alexametrics

Kontroversi Irjen Napoleon yang Lumuri Muhammad Kece dengan Tinja

20 September 2021, 17:20:21 WIB

JawaPos.com – Irjen Pol Napoleon Bonaparte kembali menjadi sorotan publik. Hal itu lantaran mantan Kadivhubinter Polri itu diduga melakukan penganiayaan kepada tersangka kasus dugaan penistaan agama Muhammad Kosman alias Muhammad Kece.

Jika ditelisik ke belakang, setidaknya sudah ada 3 kontroversi yang dilakukan oleh Jenderal polisi bintang dua itu. Akibat kontroversi itu pula dia harus tersandung masalah hukum.

1. Terlibat penghapusan red notice Djoko Tjandra

Terdakwa kasus suap penghapusan red notice Djoko Tjandra, Irjen Pol Napoleon Bonaparte (tengah) menjalani sidang dengan agenda pembacaan putusan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (10/3/2021). FOTO : FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS

Napoleon pertama kali disorot setelah diduga terlibat dalam penghapusan red notice buronan Djoko Tjandra. Akibat peristiwa ini, Kapolri saat itu Jenderal Pol Idham Azis langsung mencopot Napoleon dari jabatannya sebagai Kadivhubinter Polri. Mutasi ini tertuang dalam Surat Telegram Nomor ST/2076/VII/KEP./2020 tertanggal 17 Juli 2020.

Setelah melalui proses penyelidikan internal Polri, Napoleon pun ditetapkan tersangka dalam kasus tersebut. Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono mengatakan, penetapan ini berdasarkan hasil gelar perkara yang dilakukan penyidik. Dalam perkara ini penyidik juga menetapkan Djoko Tjandra sebagai tersangka karena diduga sebagai pihak yang memberikan janji atau hadiah.

“Untuk penetapan tersangka tersebut ada dua selaku pemberi dan selaku penerima. Untuk pelaku pemberi ini kita tetapkan tersangka JST (Djoko Tjandra),” kata Argo di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (14/8).

Sedangkan Napoleon dan Brigjen Pol Prasetijo Utomo diduga sebagai pihak penerima janji dan hadiah. “Selaku penerima itu saudara PU dan kedua saudara NB,” jelas Argo.

Dalam perkara ini, Irjen Pol Napoleon Bonaparte akhirnya divonis empat tahun pidana penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta. Napoleon juga dijatuhkan hukuman denda senilai Rp 100 juta subsider enam bulan kurungan.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Irjen Polisi Napoleon Bonaparte terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama. Menjatuhkan pidana penjara selama empat tahun dan denda Rp 100 juta dengan ketentuan apabila tidak dibayar maka diganti kurungan selama enam bulan,” ujar Ketua Majelis Hakim, Muhammad Damis membacakan amar putusan di PN Tipikor Jakarta.

Hakim meyakini, Irjen Napoleon terbukti secara sah bersalah menerima suap sebesar SGD 200 ribu dan USD 370 ribu. Suap itu bertujuan untuk menghapus nama Djoko Tjandra dari red notice interpol Polri, karena saat itu Djoko Tjandra masih berstatus daftar pencarian orang (DPO) dalam kasus hak tagih bank Bali.

2. Melawan di Pengadilan

Terdakwa kasus suap penghapusan red notice Djoko Tjandra, Irjen Pol Napoleon Bonaparte (tengah) menjalani sidang dengan agenda pembacaan putusan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (10/3/2021). FOTO : FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS

Tak terima dengan vonis tersebut, Napoleon merasa martabatnya dilecehkan karena dituduh menerima suap untuk menghapus nama Djoko Tjandra dari red notice interpol Polri.

“Cukup sudah pelecehan martabat yang saya terima dari Juli tahun lalu sampai hari ini. Saya lebih baik mati, daripada martabat keluarga dilecehkan,” kata Napoleon menanggapi vonis hakim di PN Tipikor Jakarta, Rabu (10/3).

Jenderal polisi bintang dua itu kesal divonis empat tahun penjara oleh majelis hakim. Dia menyatakan akan mengajukan banding dari vonis hakim tersebut.

“Saya menolak putusan hakim dan menyatakan banding,” tegas Napoleon.

Namun, pada tahap banding, Pengdilan Tinggi DKI Jakarta juga menolak permohonan tersebut. Napoleon tetap dijatuhi vonis 4 tahun. Dia kemudian berecana mengajuka kasasi Mahkamah Agung (MA).

3. Pukuli dan lumuri Muhammad Kece dengan tinja

Tersangka kasus dugaan suap penghapusan red notice Joko Tjandra, Irjen Pol Napoleon Bonaparte tiba untuk menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (2/11/2020). FOTO : FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS

Setelah cukup lama tidak terdengar, Napoleon kembali tersorot setela diduga melakukan penganiayaan kepada tersangka kasus dugaan penistaan agama, Muhammad Kosman alias Muhammad Kece di Rumah Tahanan (Rutan) Bareskrim Polri. Atas peristiwa tersebut, Kece telah membuat laporan polisi.

“Bareskrim Polri telah menerima satu LP yaitu LP nomor 0510/VIII/2021/Bareskrim atas nama pelapor Muhammad Kosman,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (17/9).

Saat ini laporan tersebut tengah diteliti oleh penyidik. Sejauh ini diduga Kece dianiaya oleh sesama tahanan. “Kasusnya adalah pelapor melaporkan bahwa dirinya telah mendapat penganiayaan dari orang yang saat ini jadi tahanan di Bareskrim Polri,” jelas Rusdi.

Selain dianiaya, Kece diduga dilumuri tinja oleh Napoleon. “Dalam pemeriksaan terungkap selain terjadi pemukulan, pelaku NB juga melumuri wajah dan tubuh korban dengan kotoran manusia yang sudah dipersiapkan oleh pelaku,” kata Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Pol Andi Rian saat dihubungi, Senin (20/9).

Andi mengatakan, pelumuran tinja ini terjadi pada hari yang sama saat terjadi penganiayaan. Napoleon diduga sengaja menyiapkan tinja untuk dilumurkan ke Kece.

“Iya, sambil memukul juga melumuri kotoran manusia. Salah satu saksi diperintahkan NB untuk mengambil bungkusan kotoran yang sudah disiapkan dikamar NB, kemudian NB sendiri yang melumuri,” jelasnya.

Editor : Bintang Pradewo

Reporter : Sabik Aji Taufan




Close Ads