langkah-langkah yang dilakukan Satgas BLBI. Senada dengan Mahfud, dia menyebutkan bahwa 24 tahun waktu yang diberikan kepada para debitur dan obligor BLBI sudah terlampau lama. Bahkan, kata Agus, negara juga harus membayar bunga atas dana yang digunakan para debitur dan obligor.

”Karena itu, tadi Pak Menko (Mahfud MD, Red) sudah tegas menyampaikan, tidak ada lagi diskusi, tidak ada lagi komunikasi. Silakan kalau mau klarifikasi atau lewat jalur pengadilan,” jelasnya. ”Prinsipnya, jajaran kepolisian akan melakukan upaya paksa kepada siapa pun yang mencegah atau mengganggu proses hak tagih dari Satgas (BLBI) yang dibentuk Bapak Presiden,” tambah jenderal bintang tiga Polri itu.

Pada bagian lain, penyitaan tersebut mendapat perlawanan dari pemilik aset, yakni PT Bogor Raya Development. Mereka akan mengajukan gugatan hukum untuk membatalkan penyitaan tersebut. Hal itu disampaikan kuasa hukum perusahaan, Leonard Arpan Aritonang, seperti dilansir Radar Bogor. Leonard menegaskan, PT Bogor Raya Development bukan obligor BLBI. ’’Kami akan mengajukan gugatan segera karena kan memang ada prosedur berupa administratif,’’ ungkap Leonard di Klub Golf Bogor Raya, Sukaraja, Kabupaten Bogor, kemarin.

Dia mengatakan, penyitaan aset oleh Satgas BLBI tersebut salah alamat. Sebab, aset-aset yang disita itu sudah berpindah tangan ke pemilik lain secara sah. ’’Kami mempertanyakan keabsahan penyitaan yang dilakukan Satgas BLBI terhadap aset Bogor Raya Development. Ingat, Bogor Raya Development bukan obligor BLBI dan aset-aset Bogor Raya Development bukan merupakan jaminan dalam rangka pemenuhan kewajiban kepada pemerintah,’’ tegasnya. Leonard menambahkan, akibat penyitaan itu, kegiatan operasional di Klub Golf Bogor Raya, Hotel Novotel, dan Hotel Ibis Style terganggu.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : syn/cok/c7/oni

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads