alexametrics

800 Hari Pelaku Belum Terungkap, Novel: Nggak Tahu Lagi Mau Bilang Apa

Yakin Ada Petinggi Negara Terlibat
20 Juni 2019, 12:38:30 WIB

JawaPos.com – Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menjalani pemeriksaan kasus penyiraman air keras, Kamis (20/6). Novel akan diperiksa oleh penyidik Polda Metro Jaya dan tim gabungan yang dibentuk oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Tepat 800 hari kasus penyerangan terhadapnya, Novel merasa sangat kecewa. Pasalnya, hingga kini Polri belum bisa mengungkap pelaku teror dan aktor intelektual pada April 2017 lalu.

“Soal 800 hari penyerangan terhadap saya yang belum terungkap, saya enggak tahu lagi mau katakan apa. Ini sudah sangat keterlaluan. Bahkan untuk mengungkap penyerangan terhadap orang-orang KPK selama ini juga tidak direspons sama sekali,” kata Novel kepada JawaPos.com, Kamis (20/6).

Novel berharap Polri menindak tegas para pelaku teror yang mengancam pimpinan dan para pegawai KPK. Novel menilai, sikap diam Polri sebagai sikap tidak mendukung upaya pemberantasan korupsi.

“Sikap diam dan tidak peduli ini yang kita herankan, apakah tidak dipahami bahwa itu menggambarkan tidak mendukung upaya pemberantasan korupsi, khususnya di KPK,” ucap Novel.

Di samping menunjukkan sikap tak mendukung upaya pemberantasan korupsi, menurut Novel, sikap diam Polri memunculkan dugaan lain. Dugaan itu yakni ada petinggi negara yang terlibat dalam kasus penyerangan terhadapnya.

“Apa lagi ini ada oknum petinggi, penegak hukum yang diduga terlibat terkait dengan banyak serangan atau teror terhadap orang-orang KPK, juga terhadap aktifis antikorupsi,” jelas Novel.

Sementara itu, Ketua Wadah Pegawai KPK, Yudi Purnomo menyatakan, hingga 800 hari pasca penyerangan Novel, KPK tidak pernah berhenti memerangi korupsi di Indonesia. Selama itu pula, tidak henti-hentinya ada serangan balik terhadap upaya pemberantasan korupsi yang ditujukan pada lembaga antirasuah.

“Munculnya isu baru bahwa adanya paham radikal di KPK menjadi pertanyaan besar yang tak terjawab dikarenakan tidak ada indikasi sama sekali bahwa kaum radikal tumbuh di KPK,” ungkap Yudi.

Yudi menegaskan, selama KPK berdiri sejak 2003 belum pernah ada personel KPK yang terafiliasi dengan kegiatan terorisme, organisasi terlarang, maupun menunjukkan kebencian terhadap agama, ras, maupun kelompok tertentu. Hal tersebut menimbulkan kecurigaan bahwa isu tersebut dimunculkan sebagai pengalihan isu atas berbagai persoalan yang hadir, termasuk kasus Novel.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Muhammad Ridwan



Close Ads