JawaPos Radar | Iklan Jitu

TGB Blak-blakan, Mulai duit Rp 1,165 Miliar sampai Rekening Istri

19 September 2018, 20:48:55 WIB | Editor: Imam Solehudin
TGB
Mantan Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang ketika memberikan keterangan pers di Jakarta, Rabu (19/9). TGB menjawab sejumlah isu terkini terkait berbagai persoalan. (Hendra Eka/JawaPos)
Share this

JawaPos.com - Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Zaenul Majdi alias Tuan Guru Bajang mengklarifikasi terkait uang senilai Rp 1,165 miliar. Uang tersebut ditransfer PT Recapital sebanyak dua kali ke rekening pribadi TGB pada tahun 2010. 

TGB mengatakan duit tersebut bukan fee pembelian 24 persen saham hasil divestasi Newmont. TGB menyebut uang itu merupakan uang pinjaman guna kepentingan pribadi yang mendesak.

Uang dipinjamkan oleh sahabatnya Rosan Roeslani yang merupakan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN), melalui rekening perusahaan.

"Transfer itu disebut Rp 1,165 miliar. Ditransfer dua kali ke saya pada tahun 2010. Untuk apa? Karena saya meminjam ke Bapak Roslan. Karena Beliau pada waktu satu dan lain hal, meminta agar diproses melalui perusahaan," ungkapnya saat ditemui, di Jakarta Selatan, Rabu (19/9).

Dia mengaku ada satu kebutuhan mendesak makanya meminjam uang tersebut. Awalnya, diakui mantan Politikus Demokrat itu akan sesegera mungkin dilunasi utangnya akhir tahun 2010.

Namun ternyata tak bisa, maka dibuatlah akad (perjanjian) jauh sebelum 2012. "Dibuat perjanjian sesuai dengan aturan berlaku. Walaupun Pak Roslan sahabat saya, tetapi kemudian dikenakan bunga," ungkap TGB.

"Saya tunduk dan kemudian terus berproses, alhamdulillah sudah saya lunasi pokok utang dan bunga. Perdata antara saya dengan entitas hukum sudah saya lunasi. Tidak ada hubungannya dengan negara dan keuangan negara," tambahnya.

Selain itu, pelunasan utang yang dibayarkan TGB di tahun 2018, namun akad (perjanjian) pelunasan utang sudah ditandatangani jauh sebelum itu yakni 2012. Baginya, sungguh aneh jika tiba-tiba perjanjian dibuat ketika ribut penyelidikan atau proses pengumpulan barang bukti kasus divestasi Newmont.

"2012 saya yakin saya tandatangan akad, dan semua hal yang terkait dengan masalah ini dimulai dari penyelidikan pada tahun 2018 bulan Mei, sebelum dimulainya proses penyelidikan atau proses pengumpulan keterangan dari KPK itu sudah dibuat perjanjian itu," imbuhnya.

"Setelah bulan Mei 2018 kemudian tergopoh-gopoh membuat surat perjanjian mungkin bisa dicurigai mungkin bisa dipertanyakan. Tapi faktanya jauh sekali, jauh sebelum itu," tukasnya.

Kemudian, dia juga membantah kabar mengenai dana yang mengalir ke rekening istri TGB merupakan penjualan saham Newmont. Uang yang mengalir ke rekening istrinya itu merupakan pendapatan pribadinya sebagai Gubernur.

"Mohon maaf, Itu adalah orang yang mengirim orang yang saya tugaskan. Sumbernya adalah seluruh pendapatan saya yang sah, baik sebagai gubernur, gaji tunjangan, honor, insentif pajak daerah. Apa semua yang disetor kemudian selalu dikaitkan dengan divestasi?," bebernya.

"Alhamdulilah saya bukan orang yang ketika belum jadi gubernur itu enggak punya apa-apa. Siapa pun yang datang ke NTB tahu latar belakang keluarga kami. Kami punya lembaga pendidikan yang kalau ditotal jumlahnya hampir 1.000, pondok pesantren di mana saya jadi pemimpin, ada 16 ribu santri," tuturnya.

(ipp/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up