Operasi Tinombala Diperpanjang, Pasukan Gabungan Diminimalisir

21/07/2018, 05:00 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Wakapolri Komjen Syafruddin. (Dok. JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Masa tugas Satgas Operasi Tinombala yang melibatkan pasukan TNI dan Polri diperpanjang. Selama tiga bulan ke depan, mereka berupaya mengejar sisa-sisa anggota kelompok Mujahiddin Indonesia Timur (MTI) pimpinan Santoso di Poso, Sulawesi Tengah.

"Memang itu (pengejaran kepompok Santoso) harus diselesaikan, menyelesaikan saja itu (dengan) perpanjangan," ujar Wakapolri Komjen Pol Syafruddin di PTIK, Jakarta, Jumat (20/7).

Kendati demikian, jumlah anggota Satgas tidak seperti pada operasi sebelumnya. Sebab, personel yang dipakai berasal dari kepolisian di daerah.  Bukan personel khusus yang dikirim dari pusat.

"Itu hanya pakai personel di wilayah saja, tapi operasinya tetap. Karena operasi itu bukan hanya menyangkut peralatan atau anggota besar, tapi juga menyangkut anggaran," sebut Syafruddin.

Nah untuk anggarannya sendiri, kata dia tetap disokong dari pusat. "Anggaran tetap, anggaran dari pusat ke kewilayahan," pungkas Syafruddin.

Diketahui, Operasi Tinombala berjalan sejak 2016 silam dan selalu diperpanjang hingga hari ini. Perpanjangan terakhir dilakukan pada April 2018 hingha 100 hari ke depan, yang kemungkinan berakhir pada September 2018.

Komandan MIT Santoso alias Abu Wardah sendiri telah tewas dalam baku tembak di Pegunungan Biru, Desa Tambarana, Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah, 18 Juli 2016 lalu.

Kendati demikian, beberapa anak buah santoso masih dalam pelarian. Beberapa lainnya ada yang menyerahkan diri dan ada yang ditangkap karena kelelahan atau tewas.

Adapun nama teroris yang tersisa adalah Ali Muhammad alias Ali Kalora alias Ali Ambon, Muhammad Faisal alias Namnung alias Kobar, Qatar alias Farel, Nae alias Galuh, Basir alias Romzi, Abu Alim, dan Kholid. 

(dna/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi