JawaPos Radar

Senior Pelaku Kekerasan Biasanya Korban Kekerasan Juga

19/05/2017, 18:48 WIB | Editor: Muhammad Syadri
Senior Pelaku Kekerasan Biasanya Korban Kekerasan Juga
Muhammad Adam, taruna Akpol yang tewas di tangan seniornya (doc Jawa Pos.com)
Share this

JawaPos.com - Tradisi turun menurun penganiayaan senior kepada junior terus berulang. Akibatnya nyawa pun melayang seperti Muhammad Adam, taruna Akademi Kepolisian di Semarang, Jawa Tengah. Adam tewas diduga dianiaya seniornya saat tengah mengikuti pembinaan fisik sebagai taruna tingkat II.

Psikolog Klinis Psikolog Klinis Liza Marielly Djaprie pembinaan dengan unsur kekerasan harus dihilangkan. Sebab kekerasan tidak bisa dibenarkan untuk melatih kedisiplinan. Pasalnya, korban kekerasan biasanya akan merasa dendam dan efeknya akan melampiaskan kepada orang lain lagi.

"Kekerasan kadang-kadang membantu tapi sejauh mana efektifnya. Ketika seseorang mengalami kekerasan, dampaknya adalah hanya dua, yaitu dia akan menolak atau balas dendam melampiaskan ke orang lain," katanya kepada JawaPos.com, Jumat (19/5).

Liza menilai saat ini kebanyakan pola ajar pamong-pamong keamanan seperti calon polisi dan TNI banyak dipenuhi unsur dendam dan kekerasan. Liza mengaku heran apakah tak ada cara lain yang lebih mendidik. "Senior-senior ini (korban) juga dulunya karena memang sudah turun menurun," tegasnya.

Liza menengarai mengapa pihak kampus tidak mengetahui adanya pembinaan yang melibatkan unsur kekerasan di dalamnya. Jikapun ada Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) atau pembinaan, kata dia, semestinya kampus mengetahui dan mengawasi.

"Kalau misalnya tahu, apakah tak ada intervensi dari pimpinan. Apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak.
Saya sih lebih mengkhawatirkan efek psikologis penerima kekerasan," ungkap Liza.

Menurut Liza hanya ada dua efek bagi korban kekerasan, yaitu menolak kekerasan sama sekali atau menjadi dendam. Jika menolak kekerasan, maka taruna tersebut akan tumbuh sebagai taruna yang melempem atau tak tegas di kemudian hari.

"Namun jika akhirnya justru dendam, maka si taruna akan penuh dengan dendam amarah di dalam dirinya. Sebab jika luka fisik kelihatan dengan jelas, tetapi luka psikologis kan di dalam maka enggak tahu juga," paparnya.

Luka akibat kekerasan, menurut Liza tak bisa hilang 100 persen dari ingatan seseorang korban kekerasan. Peristiwa itu akan terus terekam sepanjang usia meskipun setiap orang berbeda menanggapinya.

"Hilang total dari ingatan sih enggak. Sesuatu yang sudah dialami seseorang, itu sudah diserap sistem diri kita. Psikologis tergantung tiap orang menghadapinya. Bisa menetap 10 persen, ada juga yang menetap 5 persen di ingatan," tuturnya. (cr1/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up