alexametrics

Karir Tamat setelah Dugem

Oleh Eko Priyono*
22 November 2018, 12:00:29 WIB

JawaPos.com – Tujuh tahun 25 hari yang lalu adalah titik balik karir Eko Ristanto di kepolisian. Pada 28 Oktober 2011 dini hari, eks anggota Satreskrim Polres Sidoarjo itu menembak Riyadi Solikin. Korban adalah seorang guru mengaji di Desa Sepande, Kecamatan Candi, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim).

Penembakan itulah yang membuat Eko akhirnya tak lagi berstatus polisi. Korbannya bukan penjahat. Dia guru ngaji dan takmir Masjid Ar Rohman. Eko dipecat dan divonis hukuman sebelas tahun penjara.

Karir Eko tamat setelah dugem dan pesta miras di Ponti Cafe and Resto, Jalan Lingkar Barat Sidoarjo, pada 27 Oktober 2011. Pesta itu digelar bersama temannya hingga berganti hari. Lady’s club di kafe itu menyatakan, mereka menghabiskan banyak botol. Pesta terhenti setelah seorang rekannya yang pulang duluan terserempet mobil Riyadi Solikin.

Pesta pun usai. Eko mengejar mobil Riyadi Solikin yang berjalan ke arah rumahnya. Satu tembakan yang dilepas di jalanan Taman Pinang tidak membuat mobil Suzuki Carry W 1499 NW itu berhenti. Tiga tembakan dilepaskan ketika mobil menapaki Jalan Sepande. Tembakan terakhir dari samping membuat Solikin tak berdaya. Korban meninggal setelah dibiarkan dua jam dalam kondisi berdarah.

Kasus penembakan tersebut sempat membuat wajah kepolisian tertampar. Eko melapor ke pimpinannya bahwa dirinya menembak Solikin karena ada perlawanan. Solikin disebut membawa celurit dan membahayakan. Laporan polisi dengan prestasi moncer itu membuat pimpinannya percaya. Eko melengkapi dalih perlawanan dengan luka di jari kelingking kanan. Luka itu disebut akibat sabetan celurit.

Saat itu aksi koboi Eko dibela habis-habisan oleh kesatuannya. Penembakan tersebut dianggap sudah sesuai dengan prosedur. Polres Sidoarjo sampai menggelar jumpa pers yang membeberkan alasan bahwa penembakan itu tak salah. Posisi Eko sempat menjadi sangat aman dan terlindungi.

Meski sudah ada rilis, Jawa Pos tetap menulis semua kejanggalan yang ada. Seorang perwira polisi berpangkat balok tiga meminta bertemu. Dalam pertemuan singkat itu, dia berani bertaruh bahwa anak buahnya benar. Saat itu saya pun berani bertaruh, anak buahnya salah. Seorang perwira berpangkat melati ikut marah besar. Dia menuduh berita Jawa Pos tidak benar. Kira-kira 30 menit kemarahan itu ditumpahkan di ruangannya.

Tapi, posisi aman Eko tidak berlangsung lama. Rekayasa cerita terungkap. Celurit yang konon dibawa korban tidak pernah ada. Luka di jari juga buatan sendiri. Terlebih cerita penyerangan yang dilakukan dengan kaca mobil terbuka sedikit.

Kejanggalan itu membuat masyarakat marah. Demo besar-besaran terjadi, menuntut penembak Solikin diadili. Akhirnya tim pencari fakta Polda Jatim menemukan kejanggalan. Enam polisi akhirnya ditetapkan sebagai tersangka.

Sejak itu arah angin berbalik. Eko menjadi sosok yang paling disalahkan. Atasannya yang merasa dikibuli marah sekali. Gara-gara ulahnya, Polres Sidoarjo menjadi sasaran kemarahan warga. Foto Kapolres di bundaran Taman Pinang dibakar. Konvoi demo warga nyaris anarkistis. Polisi yang tidak ikut-ikutan ikut khawatir terkena amarah warga. Sampai-sampai polisi membiarkan pengendara roda dua yang tak berhelm melewati jalan protokol.

Bukan itu saja. Saat itu Eko sebenarnya pernah meminta agar ditahan di tahanan polres. Namun, Eko khawatir jadi sasaran amuk tahanan lapas yang marah. Apalagi, yang ditembak mati adalah seorang takmir masjid. Tapi, permintaan tersebut diabaikan. Polres tidak mau menanggung risiko jika dianggap mengistimewakan. Apalagi, amarah warga belum sepenuhnya reda.

Selama di dalam lapas, Eko sangat tertekan. Petugas lapas sampai memberikan pengawasan khusus dan menjauhkan dia dari semua benda yang dianggap membahayakan. Termasuk menempatkannya di ruang tahanan yang terpisah dari tahanan lain.

Akibat ulah Eko, beberapa perwira terkena getahnya. Ada yang dibebastugaskan. Sehari-hari hanya mengantor tanpa tugas apa pun. Ada juga yang berencana melanjutkan sekolah kepemimpinan, tapi lantas berantakan. Padahal sudah direncanakan sejak jauh hari dan mendekati hari pelaksanaan.

Hal itu yang membuat Eko dijauhi teman-teman. Saat ditahan di Lapas Delta Sidoarjo, Eko hampir tidak pernah dijenguk kolega. Hanya keluarga dekat yang datang. Termasuk bapaknya yang juga pensiunan polisi.

Polisi yang pernah marah besar itu pun akhirnya meminta maaf. Sedangkan yang berbalok tiga tak sempat bertemu saya sampai sekarang. Sebenarnya saya ingin bertemu walau semenit. Sekadar untuk mengatakan, saya menang taruhan. Kini nama Riyadi Solikin dipakai untuk menamai Jalan Raya Sepande, lokasi guru ngaji itu ditembak. 

*) Wartawan Jawa Pos yang meliput penembakan guru ngaji di Sidoarjo pada 2011 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c9/oni)

Karir Tamat setelah Dugem