alexametrics

Didakwa Korupsi e-KTP, Eks Dirut PNRI Terancam Hukuman Seumur Hidup

23 Juni 2022, 20:07:06 WIB

JawaPos.com – Mantan Direktur Utama Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) Isnu Edhy Wijaya dan mantan Ketua Tim Teknis Teknologi Informasi Penerapan Kartu Tanda Penduduk Elektronik yang juga PNS BPPT, Husni Fahmi didakwa mengatur dan mengarahkan proses pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP). Kedua terdakwa menjalani persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (23/6).

“Melakukan atau turut serta melakukan secara melawan hukum yaitu baik secara langsung maupun tidak langsung terdakwa I Husni Fahmi dan terdakwa II Isnu Edhi Wijaya telah mengatur dan mengarahkan proses pengadaan barang/ jasa paket pekerjaan penerapan KTP berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) secara nasional (KTP Elektronik) tahun anggaran 2011-2013 untuk memenangkan Konsorsium PNRI,” kata Jaksa KPK Putra Iskandar membacakan surat dakwaan.

Jaksa menyebut, Husni Fahmi dalam proyek pengadaan proyek e-KTP diperkaya sebesar USD 20 ribu. Dugaan korupsi e-KTP ini juga disebut memperkaya (Perum PNRI) dan perusahaan anggota konsorsium PNRI lainnya.

Jaksa Putra Iskandar menjelaskan, dalam pengerjaan proyek e-KTP dibutuhkan identifikasi sidik jari. Saat itu, konsorsium yang akan dibentuk oleh terdakwa II Isnu Edhi Wijaya dan Andi Agustinus alias Andi Narogong belum mendapatkan vendor yang mau mendukung.

Untuk memuluskan upaya itu, pada sekitar April 2011, bertempat di lokasi lapangan golf Sawangan Depok, terdakwa II Isnu Edhi Wijaya melakukan pertemuan dengan Paulus Tannos, Anang Sugiana Sudiharjo, Arief Safari dan Wahyuddin Bagenda. Tujuannya untuk membahas besaran potongan harga yang akan diminta dari para vendor teknologi informasi antara lain Hewlet Packard (HP), Oracle, Microsoft, Fargo, L1/Biomorf, Canon dan PT Softorb Technology Indonesia (STI).

“Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pembahasan melalui telepon dengan Johannes Marliem dan dihasilkan kesepakatan bahwa Johannes Marliem bersedia memberikan diskon atas hardware AFIS, finger print dan sign pad sekitar 10 persen, namun tidak untuk software AFIS. Selain itu, pihak konsorsium PNRI juga menelepon pihak HP Indonesia dan diperoleh kesepakatan bahwa diskon final berkisar 57 persen sampai dengan 58 persen,” ujar Jaksa Putra.

Editor : Kuswandi

Reporter : Muhammad Ridwan

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads