alexametrics

Polri Buru Kelompok Penghasut Aksi Massa di Papua

Diduga Ditunggangi Separatis
22 Agustus 2019, 15:24:31 WIB

JawaPos.com – Aksi massa di Papua diduga ditunggangi kelompok separatis. Indikasi itu terlihat dari aksi massa di Timika, Kabupaten Mimika, kemarin (21/8).

Mereka tidak hanya menyuarakan protes terhadap dugaan persekusi di Surabaya dan Malang. Massa juga menuntut diadakan referendum.

Aksi massa tersebut diawali sekitar pukul 08.00. Menurut Cenderawasih Pos, aksi yang diikuti sekitar 4 ribu orang itu semula berjalan aman dan tertib. Sebanyak 600 personel gabungan TNI dan Polri dikerahkan untuk memantau unjuk rasa. Demonstrasi dimulai dari Lapangan Timika Indah, lalu pindah ke kantor DPRD Mimika. Saat unjuk rasa berlangsung di kantor DPRD, tiba-tiba ada warga yang melempar ke aparat keamanan. Sebagian yang lain melempari pintu masuk kantor DPRD Mimika. “Kami terpaksa membubarkan massa dengan melepaskan gas air mata,” kata Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto.

Suasana makin panas. Massa melempari polisi dengan batu. Lemparan batu juga memecahkan kaca Hotel Grand Mozza dan merusak dua kendaraan milik Polres Mimika. Beberapa rumah dan kios milik warga juga dirusak. Polisi akhirnya bertindak tegas. Sebanyak 45 pengunjuk rasa dibekuk. Mereka diamankan atas dugaan perusakan serta membawa atribut Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan bendera bintang kejora. Polisi menduga mereka simpatisan organisasi KNPB dan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).

Agung menerangkan, 45 orang tersebut diamankan di dua lokasi berbeda. Sebanyak 15 orang diamankan setelah mengancam pemilik bengkel yang menolak menjual ban bekas. Sedangkan 30 orang lainnya diamankan seusai aksi perusakan Hotel Grand Mozza dan sejumlah kendaraan di sekitar kantor DPRD Mimika.

“Ban bekas tersebut rencananya dibakar dalam aksi demonstrasi di Mimika,” ucap Agung. Kapolres juga memastikan, tidak ada bendera bintang kejora yang sempat dikibarkan saat aksi kemarin.

Unjuk rasa juga berlangsung di Kabupaten Fakfak. Satu pasar dan kantor Dewan Adat dibakar massa. Selain itu, dua mobil dan beberapa rumah mengalami pecah kaca. Sebelumnya, unjuk rasa terjadi di Kabupaten Biak Numfor. Massa yang tergabung dalam Forum Peduli Keadilan Masyarakat Orang Asli Papua Kabupaten Biak Numfor mendatangi kantor DPRD Kabupaten Biak Numfor. Mereka mengutuk tindakan rasis dan kekerasan yang dialami mahasiswa asal Papua di Malang dan Surabaya. Aksi massa juga terjadi di Manokwari, Jayapura, dan Sorong. Namun, demo di tiga kota tersebut bisa diatasi aparat keamanan. Situasi berangsur-angsur kondusif.

Sementara itu, dari Jakarta, Juru Bicara Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Purwanto menyampaikan bahwa pihaknya mencium adanya pihak-pihak tertentu yang berusaha memicu kekisruhan di Papua Barat dan Papua. “Sudah ada pemetaan. Siapa bermain, siapa itu, sudah ada pemetaan,” terang dia.

Karena itu, BIN berusaha mengantisipasi supaya aksi yang berujung perusakan tidak terjadi lagi. BIN tidak bekerja sendiri. Mereka berkoordinasi dengan instansi lain untuk meredakan situasi.

Menurut Wawan, dalam kondisi seperti saat ini, semua pihak harus menahan diri. Tidak asal bicara. Apalagi sampai mengeluarkan pernyataan bernada provokatif. “Maka, cooling down itu penting karena ini sebenarnya kesalahpahaman saja,” bebernya. Dia menyebutkan, proses hukum juga harus dilakukan secara hati-hati.

Pada bagian lain, Polri kini fokus menelusuri kemungkinan kerusuhan tersebut terencana. Didalami pula adanya kelompok yang sengaja menghasut masyarakat Papua. Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo menjelaskan, kelompok kecil yang melakukan agitasi itu bisa dilokalisasi. Dia juga mengatakan bahwa banyak warga Papua yang tidak setuju dengan aksi demonstrasi anarkistis.

Identitas kelompok penghasut itu belum bisa dipastikan. Begitu pula keterhubungannya dengan hoaks yang beredar dan memicu kerusuhan. “Masalahnya, sekarang terdeteksi masih ada akun yang terus menyebarkan hoaks terkait Papua,” ungkapnya.

Apakah para penghasut itu adalah kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB)? Dia mengaku belum mengetahui secara pasti. “Arahnya belum sampai ke sana. Masih dalam penyelidikan dittipid siber,” terang jenderal berbintang satu tersebut.

Untuk kondisi di lapangan, saat ini Fakfak telah dikendalikan sepenuhnya. Bahkan, masyarakat mendukung langkah aparat. “Tapi, juga ada temuan beberapa simbol yang telah diamankan kepolisian,” urainya. “Kalau untuk Sorong sudah 100 persen kondusif. Tidak ada lagi massa yang turun ke jalan hingga pukul 14.00,” lanjutnya. Kondisi serupa terpantau di Manokwari. Meski demikian, polisi tetap mengerahkan petugas tambahan sebanyak lima satuan setingkat kompi (SSK) di Manokwari. “Kalau Sorong sekitar tiga SSK,” papar mantan Wakapolda Kalimantan Tengah tersebut. (deb/far/idr/syn/den/dan/c7/c9/c10/oni)

Editor : Ilham Safutra


Close Ads