JawaPos Radar | Iklan Jitu

Kabur Bawa Barbuk Duit Suap Rp 500 Juta

KPK Ultimatum Perantara Suap Bupati Labuhan Batu Menyerahkan Diri

19 Juli 2018, 01:55:59 WIB | Editor: Kuswandi
Saut Situmorang
Wakil Ketua KPK Saut Situmorang (kanan) didampingi Jubir KPK Febri Diansyah (kiri) menyampaikan keterangan pers perihal operasi tangkap tangan di Labuhanbatu, Sumatera Utara ketika konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (18/7). (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Tersangka dugaan kasus suap proyek-proyek di lingkungan Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, Umar Ritonga membawa kabur uang atau barang bukti dari tindak pidana korupsi. Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang mengatakan Umar melarikan diri saat akan diamankan.

"UMR orang kepercayaan Bupati (Labuhanbatu, Pangonal Harahap) melarikan diri saat akan diamankan KPK," ungkapnya saat menggelar konpers, di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (18/7).

Saut menjelaskan, lembaga antirasuah menduga Umar membawa kabur uang sebesar Rp 500 juta yang diberikan oleh Pemilik PT Binivan Konstruksi Abadi, Effendy Sahputra kepada Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap.

Gedung KPK
Gedung KPK Merah Putih (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

Kata Saut, Umar adalah sebagai perantara uang yang bersumber dari pencairan dana pembayaran proyek pembangunan RSUD Rantau Prapat Kabupaten Labuhanbatu. Dia pun memberikan ultimatum kepada Umar yang masih dalam pelarian untuk menyerahkan diri secepatnya.

"KPK memberikan peringatan agar UMR segera menyerahkan diri pada KPK," tegasnya.

Untuk diketahui, KPK sendiri sudah mengantongi bukti transaksi sebesar Rp 576 juta dalam kegiatan penindakan ini. Diduga uang tersebut merupakan bagian dari pemenuhan dari permintaan Bupati sekitar Rp 3 miliar.

Sementara sebelumnya sekitar bulan Juli 2018 diduga telah terjadi penyerahan cek sebesar Rp 1,5 miliar namun tidak berhasil dicairkan.

Sekadar informasi, lembaga antirasuah telah resmi menetapkan Bupati Labuhanbatu Pangonal Harahap bersama dengan PT Binivan Konstruksi Abadi Effendy Sahputra dan pihak swasta Umar Ritonga sebagai tersangka.

Sebagai pihak penerima, Pangonal Harahap dan Umar Ritonga disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 UU 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU 20/2001 juncto Pasal 55 (1) ke-1 KUHP.

Sementara sebagai pihak pemberi, Effendy Saputra yang merupakan pihak swasta disangkakan melanggar pasal melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 UU 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU 20/2001.

(ipp/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up