JawaPos Radar | Iklan Jitu

Bantah Menjadi Perantara Suap E-KTP

Made Oka: Di Usia Senja, Nasib Mengantarkan Saya Tidur di Penjara

21 November 2018, 15:36:47 WIB | Editor: Kuswandi
Made Oka Masagung
Made Oka Masagung (kanan memakai batik) saat menjalani sidang lanjutan perkara korupsi e-KTP yang melilitnya di PN Tipikor Jakarta, Rabu (21/11) (Ridwan/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Terdakwa kasus korupsi proyek penerbitan kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP), Made Oka Masagung membantah telah menjadi perantara suap senilai USD 3,8 juta ke mantan Ketua DPR RI Setya Novanto.

"Menurut pendapat saya yang awam hukum dari seluruh keterangan saksi, bahwa saya tidak pernah menjadi perantara, menyampaikan uang dari Anang Sugiana (Terpidana korupsi e-KTP) sebesar USD 2 juta dan Johannes Marliem USD1,8 juta kepada Setya Novanto ," kata Made Oka saat membacakan nota pembelaan atau pleidoi di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Rabu (21/11).

Made Oka meminta majelis hakim untuk menjatuhkan putusan yang adil dan sesuai dengan fakta persidangan yang muncul. Pasalnya, dia mengklaim dalam proses sidang, Novanto secara tegas mengaku tidak ada fee yang diterima dari dirinya.

"Jauh sebelum saya ditetapkan sebagai tersangka, saya sudah beri bukti-bukti yang bersangkutan. Saya juga memberikan surat kuasa penuh kepada KPK untuk menelusuri uang USD 3,8 juta itu," ucap Made Oka.

Pada sisi lain, Made Oka menyebut bahwa dirinya sudah puluhan tahun berkecimpung pada bidang keuangan. Namun, dia menyatakan tak pernah sekalipun terlibat dalam tindak pidana apapun, lantaran menaati seluruh peraturan yang berlaku.

"Tapi nasib berkata lain, di usia senja ini, nasib mengantarkan saya tidur di penjara dan duduk di kursi terdakwa," tutur Made Oka.

Made Oka merasa heran kenapa dirinya harus didakwa bersama-sama dalam melakukan praktik korupsi diperkara ini. Apalagi, dirinya menyatakan tidak pernah terlibat dalam sejumlah pertemuan, peserta lelang dan pemenang lelang dalam proyek e-KTP.

"Saya baru memahami bahwa JPU ingin saya dituntut bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak saya lakukan," tutur Made Oka.

Menurut Made Oka, sejak awal proses penyidikan, dirinya selalu terbuka kepada penyidik lembaga antirasuah. Namun, dia menyesalkan, dalam tuntutannya, Jaksa KPK memberikan hukuman penjara yang begitu tinggi.

"Tidak ada yang saya tutupi. Semua bukti rekening koran perusahaan saya sudah diserahkan ke penyidik. Bahkan saya sudah serahkan surat kuasa agar penyidik kemana dan dari mana uang tersebut. Saya tidak pernah melakukan hal yang menghambat proses penyidikan," papar dia.

Dalam perkara ini, Jaksa Penuntut KPK menuntut agar Majelis Hakim menjatuhkan pidana 12 tahun penjara kepada Made Oka. Selain itu, Made Oka juga diminta untuk membayar denda sebesar Rp1 miliar subsidair enam bulan kurungan.

Atas perbuatannya, Made Oka dinilai melanggar Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang nomor 20 Tahun 201 tentang pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

(rdw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up