alexametrics

Penyerahan Kasus OTT Pegawai UNJ ke Polri Dikritik, Ini Respons KPK

22 Mei 2020, 21:04:37 WIB

JawaPos.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membela diri terkait kritik kasus operasi tangkap tangan (OTT) yang diserahkan ke Polri. OTT tersebut melibatkan pegawai Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan salah satunya Rektor UNJ Komarudin. KPK menegaskan, bukan kali ini saja meneyerahkan kasus ke aparat penegak hukum lain, khususnya Polri.

“KPK sudah sering melakukan penyerahan kasus kepada penegak hukum lain, baik ke kepolisian maupun kejaksaan. Karena memang ketika setelah meminta keterangan berbagai pihak ternyata tidak ditemukan perbuatan pelaku penyelenggara negara,” kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK, Ali Fikri dalam keterangannya, Jumat (22/5).

Ali menyesalkan penggiringan opini yang dilontarkan Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman. Ali pun tak henti-hentinya menegaskan, yang tertangkap tangan bukan termasuk penyelenggara negara.

“Yang tertangkap tangan ada satu orang yaitu DAN (Dwi Achmad Noor) dengan barang bukti sebagaimana rilis Deputi Penindakan, yang tertangkap menurut UU bukan masuk kategori Penyelenggara Negara,” tegas Ali.

“Kita tahu bahwa aparat penegak hukum lain ketika menangani perkara korupsi tidak dibatasi adanya unsur melibatkan PN, berbeda dengan KPK yang ada batasan Pasal 11 UU KPK. Ini perlu kami sampaikan agar Boyamin Saiman juga paham soal ini,” sambungnya.

Kendati demikian, jika nanti dalam pendalaman perkara terdapat pihak penyelenggara negara, tak menutup kemungkinan KPK akan mengembangkan perkara tersebut.

“Sangat dimungkinkan, setelah dilakukan penyelidikan lebih mendalam dengan meminta keterangan pihak-pihak lain yang lebih banyak, ternyata sebuah kasus berdasarkan alat bukti yang cukup kemudian ditemukan keterlibatan penyelenggara negara sehingga dapat dimintai pertanggungjawaban secara hukum,” cetus Ali.

Sebelumnya, OTT Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap kepala bagian kepegawaian Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dwi Achmad Noor dinilai janggal. Pasalnya, dalam giat operasi senyap tersebut KPK turut menyita uang jutaan rupiah yang diduga arahan dari Rektor UNJ, Komarudin.

“OTT KPK ini sungguh mempertontonkan tidak profesional. OTT ini sangat tidak berkelas dan sangat memalukan. Karena KPK saat ini OTT hanya level kampus, hanya uang THR,” kata Boyamin dalam keterangannya, Jumat (22/5).

Boyamin pun menyesalkan KPK yang tiba-tiba melimpahkan perkara tersebut ke instansi Polri, dengan alasan tidak ada unsur penyelenggara negara. Dia pun menilai janggal terkait hal tersebut.

“Alasan pelimpahan kepada polisi bahwa tidak ada penyelenggara negara juga sangat janggal. Karena apapun rektor jabatan tinggi di kementerian pendidikan, mestinya KPK tetap lanjut tangani sendiri dan tidak serahkan kepada Polisi,” sesal Boyamin.

Boyamin menegaskan, rektor merupakan penyelenggara negara. Karena berkewajiban melapor harta kekayaannya yang tercantum dalam LHKPN. “Kalau KPK menyatakan tidak ada penyelenggara negara, maka berarti telah ada teori baru made in KPK new normal akibat Korona,” timpal Boyamin.

Untuk diketahui, KPK melakukan giat operasi tangkap tangan (OTT) di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada Kamis (21/5). KPK menduga adanya penyerahan sejumlah uang yang diduga dari pihak Komarudin selalu Rektor UNJ kepada pejabat di Kemendikbud.

KPK bersama dengan tim Itjen Kemendikbud mengamankan Dwi Achmad Noor (Kabag Kepegawaian UNJ) beserta barang bukti berupa uang sebesar USD 1.200 dan Rp 27.500.000. Uang tersebut diduga merupakan THR yang akan diserahkan kepada Direktur Sumber Daya Ditjen Dikti Kemendikbud dan beberapa staf SDM di Kemendikbud. Namun, setelah memeriksa tujuh orang saksi dari giat operasi senyap tersebut, KPK tak menemukan unsur penyelenggara negara.

Mengingat kewenangan, tugas pokok dan fungsi KPK, kasus tersebut pun dilimpahkan ke Polri. KPK melalui unit Koordinasi dan Supervisi Penindakan menyerahkan kasus tersebut kepada Kepolisian RI untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan hukum.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Edy Pramana

Reporter : Muhammad Ridwan



Close Ads